prolog
Selalu saja ada dilema datang menghampiri cerita cinta anak manusia. Sulit menemukan cinta sejati yang pure tanpa pernah ada terbagi pada cinta yang lain. Begitu pun dengan kisahku yang terukir dengan dua cinta,yang sulit untuk menentukan sebuah pilihan. Tapi aku tak menyesali keadaan ini‑‑‑di mana harus ada cinta yang terikat satu dengan lain,dua pria dan satu wanita.
Namaku mandy Alicia soetomo. Aku gadis berusia 20 tahun,anak pertama dari satu bersaudara,atau bisa di bilang anak tunggal. Aku cewe berdarah Indonesia asli. Aku di kirim ke Maryland untuk study di sebuah universitas di Maryland. Aku tinggal bersama keluarga kerabat dari ayahku.
Dari kecil,passionku terhadap seni begitu tinggi. Sampai aku rela meninggalkan tanah airku untuk menimba ilmu dan mencari makna seni yang sebenarnya. Di sana aku mengalami sebuah kisah yang sampai kini terukir di jalan hidupku. Mencintai 2 pemuda yang entah sampai kapan tak bisa ku tentukan pilihan satu di antara mereka.
Ya dilema,terkadang perasaan itu datang. Ingin bisa memilih satu yang terbaik diantara yang baik. Tapi aku tak pernah bisa menegaskan hatiku untuk memilih. Aku terikat dengan kedua pemuda itu. Dilema itu benar-benar menghiasi kisah aku dan mereka,Kisah kami.
Aku menyayangi rob yang dulunya ku anggap sebagai kakak laki-lakiku. Dia menjagaku dengan seluruh jiwa raganya. Sementara di satu sisi,aku mencintai alex,dia mampu menenangkan hatiku setiap kali aku gundah. Semua typical pria impianku ada pada mereka berdua. Bertanggung jawab,penyayang,terima,aku apa adanya,yang terpenting mereka berdua mampu mengisi kekosongan dalam hidupku..
Ada yang tak sempurna ketika aku berjauhan dengan salah satu diantara mereka. Hidupku tak lengkap. Guratan cat di hatiku tak lagi indah. Separuh jiwaku kosong. Itu kenapa aku tak ingin memilih satu diantara mereka. Terlalu egois? Aku rasa tidak juga. Sudah banyak waktu yang terlewat dengan genangan air mata di antara aku dan mereka. Selama ini aku melukai hatikku untuk memikirkan sesuatu yang rumit antara aku dan mereka. Kini tdak lagi,kini saatnya menikmati cinta dari keduanya.
Selama tak ada yang merasa tersakiti atau menderita jalanani dan ikuti kemana arus kehidupan membawa cerita kami bermuara. Tak ada yang tau takdir dan jodoh. Jodoh di tangan tuhan. “kau tak akan bisa mengatur hatimu,sebelum kau mendapatkan pasangan hidupmu yang sesungguhnya”.
Kanvas cinta kami telah banyak di penuhi warna-warna yang membuatnya lebih tampak hidup dan nyata. Dulu aku yang mencintainya harus melepas ia untuk wanita yang ia pilih untuk mendampinginya. Sementara aku harus rela hidup berjauhan denganya,serta berkisah dengan pria lain yang mencintaiku dan akupun sebenarnya mencintainya tanpa mampu sedikitpun membuang bayang-bayang dia dari masa lalu di lembaran hidupku.
Ketika pelan-pelan aku berhasil melupakannya,dia datang dari masa lalu menawarkan cinta yang dulu sangat ku harapkan. Tapi aku harus jauh dari pemuda yang berhasil menyinari hidupku yang sempat gulita. 2 kali ku rasakan pedih yang sama,tapi justru itu yang kini semakin menguatkan kisah aku dan mereka.
Hanyutlah dalam arus deras yang membawa semua harapan dan kebahagian di ujung muara. Tak perlu melawannya, semakin kau melawan maka semakin kau tak akan pernah tau kebahagian yang sudah menunggu kedatangan kita di ujung sana. Kisah yang begitu special dan berharga kisah aku,dia,dan dirinya‑‑‑kisah kami.
JJJJJJ
pengakuaan
Cuaca tak begitu bersahabat pagi ini. Langit tak menunjukan tanda-tanda matahari akan bertengger,menyinari tanah baltimore. meskipun cuaca yang sangat mendukung untuk tetap meringkuk di balik selimut yang hangat,Tapi itu tak ku lakukan. Pagi-pagi buta aku sudah menjauh dari alam mimpi.
Aku sudah duduk di sofa beledu lembut‑‑‑berwarna merah dengan tepian berwarna hitam legam sambil memainkan jemari-jemariku pada 4 senar yang berupa kunci G-D-A-E yang di setel masing masing berbeda satu dengan yang lain menggunakan interval sempurna kelima.
Senar-senar yang terbuat dari usus domba yang dikeringkan itu di pelintir yang kemudian di kaitkan serta di rentangkan pada bagian ekor biola dan berpadu dengan gesekan busur biola naik turun menghasilkan nada-nada indah yang selalu mengisi kekosonganku.
Hampir setiap paginya ku mainkan benda kecil yang pada bagian permukaan atasnya terbuat dari kayu spruce. Pada bagian belakang dan lehernya terbuat dari kayu mapel dan papan jari yang di beri tonjolan menyerupai jembatan terbuat dari kayu eboni keras,bercat hitam berkilauan. Aku memang bercita-cita ingin menjadi pemain biola terkenal seperti vanessa mae,dan cewe-cewe penggesek biola yang tergabung dalam kelompok musik BOND.
Sedang asyik bergumul dengan biola ku‑‑‑‑Rob,cowo yang sudah ku anggap sebagai kakakku sejak aku tinggal bersamanya,meregangkan otot-ototnya di atas tempat tidurnya. Dia membuang pandanganya ke arahku. Ku tatap ia sejenak dan aku kembali memandang jemari-jemariku yang sedang menari dengan lincah di atas senar-senar biola. Dia bangkit dari tempat tidurnya,menapak menuju ke arah ku. kembali menyapa dengan senyum dan lesung pipi di sebelah kanan pipinya.
Di usapnya pelan rambutku dan di daratkan ciumannya tepat di atas ubun-ubunku,lalu dia melangkah menuju kamar mandi. Sedangkan diriku masih menyatukan hatiku dengan instrument gesek mungil kesayanganku. Ku hanyutkan semua rasa di dalam tiap nada yang ia hasilkan. Ku pejamkan mataku dan ku nikmati tiap alunan musiknya.
Tapi itu semua harus terusik. Buru-buru ku letakan biola di sofa dan aku bergegas menuju meja telpon,mengangkat telpon yang berdering,memecah konsentrasiku.
“halo.”sapaku
“rob ada?”tanya suara wanita dari seberang telpon.
“ntar gue panggil.”
Ku letakan gagang telpon di atas meja dan dengan malasnya aku berjalan ke arah kamar mandi untuk memanggil rob yang sedang beraktivitas di kamar mandi.
“rob!! ada cewe telpon tuh.”
Tak lama,dia keluar dari kamar mandi. Di tutupnya pintu kamar mandi pelan,di lemparkan senyumnya pada ku. dia melangkah menuju meja telpon. Sementara aku kembali berkutat dengan sepupu dari instrument gesek cello ini. Ku lirik dia sesaat yang sedang berbincang dan kembali fokus dengan nada-nada yang sedangku dendangkan.
Beberapa menit kemudian dia mengakhiri percakapannya. Dia keluar kamar dan kembali dengan semangkuk sereal di tangan kirinya dan secangkir susu di tangan kanannya. “bantuin dong,” protesnya ketika melihatku masih mengapit badan biola di leherku. Dia agak kesusahan membawa paket sarapan paginya ke dalam kamar.
Mendengar ocehannya,moodku hilang untuk kembali memainkan busur di atas senar-senar biola. Ku simpan biolaku di tempatnya dan ku letakan di atas tempat tidur. Aku bangkit dari sofa beludu merah yang tertata apik di kamar dan membantu rob membawa mangkuk serealnya.
Di seruput susu yang ada di tangannya. Segera ku serahkan kembali mangkuk serealnya yang putih polos,begitu dia menempelkan bokongnya di sofa beludu tempat aku bertengger sebelumnya. Di lahap sereal oats yang di jadikan menu sarapan paginya,sementara aku mengutak-atik remote tv yang tak mau bekerja.
Ku pukulkan remote ke sofa,tapi tetap tidak berfungsi. Ku lemparkan remote ke sebelah tubuhku dan ku sandarkan tubuh di sofa dengan sedikit keras. Ku tarik nafas dalam-dalam. “mungkin baterainya habis,” tukasnya sepintas dengan tetap menyantap sarapannya dan menyuapkan sesendok sereal ke mulutku. Ku buka mulutku menerima sesendok sereal darinya.
“kapan battlenya?” aku buka suara di sela-sela kunyahan.
“kemungkinan minggu depan.” jawabnya singkat
Dia kembali dengan mangkuk sereal dan aku menatap lurus ke arah kaca televisi. Tiba-tiba dia tersedak,Batuk-batuk gak karuan. Ku ambil mangkuk sereal dan ku berikan cangkir susunya.
“maka-nya kalo makan jangan kayak orang gak pernah makan 15 tahun gitu,”gerutuku sambil mengusap-usap punggungnya. “rakus loe!!!”
Tak terucap komentar dari mulutnya,mendengar gerutuanku. Ku kembalikan mangkuk sereal tak bermotif tersebut padanya,tapi tak lagi di santap sarapan pagi-nya.
Dia justru meletakannya di meja yang berada di samping sofa dan dengan cepat ia meraih tas punggungnya,kemudian menarikku untuk bergegas ke rumah simon.
“Eh,sebentar.” aku berlari meraih kotak biolaku.
Begitu kotak biola berada di tanganku,kami bergegas meninggalkan apartemen menuju ke kediaman simon untuk melakukan latihan dance rutin rob yang di lakukan 3 kali seminggu.
Sementara aku yang tak ikut dancing,hanya menjadi penonton budiman dan pastinya bermain bersama nada-nada dari biolakku.
Hari terus berganti,setiap harinya rob dan anggota dragon fly dancer berlatih keras,tanpa kenal lelah. Tibalah hari yang di tunggu rob dan anak-anak dragon fly dancer. Hari yang menentukan untuk career dance mereka. Hari di mana rob dan tim untuk battle dance. Yang berhadia uang tunai sebesar $3000 dan kontrak exclusive dengan station tv di las vegas. Semoga saja latihan selama ini gak akan menjadi sia-sia.
Di dalam hall,sembari menunggu giliran tampil. Mereka berdiskusi masalah koreo-koreo yang di sepakati untuk di tampilkan. Sementara aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik di tengah-tengah istilah-istilah yang sedang mereka bicarakan.
Tiba-tiba,di tengah perbincang datang seorang tamu tak di undang. Janet cewe sexy nan hot datang dan langsung bergelayut manja,serta tak ketinggalan ia mengalungkan tangannya di leher rob.
Sudah beberapa minggu ini janet dan rob dekat. Ingin sekali rasanya menolak kedekatan mereka,tapi aku tak punya alasan kuat untuk menolaknya. Tidak mungkin aku menggunakan alasan kalau aku mencintai rob untuk menolak kedekatan mereka,Itu sama dengan bunuh diri. Memang beberapa bulan terakhir ini ku aku,aku menyimpan perasaan special yang lebih dari seorang kakak pada rob. Aku tidak sadar kapan rasa ini datang. Perhatian dia padaku merubah segala perasaan ku padanya selama ini,yang hanya sebatas sayang seorang adik kepada kakaknya.
“sayang,udah perform ya?” Tanya janet dengan menambah tingkat kemanjaannya sambil mendaratkan ciuman di pipi rob.
“belum dong sayang,aku kan nungu kamu.” balas rob tak kalah genitnya.
Rasanya perutku mual seperti di aduk-aduk dengan keras. Untung tak ada kudapan dalam perutku,kalau tidak sudah kumuntahkan semua isi dalam perutku. Ya tuhan,sialnya aku harus menyaksikan pemandagan yang menjijkan ini. Coba saja ku bawa biolaku,setidaknya perhatianku bisa sedikit teralihkan dari pemandangan menjengkelkan di depan mataku ini.
“Oh,hei mandy!” sapanya.
Ku balas sapaannya dengan senyuman sekecut mungkin. Lalu ku palingkan wajahku ke arah harold. Dia menatapku heran dan melangkah mendekatiku.
“kenapa nie muka ketekuk kayak pantat brucie ?” Tanya Harold dengan guyonan,menyamakan wajahku dengan bokong milik brucie.
“Harold brengsek,di samakan muka gue sama pusat pembuangan kotoran anjing peliharaannya.” batinku.
Tak ku jawab pertanyaannya,hanya ku senderkan kepalaku di bahunya. Dari depan host berteriak memanggil dragon fly dancer,team dari rob untuk perform di dance floor. Rob,simon,harold,monica,sky,billy,edward,brooke dan albert dengan langkah pasti,jalan menuju lantai dansa. Tampak raut cemas di wajah mereka tapi sebisa mungkin mereka tutupi dengan kepercayaan diri mereka.
Dj mulai menunjukkan keahliannya nge-mix lagu chris brown bertajuk dueces di lanjutkan dengan lagu shake like your pom-pom miliknya missy Elliot dan di lanjutkan dengan how do you sleep milik si tampan jesse mccartney dan reff dari lagu hey-hey milik Alana hyland di padukan menjadi paket musik yang bener-benar memanjakan telinga.dan membangkitkan semangat.
perpaduan gerakan-gerakan yang di ciptakan dari ide kreatif masing-masing personal menjadi paduan yang begitu indah dan penuh semangat. Liukan tubuh sexy sky,gerakan luwes milik Harold,senyum monica yang menawan tak mungkin tidak mampu mencuri hati juri,penonton dan para voter.
Di tengah menikmati penampilan mereka ada sedikit rasa enggan di tinggal berdua dengan nenek sihir seksi ini,walau di kerumuni banyak orang,tetap saja jaraknya dan aku yang sangat dekat. Tapi tak apalah, toh dia tak mengusikku,apalagi lagu how do you sleep milik jesse menaikkan moodku. Tak sadar tubuhku ikut bergerak mengikuti alunan musik,serta tanganku,ku tepuk-tepukan pelan di atas pahaku.
Ku keluarkan ponsel mungilku.dari dalam sakuku Aku vote untuk dragon fly,dengan cara mengetik pesan singkat battle_dragon kirim ke 4454. Selesai memberi vote pada team rob. Ku amankan kembali ponselku ke dalam saku jeans hitamku. Kembali ku layangkan pandangan pada rob dan team yang sedang in action.
Di tengah performa dan moodku yang bagus,tiba-tiba janet berseru dan menbuat moodku seketika berubah 180 derajat.
“gue tau loe cinta sama dia!! Gue bisa liat dari tatapan mata loe ke dia.” Janet mengungkapkan pandangannya dan kecurigaanya tentang perasaanku pada rob. “Tiap dia alihkan pandangannya ke loe,mata loe berbinar bahagia.”
“What??? Benarkah sekentara itu,” tanyaku dalam hati.
“Tapi dengar,sebaiknya buang mimpi indah loe bersama rob karena dia Cuma nganggap loe adik. Adik,gak lebih!” nadanya meneggaskan.
Ku tatap dia dengan tatapan mata dengki,benci,iri, bercampur dalam sorot tajam mataku,sementara ia membalas dengan tatapan remeh kepadaku. Kami terus saling adu tatap sampai,rob selesai perform dan kembali pada kami berdua.
Dia segera mengalihkan tatapan sinisnya dariku “sayang,sumpah keren banget,” menyambut rob dengan manja tak lupa sebuah pelukan dan hujanan pujian.
Rob hanya tersenyum dan mencolek dagu sang nenek sihir sexy yang kini menempelkan dadanya yang berukuran sebesar papaya Bangkok itu ke dada rob. Semetara aku berusaha menahan cemburu yang bergolak di hatiku. Baik cemburu karena ulah yang dia lakukan pada rob. Aku juga cemburu pada ukuran dadanya yang luar binasa gedenya. Aku menatap miris pada dadaku.
“mandy,nie dah hampir tengah malam. loe lebih baik pulang istirahat,karena pengumuman finalnya harus nunggu sampai peserta semua selesai perform. Gue gak mau ntar loe kecapean.” Suara rob membuatku mengalihkan mataku dari kedua adikku[1]yang menderita gizi buruk.
“Iya,mandy! Gak usah khawatir,kan ada gue yang nemenin dia di sini.” tambah janet
“justru karena ada loe,gue takut rob ketularan binal kayak lo.” batinku memakinya.
“ya udah deh,terserah!” ku balikan badan dan melangkah menuju pintu keluar.
Tapi tiba-tiba rob teriak dan mendekati aku. “ntar,sampai rumah jangan buka pintu kalo bukan gue. Kunci pintu baik-baik,” tangannya menempel di kedua bagian pipiku.
Aku hanya mengangguk pertanda aku setuju dan mengerti maksudnya.
“ya udah,loe balik sama Harold. Dia berpaling kearah Harold, Yo,dude!!” dia melambaikan tangan pada Harold.
Harold berlari kecil kearah kami.
“loe antar dia pulang,kalo perlu temenin dia sampai gue balik.”
Harold hanya mengisyaratkan anggukan pelan dan 2 jempol yang mengacung ke atas,pertanda ia paham permintaan rob.
“nie kunci mobil.”
“gak,kita naik bus aja.” Tolakku halus.
“oh ok.”
Rob mencium keningku sebelum aku benar-benar keluar dari gedung. Begitu juga harold pun berpamitan dan dan mempertemukan kepalan tangannta pelan pada kepalan tangan rob.
Aku dan Harold melangkah keluar ruangan,menjejaki jengkal demi jengkal jalananan baltimore yang temaram di terangi lampu-lampu jalanan menuju stasiun bus terdekat. Di tengah perjalanan harold kembali melempar pertanyaan yang telah ia tanyakan sebelumnya padaku.
“loe kenapa sie,Dari tadi gak bersuara? Di rampok siapa suara loe?”
Aku hanya memberi sesimpul senyum padanya. Aku duduk di bangku stasiun sambil tetap memasang wajah murung dan menunggu bus. Aku sempat diam sejenak,sementara Harold masih menunggu jawabanku.
“ada yang mau gue akui.” ujarku mantap.
“wah asyik nie,bongkar-bongkar rahasia.” Candanya dengan suara yang menunjukkan antusiasme yang cukup bagus.
“gue,serius har!!!”
Harold tersenyum memandang wajahku yang ketat dan tegang. “weits,santai aja shawty!!” kembali dia berusaha mencairkan suasana yang ku buat menjadi lumayan tegang.
Aku diam dan lagi-lagi Harold menunggu pengakuan apa yang ingin ku ungkapkan padanya. Kentara wajahnya mulai tampak bersemangat dan penasaran.
“gue jatuh cinta sama rob.” akhirnya ku akui semua perasaan yang mengganjal beberapa bulan ini.
Dalam hitungan detik wajah harold berubah. Matanya terbelalak dan mulutnya menganga.
“gue tau ini gila,tapi gue juga gak bisa berbuat apa-apa.”
“tapi dy,dia udah kayak abang loe. Kalo dia tau gimana?” suara Harold berubah amat cemas dan sama stressnya denganku “Takutnya hubungan loe sama dia bakal gak baik.” dia mengkhawatirkan resiko yang mungkin terjadi jika rob tau yang sebenarnya dan aku juga memiliki ke khawatiran yang sama dengannya.
“maka-nya gue gak mau loe cerita sama dia. Gue gak siap kehilangan dia.”
Aku tertunduk,mataku mulai berkaca-kaca. Sebisa mungkin kutahan agar air mataku tidak mengalir keluar dari pelupuk mataku. Harold yang prihatin dengan keadaanku,mendekapku dalam pelukkannya.
“gue janji,ini hanya tuhan,gue dan loe yang tau. Loe berdua udah kayak saudara gue. Gue sayang sama loe kayak adik gue. Gue sedih kalo loe sedih.”
Hatiku masih berkecamuk,tapi untung ada harold yang menemaniku. Setidaknya dengan adanya dia masih ada yang berusaha meghiburku.
LLLLLLLLL