BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS

Minggu, 09 Januari 2011

LOVE IS THE ART PART 1

prolog
Selalu saja ada dilema datang menghampiri cerita cinta anak manusia. Sulit menemukan cinta sejati yang pure tanpa pernah ada terbagi pada cinta yang lain. Begitu pun dengan kisahku yang terukir dengan dua cinta,yang sulit untuk menentukan sebuah pilihan. Tapi aku tak menyesali keadaan ini‑‑‑di mana harus ada cinta yang terikat satu dengan lain,dua pria dan satu wanita.
Namaku mandy Alicia soetomo. Aku gadis berusia 20 tahun,anak pertama dari satu bersaudara,atau bisa di bilang anak tunggal. Aku cewe berdarah Indonesia asli. Aku di kirim ke Maryland untuk study di sebuah universitas di Maryland. Aku tinggal bersama keluarga kerabat dari ayahku.
Dari kecil,passionku terhadap seni begitu tinggi. Sampai aku rela meninggalkan tanah airku untuk menimba ilmu dan mencari makna seni yang sebenarnya. Di sana aku mengalami sebuah kisah yang sampai kini terukir di jalan hidupku. Mencintai 2 pemuda yang entah sampai kapan tak bisa ku tentukan pilihan satu di antara mereka.
Ya dilema,terkadang perasaan itu datang. Ingin bisa memilih satu yang terbaik diantara yang baik. Tapi aku tak pernah bisa menegaskan hatiku untuk memilih. Aku terikat dengan kedua pemuda itu. Dilema itu benar-benar menghiasi kisah aku dan mereka,Kisah kami.
Aku menyayangi rob yang dulunya ku anggap sebagai kakak laki-lakiku. Dia menjagaku dengan seluruh jiwa raganya. Sementara di satu sisi,aku mencintai alex,dia mampu menenangkan hatiku setiap kali aku gundah. Semua typical pria impianku ada pada mereka berdua. Bertanggung jawab,penyayang,terima,aku apa adanya,yang terpenting mereka berdua mampu mengisi kekosongan dalam hidupku..
Ada yang tak sempurna ketika aku berjauhan dengan salah satu diantara mereka. Hidupku tak lengkap. Guratan cat di hatiku tak lagi indah. Separuh jiwaku kosong. Itu kenapa aku tak ingin memilih satu diantara mereka. Terlalu egois? Aku rasa tidak juga. Sudah banyak waktu yang terlewat dengan genangan air mata di antara aku dan mereka. Selama ini aku melukai hatikku untuk memikirkan sesuatu yang rumit antara aku dan mereka. Kini tdak lagi,kini saatnya menikmati cinta dari keduanya.
Selama tak ada yang merasa tersakiti atau menderita jalanani dan ikuti kemana arus kehidupan membawa cerita kami bermuara. Tak ada yang tau takdir dan jodoh. Jodoh di tangan tuhan. “kau tak akan bisa mengatur hatimu,sebelum kau mendapatkan pasangan hidupmu yang sesungguhnya”.
Kanvas cinta kami telah banyak di penuhi warna-warna yang membuatnya lebih tampak hidup dan nyata. Dulu aku yang mencintainya harus melepas ia untuk wanita yang ia pilih untuk mendampinginya. Sementara aku harus rela hidup berjauhan denganya,serta berkisah dengan pria lain yang mencintaiku dan akupun sebenarnya mencintainya tanpa mampu sedikitpun membuang bayang-bayang dia dari masa lalu di lembaran hidupku.
Ketika pelan-pelan aku berhasil melupakannya,dia datang dari masa lalu menawarkan cinta yang dulu sangat ku harapkan. Tapi aku harus jauh dari pemuda yang berhasil menyinari hidupku yang sempat gulita. 2 kali ku rasakan pedih yang sama,tapi justru itu yang kini semakin menguatkan kisah aku dan mereka.
Hanyutlah dalam arus deras yang membawa semua harapan dan kebahagian di ujung muara. Tak perlu melawannya, semakin kau melawan maka semakin kau tak akan pernah tau kebahagian yang sudah menunggu kedatangan kita di ujung sana. Kisah yang begitu special dan berharga kisah aku,dia,dan dirinya‑‑‑kisah kami.
JJJJJJ


pengakuaan
Cuaca tak begitu bersahabat pagi ini. Langit tak menunjukan tanda-tanda matahari akan bertengger,menyinari tanah baltimore. meskipun cuaca yang sangat mendukung untuk tetap meringkuk di balik selimut yang hangat,Tapi itu tak ku lakukan. Pagi-pagi buta aku sudah menjauh dari alam mimpi.
Aku sudah duduk di sofa beledu lembut‑‑‑berwarna merah dengan tepian berwarna hitam legam sambil memainkan jemari-jemariku pada 4 senar yang berupa kunci G-D-A-E yang di setel masing masing berbeda satu dengan yang lain menggunakan interval sempurna kelima.
Senar-senar yang terbuat dari usus domba yang dikeringkan itu di pelintir yang kemudian di kaitkan serta di rentangkan pada bagian ekor biola dan berpadu dengan gesekan busur biola naik turun menghasilkan nada-nada indah yang selalu mengisi kekosonganku.
Hampir setiap paginya ku mainkan benda kecil yang pada bagian permukaan atasnya terbuat dari kayu spruce. Pada bagian belakang dan lehernya terbuat dari kayu mapel dan papan jari yang di beri tonjolan menyerupai jembatan terbuat dari kayu eboni keras,bercat hitam berkilauan. Aku memang bercita-cita ingin menjadi pemain biola terkenal seperti vanessa mae,dan cewe-cewe penggesek biola yang tergabung dalam kelompok musik BOND.
Sedang asyik bergumul dengan biola ku‑‑‑‑Rob,cowo yang sudah ku anggap sebagai kakakku sejak aku tinggal bersamanya,meregangkan otot-ototnya di atas tempat tidurnya. Dia membuang pandanganya ke arahku. Ku tatap ia sejenak dan aku kembali memandang jemari-jemariku yang sedang menari dengan lincah di atas senar-senar biola. Dia bangkit dari tempat tidurnya,menapak menuju ke arah ku. kembali menyapa dengan senyum dan lesung pipi di sebelah kanan pipinya.
Di usapnya pelan rambutku dan di daratkan ciumannya tepat di atas ubun-ubunku,lalu dia melangkah menuju kamar mandi. Sedangkan diriku masih menyatukan hatiku dengan instrument gesek mungil kesayanganku. Ku hanyutkan semua rasa di dalam tiap nada yang ia hasilkan. Ku pejamkan mataku dan ku nikmati tiap alunan musiknya.
Tapi itu semua harus terusik. Buru-buru ku letakan biola di sofa dan aku bergegas menuju meja telpon,mengangkat telpon yang berdering,memecah konsentrasiku.
“halo.”sapaku
“rob ada?”tanya suara wanita dari seberang telpon.
“ntar gue panggil.”
Ku letakan gagang telpon di atas meja dan dengan malasnya aku berjalan ke arah kamar mandi untuk memanggil rob yang sedang beraktivitas di kamar mandi.
“rob!! ada cewe telpon tuh.”
Tak lama,dia keluar dari kamar mandi. Di tutupnya pintu kamar mandi pelan,di lemparkan senyumnya pada ku. dia melangkah menuju meja telpon. Sementara aku kembali berkutat dengan sepupu dari instrument gesek cello ini. Ku lirik dia sesaat yang sedang berbincang dan kembali fokus dengan nada-nada yang sedangku dendangkan.
Beberapa menit kemudian dia mengakhiri percakapannya. Dia keluar kamar dan kembali dengan semangkuk sereal di tangan kirinya dan secangkir susu di tangan kanannya. “bantuin dong,” protesnya ketika melihatku masih mengapit badan biola di leherku. Dia agak kesusahan membawa paket sarapan paginya ke dalam kamar.
Mendengar ocehannya,moodku hilang untuk kembali memainkan busur di atas senar-senar biola. Ku simpan biolaku di tempatnya dan ku letakan di atas tempat tidur. Aku bangkit dari sofa beludu merah yang tertata apik di kamar dan membantu rob membawa mangkuk serealnya.
Di seruput susu yang ada di tangannya. Segera ku serahkan kembali mangkuk serealnya yang putih polos,begitu dia menempelkan bokongnya di sofa beludu tempat aku bertengger sebelumnya. Di lahap sereal oats yang di jadikan menu sarapan paginya,sementara aku mengutak-atik remote tv yang tak mau bekerja.
Ku pukulkan remote ke sofa,tapi tetap tidak berfungsi. Ku lemparkan remote ke sebelah tubuhku dan ku sandarkan tubuh di sofa dengan sedikit keras. Ku tarik nafas dalam-dalam. “mungkin baterainya habis,” tukasnya sepintas dengan tetap menyantap sarapannya dan menyuapkan sesendok sereal ke mulutku. Ku buka mulutku menerima sesendok sereal darinya.
“kapan battlenya?” aku buka suara di sela-sela kunyahan.
“kemungkinan minggu depan.” jawabnya singkat
Dia kembali dengan mangkuk sereal dan aku menatap lurus ke arah kaca televisi. Tiba-tiba dia tersedak,Batuk-batuk gak karuan. Ku ambil mangkuk sereal dan ku berikan cangkir susunya.
“maka-nya kalo makan jangan kayak orang gak pernah makan 15 tahun gitu,”gerutuku sambil mengusap-usap punggungnya. “rakus loe!!!”
Tak terucap komentar dari mulutnya,mendengar gerutuanku. Ku kembalikan mangkuk sereal tak bermotif tersebut padanya,tapi tak lagi di santap sarapan pagi-nya.
Dia justru meletakannya di meja yang berada di samping sofa dan dengan cepat ia meraih tas punggungnya,kemudian menarikku untuk bergegas ke rumah simon.
“Eh,sebentar.” aku berlari meraih kotak biolaku.
Begitu kotak biola berada di tanganku,kami bergegas meninggalkan apartemen menuju ke kediaman simon untuk melakukan latihan dance rutin rob yang di lakukan 3 kali seminggu.
Sementara aku yang tak ikut dancing,hanya menjadi penonton budiman dan pastinya bermain bersama nada-nada dari biolakku.
Hari terus berganti,setiap harinya rob dan anggota dragon fly dancer berlatih keras,tanpa kenal lelah. Tibalah hari yang di tunggu rob dan anak-anak dragon fly dancer. Hari yang menentukan untuk career dance mereka. Hari di mana rob dan tim untuk battle dance. Yang berhadia uang tunai sebesar $3000 dan kontrak exclusive dengan station tv di las vegas. Semoga saja latihan selama ini gak akan menjadi sia-sia.
Di dalam hall,sembari menunggu giliran tampil. Mereka berdiskusi masalah koreo-koreo yang di sepakati untuk di tampilkan. Sementara aku hanya bisa menjadi pendengar yang baik di tengah-tengah istilah-istilah yang sedang mereka bicarakan. 
Tiba-tiba,di tengah perbincang datang seorang tamu tak di undang. Janet cewe sexy nan hot datang dan langsung bergelayut manja,serta tak ketinggalan ia mengalungkan tangannya di leher rob.
Sudah beberapa minggu ini janet dan rob dekat. Ingin sekali rasanya menolak kedekatan mereka,tapi aku tak punya alasan kuat untuk menolaknya. Tidak mungkin aku menggunakan alasan kalau aku mencintai rob untuk menolak kedekatan mereka,Itu sama dengan bunuh diri. Memang beberapa bulan terakhir ini ku aku,aku menyimpan perasaan special yang lebih dari seorang kakak pada rob. Aku tidak sadar kapan rasa ini datang. Perhatian dia padaku merubah segala perasaan ku padanya selama ini,yang hanya sebatas sayang seorang adik kepada kakaknya.
“sayang,udah perform ya?” Tanya janet dengan menambah tingkat kemanjaannya sambil mendaratkan ciuman di pipi rob.
“belum dong sayang,aku kan nungu kamu.” balas rob tak kalah genitnya.
Rasanya perutku mual seperti di aduk-aduk dengan keras. Untung tak ada kudapan dalam perutku,kalau tidak sudah kumuntahkan semua isi dalam perutku. Ya tuhan,sialnya aku harus menyaksikan pemandagan yang menjijkan ini. Coba saja ku bawa biolaku,setidaknya perhatianku bisa sedikit teralihkan dari pemandangan menjengkelkan di depan mataku ini.
“Oh,hei mandy!” sapanya.
Ku balas sapaannya dengan senyuman sekecut mungkin. Lalu ku palingkan wajahku ke arah harold. Dia menatapku heran dan melangkah mendekatiku.
“kenapa nie muka ketekuk kayak pantat brucie ?” Tanya Harold dengan guyonan,menyamakan wajahku dengan bokong milik brucie.
“Harold brengsek,di samakan muka gue sama pusat pembuangan kotoran anjing peliharaannya.” batinku.
Tak ku jawab pertanyaannya,hanya ku senderkan kepalaku di bahunya. Dari depan host berteriak memanggil dragon fly dancer,team dari rob untuk perform di dance floor. Rob,simon,harold,monica,sky,billy,edward,brooke dan albert dengan langkah pasti,jalan menuju lantai dansa. Tampak raut cemas di wajah mereka tapi sebisa mungkin mereka tutupi dengan kepercayaan diri mereka.
Dj mulai menunjukkan keahliannya nge-mix lagu chris brown bertajuk dueces di lanjutkan dengan lagu shake like your pom-pom miliknya missy Elliot dan di lanjutkan dengan how do you sleep milik si tampan jesse mccartney dan reff dari lagu hey-hey milik Alana hyland di padukan menjadi paket musik yang bener-benar memanjakan telinga.dan membangkitkan semangat.
perpaduan gerakan-gerakan yang di ciptakan dari ide kreatif masing-masing personal menjadi paduan yang begitu indah dan penuh semangat. Liukan tubuh sexy sky,gerakan luwes milik Harold,senyum monica yang menawan tak mungkin tidak mampu mencuri hati juri,penonton dan para voter.
Di tengah menikmati penampilan mereka ada sedikit rasa enggan di tinggal berdua dengan nenek sihir seksi ini,walau di kerumuni banyak orang,tetap saja jaraknya dan aku yang sangat dekat. Tapi tak apalah, toh dia tak mengusikku,apalagi lagu how do you sleep milik jesse menaikkan moodku. Tak sadar tubuhku ikut bergerak mengikuti alunan musik,serta tanganku,ku tepuk-tepukan pelan di atas pahaku.  
Ku keluarkan ponsel mungilku.dari dalam sakuku Aku vote untuk dragon fly,dengan cara mengetik pesan singkat battle_dragon kirim ke 4454. Selesai memberi vote pada team rob. Ku amankan kembali ponselku ke dalam saku jeans hitamku. Kembali ku layangkan pandangan pada rob dan team yang sedang in action.
Di tengah performa dan moodku yang bagus,tiba-tiba janet berseru dan menbuat moodku seketika berubah 180 derajat.
“gue tau loe cinta sama dia!! Gue bisa liat dari tatapan mata loe ke dia.” Janet mengungkapkan pandangannya dan kecurigaanya tentang perasaanku pada rob. “Tiap dia alihkan pandangannya ke loe,mata loe berbinar bahagia.”
“What??? Benarkah sekentara itu,” tanyaku dalam hati.
“Tapi dengar,sebaiknya buang mimpi indah loe bersama rob karena dia Cuma nganggap loe adik. Adik,gak lebih!” nadanya meneggaskan.
Ku tatap dia dengan tatapan mata dengki,benci,iri, bercampur dalam sorot tajam mataku,sementara ia membalas dengan tatapan remeh kepadaku. Kami terus saling adu tatap sampai,rob selesai perform dan kembali pada kami berdua.
Dia segera mengalihkan tatapan sinisnya dariku “sayang,sumpah keren banget,” menyambut rob dengan manja tak lupa sebuah pelukan dan hujanan pujian.
Rob hanya tersenyum dan mencolek dagu sang nenek sihir sexy yang kini menempelkan dadanya yang berukuran sebesar papaya Bangkok itu ke dada rob. Semetara aku berusaha menahan cemburu yang bergolak di hatiku. Baik cemburu karena ulah yang dia lakukan pada rob. Aku juga cemburu pada ukuran dadanya yang luar binasa gedenya. Aku menatap miris pada dadaku.
“mandy,nie dah hampir tengah malam. loe lebih baik pulang istirahat,karena pengumuman finalnya harus nunggu sampai peserta semua selesai perform. Gue gak mau ntar loe kecapean.” Suara rob membuatku mengalihkan mataku dari kedua adikku[1]yang menderita gizi buruk.
“Iya,mandy! Gak usah khawatir,kan ada gue yang nemenin dia di sini.” tambah janet
“justru karena ada loe,gue takut rob ketularan binal kayak lo.” batinku memakinya.
“ya udah deh,terserah!” ku balikan badan dan melangkah menuju pintu keluar.
Tapi tiba-tiba rob teriak dan mendekati aku. “ntar,sampai rumah jangan buka pintu kalo bukan gue. Kunci pintu baik-baik,” tangannya menempel di kedua bagian pipiku.
Aku hanya mengangguk pertanda aku setuju dan mengerti maksudnya.
“ya udah,loe balik sama Harold. Dia berpaling kearah Harold, Yo,dude!!” dia melambaikan tangan pada Harold.
Harold berlari kecil kearah kami.
“loe antar dia pulang,kalo perlu temenin dia sampai gue balik.”
Harold hanya mengisyaratkan anggukan pelan dan 2 jempol yang mengacung ke atas,pertanda ia paham permintaan rob.
“nie kunci mobil.”
“gak,kita naik bus aja.” Tolakku halus.
“oh ok.”
Rob mencium keningku sebelum aku benar-benar keluar dari gedung. Begitu juga harold pun berpamitan dan dan mempertemukan kepalan tangannta pelan pada kepalan tangan rob.
Aku dan Harold melangkah keluar ruangan,menjejaki jengkal demi jengkal jalananan baltimore yang temaram di terangi lampu-lampu jalanan menuju stasiun bus terdekat. Di tengah perjalanan harold kembali melempar pertanyaan yang telah ia tanyakan sebelumnya padaku.
“loe kenapa sie,Dari tadi gak bersuara? Di rampok siapa suara loe?”
Aku hanya memberi sesimpul senyum padanya. Aku duduk di bangku stasiun sambil tetap memasang wajah murung dan menunggu bus. Aku sempat diam sejenak,sementara Harold masih menunggu jawabanku.
“ada yang mau gue akui.” ujarku mantap.
“wah asyik nie,bongkar-bongkar rahasia.” Candanya dengan suara yang menunjukkan antusiasme yang cukup bagus.
“gue,serius har!!!”
Harold tersenyum memandang wajahku yang ketat dan tegang. “weits,santai aja shawty!!” kembali dia berusaha mencairkan suasana yang ku buat menjadi lumayan tegang.
Aku diam dan lagi-lagi Harold menunggu pengakuan apa yang ingin ku ungkapkan padanya. Kentara wajahnya mulai tampak bersemangat dan penasaran.
“gue jatuh cinta sama rob.” akhirnya ku akui semua perasaan yang mengganjal beberapa bulan ini.
Dalam hitungan detik wajah harold berubah. Matanya terbelalak dan mulutnya menganga.
“gue tau ini gila,tapi gue juga gak bisa berbuat apa-apa.”
“tapi dy,dia udah kayak abang loe. Kalo dia tau gimana?” suara Harold berubah amat cemas dan sama stressnya denganku “Takutnya hubungan loe sama dia bakal gak baik.” dia mengkhawatirkan resiko yang mungkin terjadi jika rob tau yang sebenarnya dan aku juga memiliki ke khawatiran yang sama dengannya.
“maka-nya gue gak mau loe cerita sama dia. Gue gak siap kehilangan dia.”
Aku tertunduk,mataku mulai berkaca-kaca. Sebisa mungkin kutahan agar air mataku tidak mengalir keluar dari pelupuk mataku. Harold yang prihatin dengan keadaanku,mendekapku dalam pelukkannya.
“gue janji,ini hanya tuhan,gue dan loe yang tau. Loe berdua udah kayak saudara gue. Gue sayang sama loe kayak adik gue. Gue sedih kalo loe sedih.”
Hatiku masih berkecamuk,tapi untung ada harold yang menemaniku. Setidaknya dengan adanya dia masih ada yang berusaha meghiburku.
LLLLLLLLL


[1] Dada/payudara

rob come back to me................please

“kriiiiinggggg.” Bunyi telpon menggema ke seantero rumah.
“mir!!! Kuping kamu ke sumpel kain lap ya? Suara telpon segitu gede bisa gak kedengeran.” Teriak mamaku dari kamar mandi.
“bukan kain lap ma,tapi tali beha.” Balasku dengan masih tetap membiarkan teriakkan telpon menggema di seluruh isi rumah. Sementara aku sedang sibuk memencet-mencet remote tv.
“mira del biscuit.” Suara mama mulai meninggi.
“heh‑‑‑ iya mama.” Mau tak mau aku mengenyahkan bokongku dari karpet di depan tv dan menapaki lantai rumah yang bermotif ekor kuda liar menuju ke ruang telpon.
“ya‑‑‑‑halo!!! Kediaman keluarga Vincent del biscuit. Ada yang bisa saya bantu. Saat ini anda sedang berbicara dengan mira del biscuit,anak tunggal dari pasangan Vincent del biscuit dan poinem.” Aku menyapa dengan singkat pada sang penelpon.(kayak gitu di bilang singkat,panjangnya gimana ya?)
“kami dari pihak administrasi universitas doe coon international. Kami ingin memberi tahukan bahwasannya,mira del biscuit telah di terima sebagai mahasiswa di universitas kami dengan jurusan study obat-obatan dan racun-racunan.” Ujar suara dari seberang telpon.
“what,oh my god!!!” ujarku singkat dengan menggunakan logat artis blasteran jerman-cikampek chintah latura.
“untuk registrasi ulang,anda harus membawa fotocopy ijazah,transkip nilai, kalo mau fotocopy buku tabungan bank juga boleh. Paling lambat 1x24,98756 jam. Lewat dari waktu yang di tentukan,maka anda akan kami anggap gugur.”
“oh okay bapak,saya pasti akan registrasi ulang dengan tepat waktu.”
“baiklah kalau begitu.”
“terima kasih pak.”
“sama-sama!!! Oh iya satu lagi,jangan panggil saya bapak,panggil saja saya a’a. saya masih jomblo loe.” Promosi sang penelpon.
“mau loe jomblo,mau loe combro egp,it dl[1].” Batinku menanggapi omongan sang penelpon. “iya deh a’ makasar[2]ya.”
“oh okay,samarinda.[3].” dia segera menutup telponnya.
Begitu telpon bertengger rapi di tempat semula. Aku langsung berjingkrak-jingkrak gpt gj[4]. Mamaku yang sedang memandikan Antonio,kecoa peliharaan mamaku langsung keluar begitu mendengar lengkinganku dengan menggunakan tangga nada do kreis.
“ma……..ma……..” dengan gerakan slow motion aku berlari ke arah mama dengan gerakan yang cukup theateristict.
“kamu kena……pa….pa…pa….” masih dalam gerak slow motion.
“entar dulu ma…ma….ma…ma…,pelukan dulu….lu…lu….”
“oke deh kalau begitu….tu……tu…tu…..”
Dengan gerak slow motion aku semakin memperpendek jarakku dengan mama. 15 menit kemudian aku baru berhasil mendekap tubuh mama dengan sempurna.
“mama!!!” teriakku di kuping mama sambil lompat-lompat (slow motion mode off)
“kamu kenapa?” mama melempar pertanyaan yang sama.
“tebak dong.”
“alah paling kamu juga menang taruhan adu ikan cupang di komplek sebelah‑‑‑iyakan?” tebak mamaku asal.
“eits ma,ini lebih besar dari ikan cupang dan lebih berhar..ga.” ujarku dengan mimik serius seperti para artis sekelas meriem belanda.
“kalo bukan cupang,hmmmmmmmmm” mamaku sedang mengira-ngira apa yang membuatku senang “kamu di tembak sama kang urip ya? Tukang sapu komplek sebelah.”
“WHAT??? W.H.A.T,mama sembarangan deh.” Kini bibir seksiku maju beberapa centi mendengar ucapan mamaku.
“ya kalo gitu apa dong?”
“mama-aku di terima di universitas doe coon international.”
“yang bener sayang?” mama masih tak percaya.
“he-eh ma.” Aku menarik tangan mama. “gila ya ma,mimpiku untuk kuliah di universitas doe coon international tercapai juga.” Ocehku panjang kali lebar kali tinggi. “kok muka mama,kayak kulit jeruk purut gitu? Emang mama gak seneng aku masuk ke universitas bertaraf international itu? harusnya tuh ya‑‑mama bangga,gak semua orang bisa masuk ke kampus itu ma.”
Muka mama makin terlihat memprihatinkan “mama terharu.” Aku memeluk mama erat-erat. “ya ampun mama.”
“iya mama seneng,” dengan suara orang yang siap menumpahkan literan air mata. “tapi…..tuh liat,” mama menunduk dan matanya mengarah pada sesuatu berwarna coklat di bawah sandalku.
Ku angkat sebelah kakiku yang menginjak benda coklat kecil. “astaga.” Ternyata telah berpulang ke rahmatullah “Antonio jatmiko del biscuit” kecoa peliharaan mama yang tanpa sengaja terjatuh dari tangannya ketika aku menarik tangan mama. Sialnya,dia berakhir di bawah sandal trompa[5]ku. “antonio maafkan aku.” Sesalku teramat sangat.
Mama meratapi kepergian antonio yang telah di urusnya sejak berusia 2 bulan setengah menit. Mama menyesalkan kepergian antonio yang belum menikah dan memeberinya cucu kecoa. Mama nangis semalaman suntuk,sampai-sampai tidak makan. Untungnya mama sudah ngemil beberapa makanan kecil, seperti opor ayam, bakso mang komar,pecel ncing odah sama pecel lele yang di bawa papa dari spanyol.sebagai ole-ole. Paling tidak, mama tidak tidur dengan perut kosong.
Konsekuensi dari kecerobohanku,tidak ada sarapan pagi ini. aku dan papa memutuskan untuk sarapan di luar. Papa bilang,dia akan sarapan goreng pisang begitu tiba di spanyol. Papaku seorang pelatih bola sodok dari timnas spanyol,jadi setiap hari dia harus pulang-balik cikampek-spanyol.
Sementara aku buru-buru ke universitas doe coon international. Begitu sampai di kampus,aku bergegas ke ruang administrasi. Ku lengkapi segala file yang harus di lengkapi dari pada tidak di lengakapi sama sekali. Selesai berurusan dengan pihak administrasi. Aku keliling kampus mencari kantin. Begitu meneukannya‑‑‑Tanpa basa-basi aku segera berhambur ke meja-meja kosong yang belum bertuan.
“mas.” Panggilku pada seseorang yang berdiri di depan kasir yang terlihat berwajah pelayan.
“ada yang bisa di bantu mbak?” Tanyanya dengan pelan.
“saya mau pesan nasi blacan rendang jengkol‑‑‑‑oh iya lalapannya jangan lupa ya.”
“oh maaf mbak,saya bukan pelayan‑‑‑‑saya dosen seni rupa-rupa warnanya.di sini Saya lagi nunggu pesenan.”
“astaga naga bonar.” Pekikku dalam hati. Rasa malu menggelayutiku mendadak rasanya ketiakku bau asam,belekku masih nempel di mata, dan kuku kakiku hitam semua(bukan karena malu,emang tadi pagi gue gak mandi.) “maaf pak!!! Saya mahasiswa baru,jadi saya tidak tahu.”
“oh ndak apa-apa. Wajar muka saya emang muka mas-mas tukang becak,jadi its ok no problemo.” Tiba-tiba dia menjentikkan jarinya kepada seorang pelayan yang tampangnya bule banget. mukanya mirip banget sama pelantun lagu “babe” si justin bibir.. “nah ini pelayannya dan silahkan pesan dengannya,saya permisi dulu.” Pamitnya dan segera berlalu.
Sementara aku,cacing-cacing yang lagi arisan di perutku‑‑‑‑‑mendadak bubar. Rasa lapar lenyap seketika,melihat pelayan bule yang ada di depanku.
“sorry miss,what can I do for you?” ujarnya dengan sopan. Rasanya seperti ada efek bling-bling yang menghiasi wajahnya. Alunan musik milik Robbie William dan Nicole kidman menggema,menjadi backsound dari adeganku dan si bule. Setiap gerak bibirnya tampak begitu seksi di mataku di tambah efek slow motion. Tapi tiba-tiba
“hello.” Dia menjentikkan jari di depan wajahku. Dalam hitungan se-per setengah detik,backsound something stupid like I love you tergulung pita kasetnya. “have you any taken order miss.”
“ow sorry. Hmmmm no!!!” jawabku gugup hmm I think I wanna a cup coffee tube broke and rice with boil egg and hot blacan chili and don’t forget‑‑‑‑not use any longer.”
“oh okay,excusme miss.” Justin bibir imitasiku sedang menyiapkan menu sarapanku yang sebenarnya sudah masuk jam makan siang. Tanpa ba-bi-bu,bahkan lupa baca bismillah sesuap nasi telur sambel blacan telah memanjakkan lidahku. Sampai akhirnya tak butuh waktu lama untuk mengantarkan semua isi dalam piring ke dalam perutku.
Selesai segala urusan di kampusku. Aku segera kembali ke rumah,karena aku khawatir dengan keadaan mama yang masih bersendu sedan. Tapi apa yang ku dapat setelah sampai di rumah. Wajah mama 359,7888o berbeda dengan terakhir aku lihat tadi pagi. Mama sudah senyum-senyum sumringah seperti iklan pasta gigi persodent. Dia langsung menyambutku dengan bahagia. “miraaaaaaaaaaaaaaaaa.” Dia dengan semangat menyambutku. “kamu udah makan,tuh mama udah pepes lidah buaya kesukaan kamu.”
“mira baru makan ma,entar aja lagi deh. Tapi kenapa tiba-tiba mama jadi seneng gini?” aku mempertanyakan perihal ke gembiraan mama.
Mama tak menjawab,dia hanya menuntunku ke sebuah tempat. “tuh liat,mama di kasih peliharaan baru sama papa?” menunjukkan seekor cicak burik yang menurutku tak berharga,tapi mampu membuat mamaku melupakan antonio sang kecoak.. “tau gak,kata papa‑‑‑ini tuh cicak turunan angora sama Persia,baru mama yang punya.”
Aku hanya tersenyum menanggapi mama dan permisi untuk masuk ke kamar. “Dasar mama,emang kucing apa? Cicak ada yang turunan Persia sama angora.” Aku menggelengkan kepala gaya tumpul arwana lagi ajeb-ajeb.
Selesai masalah mama. Kini aku bisa konsentrasi pada masalah kuliah ku. seminggu setelah registrasi ulang,kami para mahasiswa baru di jadwalkan untuk mengikuti MPK[6]. Para mahasiswa mengikuti kegiatan mpk selama 3 hari. 2 hari masa mpk ku lalui dengan lancar. Pada hari ketiga,hari inagurasi para mahasiswa ke bali.
Bajaj-bajaj sudah parkir memenuhi lapangan parkir  kami sedang di absen oleh kakak panitia mpk. Tiba-tiba ada seorang kakak panitia yang datang menghampiriku. Yang kalau ku perhatikan dengan seksama dan dengan sebenar-benarnya,wajahnya mirip dengan actor bollywood terkenal sharung kan.
“aca aca kamu mira he?” Tanya kakak panitia yang ku lirik tanda pengenalnya terpampang namanya‑‑‑‑suraj jhual mahal.
“iya kak.”
“aca‑‑‑‑kamu he di bajaj sama siapa he?”
“gak tau kak.” Jawabku singkat.
“oh,aca aca mau kakak temeni gak he?” dia menawarkan dirinya untuk satu bajaj dengan ku saat perjalanan ke bali.
“kalo emang gak ada temenya,gak apa-apa deh‑‑‑‑‑tapi kakak bawa makanan ya,kalo gak bawa mending kakak gak usah satu bajaj samaku deh.”
“aca aca masalah makanan he,masalah kecil he.”
“lumayan,bekal gue bisa utuh sampai di bali nanti.” Ujarku dalam hati.
Sedang ngobrol dengan kak suraj jhual mahal,tiba-tiba suara sirine seperti ambulance berkumandang. Kami para peserta mpk yang hendak inagurasi di kumpulkan di depan auditorium. Dari ruang auditorium rektor doe coon international universitas keluar. Melambai-lambaikan tangan ala miss universe.
Dia mengucapkan sambutannya kepada para mahasiswa baru yang berhasil masuk ke doe coon international university cabang bojong kenyot. Sang rector meresmikan kami sebagai mahasiswa yang terdaftar di doe coon international university bojong kenyot,dengan ketuk martil 3 kali. Di sambut meriah oleh para mahasiswa dan mahasiswi.
Selesai sambutan dari rektor kami bergegas masuk ke dalam bajaj masing-masing. Beberapa menit menunggu,rombongan bajaj peserta inagurasi doe coon international university,bertolak dari bojong kenyot menuju bali. Bajaj,dengan menggunakan kekuatan turbo dan bisa menempuh kecepatan 250km/jam tak butuh waktu lama untuk sampai ke bali. Dalam waktu satu hari kami sudah sampai di pinggiran pantai kuta. Kami telah menyewa sebuah tempat sebagai tempat perkemahan. Sesampainya di sana kak suraj jual mahal permisi ingin menyelesaikan beberapa urusan dan berjanji akan kembali lagi. kakak Pembina memberi para mahasiswa beberapa peralatan untuk membangun tenda.
Aku yang memang tak berpengalaman dalam membangun sebuah tenda,hampir 1 jam tak selesai-selesai mendirikan tenda. Tiba-tiba ada seseorang dari belakang yang menawarkan bantuan. Aku berbalik‑‑‑kembali sebuah alunan music miliknya celine dion bertajuk I’m alive terdengar melatari peristiwa pertemuan dengan seseorang yang baru saja menyapaku. Cowo yang menyapaku ini ternyata adalah actor yang membintangi film tuilek bernama Robert parkitson dan dia mencuri seluruh perhatianku. Efek bling-bling muncul lagi di seputaran wajahnya.
“butuh bantuan.” Suara itu menyadarkan dan menghentikan suara indah celine dion ketika menembangkan lagu I’m alive di telingaku.
“butuh.” Jawabku dengan nada pasrah.
Begitu ku jawab tanpa basa-basi dia segera mengambil alih pendirian tendaku. Dalam waktu setengah jam tendaku sudah berdiri tegak. Selesai mendirikan tenda dia berdiri menatapku. Sempat ku lihat hampir semua cewe yang tendanya sudah berdiri,di robohkan kembali. “terima kasih rob.” Ujarku.
“sama-sama‑‑‑aku senang bisa membantu gadis manis seperti kamu. Sampai jumpa di acara api unggun nanti malam.” Ujarnya dengan senyum manisnya kemudian meninggalkanku dan para gadis yang patah hati karena harapan mereka akan di bantu oleh rob tak terwujud.
Aku masuk ke dalam tenda,aku beristirahat untuk persiapan api unggun malam ini. terlelap sejenak,aku terbangun dan ku lihat jam di ponselku yang sudah di set sama dengan jam di bali menunjukkan angka 5.50 wibb[7]. Aku bergegas menuju toilet untuk membersihkan diri. Selesai mandi dan berpakaian ala kadarnya aku kembali ke tenda.
Sedang mengeringkan rambut,ada suara yang memanggilku dari luar. Aku melongok keluar tenda. Robert parkitson sudah berada di depan tendaku,membawa sepiring sandwich isi sambel tuna plus pete, “kamu belum makankan? Nih ku bawakan sandwich,di makan ya.” Dia menyerahkkan piring beserta isinya. “see you later.” Dia pergi dan aku kembali ke dalam tenda.
“ya tuhan,inikah berkahmu padaku telah menjadi anak yang baik,tidak sombong dan rajin menabung?” batinku sambil melahap sandwich yang di bawakan Robert parkitson. Gak nyangka aku bisa satu kampus dengan salah satu actor terkenal dan beruntungnya dia memberiku perhatian lebih.
Waktu ngesot dengan cepatnya,kini jam sudah menunjukkan puku 7.25 lewat 3 detik. Aku sudah siap untuk acara api unggun. Aku mengambil posisi duduk tepat di depan pohon kelapa agar bisa bersandar. Dari jauh rob tampak melangkah memasuki area api unggun. Semua gadis sudah mengosongkan tempat di sampingnya. Berharap sang bintang duduk di sebelahnya.
Tapi ternyata sang bintang lebih memilih duduk di sebelahku. “hai.” Sapanya begitu menempelkan bokongnya di sampingku. “cantik banget malam ini.” pujinya.
“thanks.” Ujarku pelan. Aku melirik cewe-cewe di sekelilingku yang menatapku penuh iri,dengki,begitu juga dengan kak suraj jual mahal yang tampak cemburu dan meninggalkan area api unggun.
Tak butuh waktu lama untuk mengakrabkan diri dengan Robert parkitson. Cerita punya cerita ternyata dia telah mengetahuiku saat hari pertama pendaftaran ulang. Hanya saja dia gak pede saat itu,karena belum sikat gigi dan cukur bulu hidung. Jadi dia gak berani mendekatiku. Dia ternyata mengambil jurusan seni rupa-rupa warnanya di universitas doe coon international. Dalam waktu beberapa menit kami sudah membangun dunia kami sendiri.
Matanya tak pernah lepas menatap mataku. Walau ada belek di matanya,aku tak berani menegurnya. Aku tak mau merusak moment sempurna ini. detik kemudian dia menggenggam tanganku. aku menyandarkan kepala di bahunya. Acara api unggun di mulai. Kobaran api makin menambah suasana romantis antara aku dan rob.
Aku sempat bertanya tentang gossip hubungannya dengan kripten stepwarti. Rob bilang dia dan kripten hanya teman seprofesi tak lebih. tak ada rasa cinta untuk kripten,satu-satunya gadis yang ia cintai adalah aku. Aku terkejut mendengar pengakuannya. Tiba-tiba dia mengangkat wajahku. Dia memegang daguku,mendekatkan bibirku dengan bibirnya.
Tapi tiba-tiba ada suara yang memanggil namaku. Seketika suasana mendadak gelap gulita,kobaran api tiba-tiba padam. Aku di rundung kepanikan, “rob,Robert.” Teriakku. Aku berusaha mencari-carinya. “rob,” ku jeritkan namanya sekali lagi. tiba-tiba ada titikkan air yang menyiprati wajahku. Seberkas cahaya muncul dank u buka mataku.
“mama.” Pekikku ketika ku lihat mama ada di depanku. “ngapain mama nyusul aku ke bali.” Ujarku.
“ya elah neng neng,bali‑‑‑‑‑buka mata,liat kamu di mana?”
Ku hamburkan pandangan ke sekelilingku. Aku kucek mataku, “kok aku ada di kandang embek si mang dulloh? Robert mana?”
“ya belum bangun juga ni bocah‑‑‑‑mira kamu tuh mimpi apa sih,kok jadi kayak orang bloon gini? Di suruh angon kambing kok malah molor.”
What mimpi? jadi bali,Robert parkitsonku Cuma mimpi semu belaka? Oh no gak mungkin,ini pasti mimpi. Aku mencubit pipiku,sakit‑‑‑‑artinya
“tidaaaaaaaaaaaaaaakkk,rob come back to me,pleeeeeeeeaaaaaaaaaasssseeeeee.” Teriakku di kandang embek yang di sambut embikkan dari embek-embek peliharaan mamangku.

********************************


[1] Emang gue pikirin,itu derita loe.
[2] Makasih
[3] Sama-sama
[4] Gak penting,gak jelas
[5] Sandal kayu yang bercat merah,biasa di pakai di musholah untuk di gunakan mengambil wudhu.
[6] Masa pengenalan kampus.
[7] Waktu Indonesia bagian bali.