BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS

Kamis, 10 Maret 2011

love is the art part 6


Keluarga baru

“mandy,aku titip jose,kemungkinan aku tidak pulang. Aku menginap di rumah bibiku di luar kota—belum tau untuk berapa lama.  Alex mengantarku,mungkin dia tiba di rumah malam hari. Titip anak laki-lakiku ya.
Thanks sebelumnya by:laura

Paginya,kulihat jose masih terbuai dalam mimpi. Ku biarkan dia terpulas sementara aku keluar kamar menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Ku basuh wajahku dan ku sikat gigiku. Begitu selesai berbenah diri,aku melangkah menuju dapur. Tak ada seorangpun di rumah ini. Ekor mataku menangkap suatu benda persegi,kaku berwarna putih,tertempel di pintu icebox. Aku mendekat ke icebox,ku raih lembaran di icebox tersebut.


“mandy,aku titip jose,kemungkinan aku tidak pulang. Aku menginap di rumah bibiku di luar kota—belum tau untuk berapa lama.  Alex mengantarku,mungkin dia tiba di rumah malam hari. Titip anak laki-lakiku ya.
Thanks sebelumnya by:laura"

Aku menarik nafas sejenak. Ku remas kertas pelan-pelan dan ku lemparkan kekeranjang sampah. Aku bergeser ke sebelah kulkas untuk mengambil gelas. Aku buat secangkir teh manis hangat sebagai teman untuk roti yang ada di meja makan. Ku ambil sepotong roti,kemudian ku cuil sedikit dan kucelupkan ke dalam teh. Ku jejalkan roti ke dalam mulutku.
Sedang menikmati roti sarapanku,Tiba-tiba saja jose datang sambil mengusap-usap matanya dan merengek kecil. Dengan segera ku angkat tubuh kecilnya.
“aku mau susu.” ujarnya pelan.
“susu?” ujarku pelan. “mama simpan susu kamu dimana?” tanyaku.
Dia hanya menggelengkan kepala dan tetap mengusap-usap matanya. Aku mulai bingung,aku menggendongnya ke ruang tamu. Ku dudukan dia di sofa. Sementara aku membolak-balikan lembar demi lembar buku telpon mencari nomor alex atau laura,guna menanyakan keberadaan susu jose.
Alex—‑aku menemukan nama itu di buku telpon. Ku angkat gagang telpon dan ku tekan digit-digit nomor yang tertera di buku.
“446788011”,
Telpon terhubung—‑terdengar nada sambung miliknya phantom planet dengan tittle lonely day. Tidak berapa lama telpon pun di angkat
“halo,” sapa alex dari seberang.
“lex,ni gue mandy—‑ehm gue mau tanya susu jose di mana ya,dia nangis minta susu nie.”
“halo” suara berganti menjadi suara laura.
“laura,susu jose di mana?”
“oh,di lemari di samping kanan kulkas‑—yang wadah tutupnya biru. Botolnya juga ada di sana.”
“okay deh,thanks laura. Have a nice trip.” ku akhiri pembicaraan dengan laura. Ku letakan kembali gagang telpon di tempatnya.
Ku angkat lagi jose menuju ke dapur. Ku dudukan dia di kursi makan. Ku buka lemari di samping lemari pendingin. Ku temukan wadah susu bertutup biru beserta botol minum susunya.
Dengan segera ku buatkan susu untuk jose. Ku pangku dia dan dengan lahapnya di meneguk susunya sampai habis. Selesai minum kami sarapan bersama. Selesai sarapan kami mandi. Berjam-jam kami habiskan di bathup bermain air dan bermain dengan bebek-bebek karet lainnya. Selesai mandi dan berpakaian lengkap—‑jose meminta di putarkan vcd fairly odd parent.
Ku putarkan vcd cartoon yang menceritakan seorang anak lelaki yang memiliki orang tua peri. Terlalu asyik berbaring sambil nonton,lama-kelamaan kantuk menyerang,lagi-lagi kami tertidur berdua. Entah berapa lama kami terlelap,begitu terbangun—‑jarum jam menunjukan angka 2.15 siang,jose masih terlelap. Aku bangkit kembali menuju dapur. Aku masak sup brokoli untuk makan siang yang sebenarnya sudah lewat.
Perutku yang keroncongan semakin berderu begitu mencium aroma sup yang sangat mengundang selera. Ku sendok sup ke mangkuk. Aku duduk di kursi makan dan makan siang sendiri. Teringat kembali masa-masa bersama rob. Makan siang yang hampir setiap harinya ku habiskan berdua dengannya. Ya tuhan,aku merindukan rob-ku.
Aku rindu dia,mata birunya,rambut blondenya,lesung pipi di sebelah kanan pipinys,harum tubuhnya,perhatiannya,senyumnya,pelukannya,aku rindu semua yang ada pada dirinya. Sepi rasanya tanpa dia. Tapi aku hars survive,aku harus melupakannya. Ku selesaikan makan siangku,kemudian kembali kepada jose yang mulai menggerakan badannya ke kanan dan ke kiri. Menarik kaki dan tangannya,meregangkan otot-ototnya,lalu menguap lebar-lebar.
Aku tertawa kecil melihat tingkahnya. Aku dekati dia dan ku cium pipinya. Dia melingkarkan kedua tangannya di leher ku dan membalas ciumanku.
“makan yuk sayang.”
Jose hanya menggelengkan kepala menolak untuk makan siang.
“makan ya,kamu belum makan dari tadi.” ujarku
“susu.” Rengeknya.
“ih makan dulu ya.” aku sedikit memaksa.aku khawatir dia akan sakit bila tak makan.
“gak mau” dia menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
Aku mulai bingung—‑akhirnya pelan-pelan ku rayu dia.
“sayang,kamu sayang tante gak?”
Dia mengangguk mantap
“terus,kamu sedih gak kalo tante sedih?”
Lagi-lagi dia mengangguk.
“kalo kamu gak makan,terus kamu sakit‑—ntar tante sedih loh.”
Dia diam sejenak dan menunduk. “yes” girang ku dalam hati
“susuuuuuuu” teriaknya tiba-tiba.
“adoh nie bocah” ujarku kesal kesal dalam hati.
“sayang kita makan dulu ya baru minum susu.”
“gak.” Tegasnya sekali lagi padaku.
Aku benar-benar bingung—tapi aku dapat ide.
“huaaaaakkkkkkkk” aku tutup wajahku dengan kedua tanganku dan pura-pura menangis.
“jose,jahat‑—dia gak mau makan,dia buat aku sedih” aku atur suaraku sedikit terisak.
Dia menarik pelan tanganku,tapi ku tarik lagi tanganku. Ku lihat dari sela-sela jemariku,dia bangkit kedepanku. Dia memegang kedua tanganku.dan berujar,
“tante—‑aku sayang tante,iya deh aku makan.”
Baru pelan-pelan aku membuka kedua tanganku. Kulihat matanya yang berbinar-binar. Dia langsung menghambur dalam pelukanku. Ku angkat dia ke sofa. Ku dudukan dia,sementara aku ke dapur mengambil sup makan siangnya. Ku tuangkan sop brokoli ke dalam mangkuk bermotif cartoon timmy turner. Sepertinya anak ini penggemar tokoh cartoon dengan 2 buah gigi seri besr tepat di gigi bagian depan.
Aku kembali mendatanginya dengan semangkuk sup brokoli buatanku. Ku suapi dia sambil kami selingin dengan canda tawa. Pelan-pelan tapi pasti dia habiskan makan siangnya sampai tak bersisa. Selesai makan,ku bawa dia ke kamarnya. Kami habiskan waktu di kamar bermain. Lelah bermain,ku bawa dia membersihkan diri.
Tepat pukul 5,selesai mandi dan telah berpakaian rapi. Dering telpon menggema di seisi rumah. Kami berdua berlari menuju ruang tamu. Ku angkat gagang telpon dank u templekan ke daun telingaku.
“halo” sapaku “kediaman keluarga laura Collin.”
“mandy‑—ni gue alex. Loe bisa gak ke restaurant el rico di kota. Kita makan malam di luar aja yuk. Gue udah pesan tempat di el rico.
“okey,gue siap-siap dulu” ujarku dan ku tutup telpon.
ku angkat jose ke kamarnya. Ku ganti costumnya. Selesai jose berganti costum,giliran ku merubah tampilanku. Kini—‑ready to go. Dengan mantap ku langkahkan kaki keluar rumah. Sempat lama menunggu,tak ada satupun taxi yang lewat. 15 menit kemudian,tampak sebuah mobil sedan berwarna hitam‑‑‑‑bertuliskan TAXI di atas atapnya.
Untung masih ada sedikit uangku yang tersisa di kantong jeans ku‑‑‑‑yang ku bawa dari Baltimore,ya cukuplah—‑bahkan lebih bila hanya untuk membayar ongkos taxi. Taxi melaju ke alamat yang ku tujukan. Hanya butuh waktu 20 menit ke restaurant el rico. Tampak dari kejauhan alex menebar pandangannya ke kanan dan ke kiri,menunggu di tepi jalan. Taxi berhenti tepat di hadapannya. Ketika dia menyadari taxi yang berhenti di depannya di tumpangi aku dan jose,dia buru-buru membukakan pintu.
“trims.” ujarku singkat sembari mengangkat jose keluar dari taxi.
Dia hanya membalasnya dengan senyum extra gulanya. Di sambarnya jose dan kini jose berpindah di gendongannya. Ku lihat sekilas jose hampir mirip dengan alex. Hanya beda di rambut dagu dan warna kulit.Rambut alex sedikit gelap dan dagu alex terbelah,serta warna kulit yang agak coklat. Sementara rambut jose agak sedikit blonde dan dagu jose tidak terbelah dan jose sedikit memiliki wajah khas orang-orang spanyol.
Tak heran wajah jose identik dengan wajah orang spanyol,karena ayah jose memang asli spanyol. Alex sudah memesan tempat sebelum kami datang. Tempat ini begitu ramai. Kesan elegan tapi tak terlalu luxury kesan yang ku dapat dari restaurant ini. Kami segera di sambut pelayan yang sangat ramah. Dia mengantar kami yang telah di pesan alex sebelumnya. Dengan sopannya ia bertanya menu dinner yang ingin kami santap malam ini. Setelah beberapa menit membolak-balikan buku menu dan menimbang-nimbang makanan malam yang ingin di nikmati,aku dan alex sepakat memilih paket makan malam yang kata alex ini menu makanan malam spanyol yang lengkap. Jujur aku gak tau jenis makanan apa itu. Nama makanan tersebut di tulis dengan bahasa spanyol,yang asing di mataku. Selesai mencatat pesanan,sang pelayang segera lenyap dari pandangan kami.
“loe suka makanan spanyol?” tanyaku tak lama setelah pelayan pergi.
“ya gitu deh.” ujarnya mengangkat bahu dan sedikit mengerucutkan bibir tipisnya “sejak kakak gue nikah dengan si spanyol itu—‑di rumah sering di suguhkan masakan spanyol. Awalnya gue gak begitu suka,tapi lama-kelamaan kayaknya gue ngerasa ada taste yang beda aja. “Kayaknya perpaduan bumbu-bumbunya itu terasa sexy di lidah gue.”
Aku tersentak dan menahan tawaku. “loe itu ya,ada-ada aja‑‑‑loe kira paris Hilton,sexy” sudut bibirku tertarik ke belakang mengembangkan sebuah senyuman.
Dia memandangiku,nyaris tanpa kedipan. Awalnya aku biasa saja. Sampai tiba pada titik puncak kerisihanku. Aku berdeham kecil sebanyak dua kali. Dia tersentak dan segera membuang pandangannya. Tampak wajahnya bersemu merah dan salah tingkah dan membuang pandangannya ke jose.
Tak lama kemudian sang pelayan datang mengantar makan malam kami. “selamat menikmati,” ujarnya dengan keramahan yang tak kurang dari sebelumnya.
Kami berdua sama-sama membalas senyum ramah dari sang pelayan yang kalau ku perhatikan‑‑‑‑wajahnya mirip dengan pemeran Nathan dalam film American pie ‘the book of love’ Kevin .M. Horton. Berhubung pada saat itu kami sama-sama lapar. Tanpa basa-basi terlalu lama,segera saja kami santap makanan di hadapan kami. Begitu juga dengan jose. Ternyata lidahnya cukup familiar dengan rasa makanan yang‑—benar kata alex rasanya agak aneh di lidah,tapi emang punya ciri khas yang jadikan dia lebih “sexy.”
Kini makanan yang tersedia di piring telah berpindah ke dalam perut kami. Selepas makan—‑makanan berat,kini saat untuk menyantap desert. hanya beberapa potong buah yang ku santap,karena perutku tak mampu lagi memuat makanan yang masih tersedia. Ku sandarkan tubuhku sambil menarik nafas panjang dan memegangi perutku.
“gila,kenyang banget gue.”
“yah payah loe,baru makanan segini aja udah kekenyangan. Gue masih sanggup,makan satu paket lengkap lagi.” pamernya atas kemampuannya.
“ya kalo loe sih gak heran, badan loe aja segitu gedenya.” Balasku.
Dia hanya kembali tersenyum. Dia mengalihkan pandanganya pada jose. Dia menggangu keponakan laki-lakinya yang tengah asyik menyantap potong-demi potong buah yang di sajikan. Sebenarnya ada yang mengganjal di hatiku. Mereka tidak pernah sama sekali menyebut-nyebut tentang ayah jose. Sejak aku datang aku hanya mendapat penjelasan tentang orang tua mereka yang telah tiada dan penjelasan laura pertama kali serta satu-satunya tentang ayah jose yang merupakan warga spanyol asli. Ketika aku mmpertanya tentang nama yang di sandang jose,kental dengan aroma spanyol.
Akhirnya aku nekat bertanya pada alex “lex,aku boleh tanya sesuatu?”
“hmm” jawabnya masih terus menggoda jose.
Sesaat aku ragu,aku diam,tapi rasa penasaran mendorong bibirku berujar “papa jose di mana?”
Dia terpaku,pelan-pelan dia mengangkat badanya dari posisi merunduk kepada jose dan kini aku dan dia telah saling melempar pandang. Di matanya tampak bercampur macam-macam ekspresi. Rasa marah bercampur kesedihan yang—‑cukup membuatku merasa bersalah telah bertanya,sebuah pertanyaan yang bisa di katakana urusan prvasi keluarga.
“ya udah gak usah di jawab deh. Maaf lex,gue lancang Tanya hal ini sama loe‑‑‑‑inikan masalh keluarga dan gue bukan keluarga loe.”
“gak,” dia membuka suara “loe gak perlu ngerasa bersalah,loe udah bagian dari keluarga ini dan loe berhak tau.” Dia diam sejenak,dia mengatur nafasnya dan mulai bercerita. “papa jose menikah lagi dan ninggalin kakak gue kira-kira beberapa bulan yang lalu.
“alasannya,”
“dia bilang mereka gak cocok,setelah 7 tahun menjalani rumah tangga yang sebelumnya baik-baik saja,” tampak raut sedih di wajahnya “itu kenapa‑—gue enggan menyebut namanya‑‑‑‑‑amarah gue ngebuncah tiap ingat and dengar namanya.”
Rasa bersalah menyelubungi hatiku, aku telah mmembuka luka yang sedang berusaha ia tutup. Penjalasaan ini sudah cukup buatku. Laura yang begitu baik harus menerima ujian seperti ini dan dia mampu bertahan. Satu pelajaran yang ku dapat, laura bisa bertahan dengan segala badai yang menerpa hidupnya,kenapa aku tidak? Aku harus bisa!!! Aku dan alex tak melontarkan kata-kata satu dengan lainnya,Sampai akhirnya dia mengajakku untuk pulang. “ya udah yuk balik,udah lumayan larut‑‑‑‑mata jose udah tinggal beberapa watt lagi nih,” ujarnya mencoba mencairkan suasana yang sempat beku.
Aku tersenyum dan meluluskan permintaanya. Aku bangkit dari kursi,di ikuti olehnya. Dia menggendong jose keluar dari el rico dan aku mebuntuti tepat di belakangnya. Tapi kali ini pikiran ku mengawang-awang pada rob. Baru saja aku bertekad untuk bertahan tanpanya dan melupakannya,hatiku kembali tak tegas. Aku rindu sekali padanya. Aku tak bisa melupakannya,tapi aku harus tetap melupakannya. Dia telah bahagia dengan wanita yang di pilihnya untuk mendampingi hri-harinya tanpaku.
Aku yang sedang asyik melamunkan rob,tak sadar alex menghentikan langkahnya. Tentu saja aku menabraknya.
“aduh,” rasanya aku seperti menabrak tembok. “Tubuh bocah ini keras banget”batinku. Bahkan badan rob masih sedikit berlemak di banding alex yang terlihat begitu profosional. Lagi,rob kembali melintas di pikiranku.
Dia tersenyum menatapku. “loe kalo mau ngelamun ntar di rumah aja,” ujarnya. “gue mau ambil mobil dulu,gendong jose dulu deh,” dia menyerahkan jose padaku. Jose menyandarkan kepalanya di bahuku. Matanya yang di katakana alex telah berdaya 5 watt kini tak memiliki daya lagi untuk tetap terjaga. Ku belai rambutnya. Batin ku kembali meratap miris menyaksikan jose harus sudah menghadapi kenyataanya,di usia sekecil ini harus hidup dengan orang tua yang membuatnya dengan cinta,tapi masing-masing hidup berjauhan, bahkan sang ayah mebagi cintanya pada wanita lain.
Ternyata nasib ku dan jose tak jauh berbeda. Aku harus hidup jauh dari seseorang yang telah memberiku cinta dan membuatku mencintainya. Tapi jose masih punya keluarga yang begitu mencintainya. Sementara aku—‑keluargaku ada di indonesia. Rob lah satu-satunya keluargaku dan merangkap sebagai pria pujaanku.
Terdengar bunyi klakson yang memekan telinga. Aku baru sadar itu alex,ternyata berkali-kali sudah dia membunyikan klaksonnya untukku.. Aku bergegas lari menuju mobil,begitu aku terjaga dari lamunanku. Begitu ku banting pintu Suzuki baleno hitam milik alex dengan cepat mobil meninggalkan el rico.
Di perjalanan aku dan alex hanya sesekali berbincang. Ku usap rambut jose yang sedikit basah karena keringat. Si kecil ini sudah damai dalam mimpinya. Ku sunggingkan senyum simpul menatap wajah polos nya. Banyak pelajaran yang ku dapat dari keluarga ini. laura‑‑‑‑kehilangan cinta tak membuatnya terpuruk,dia mampu menghargai dirinya dan mencintai dirinya. Mungkin itu yang membuat hidup dia tampak bahagia,walau tak ada suami di sampingnya.
Begitu sesampainya di rumah ku baringkan dia di peraduannya. Ku kecup keningnya dan ku biarkan dia membangun mimpinya. Aku keluar menuju ruang tamu,jemari alex berkutat dengan tombol-tombol remote. Aku duduk tepat di sampingnya.
“kapan laura pulang,” tanyaku basa-basi.
“belum tau,” ujarnya menggeleng pelan.
Kembali suasana senyap. Hanya terdengar suara orang-orang dari dalam layar kaca.datar di depan kami.
“loe sebenarnya kenapa sih kabur dari rumah?” tiba-tiba dia membuka suara.
Aku diam,tertunduk. Bingung apa aku harus menjelaskan semuanya. Malu rasanya menceritakan kebodohanku mencintai seseorang yang seharusnya tak boleh ku cintai. Aku tetap tak bergeming. Mataku kembali menatap layar televise. Kepalaku sedang berputar,berusaha mencari-cari keberanian untuk menceritakkan semuanya.
“maaf dy,gue lancang ya?”
“oh gak,” aku mengalihkan pandangan ke arahnya dan tersenyum “gue hanya lagi berusaha mengumpulkan kekuatan untuk nyeritain ini ke loe,”
“ya udah kalo emang loe belum bisa cerita,gak perlu di paksa. Gue gak mau liat loe sedih,”
“gak apa-apa lex,gue juga butuh berbagi beban di hati gue‑‑‑‑toh loe bilang gue udah dari bagian dari keluarga loe. Kalo begitu loee berhak tau,” ujarku mantap.
Alex mengecilkan volume televise dan meletakkan remote di meja. Dia memutar posisisi tubuhnya menghadap kea rah ku dan menunggu.
“gue udah pernah ceritakan kalo gue datang dari indonesia. Gue mutusin kuliah seni di Maryland institute college of art. Kebetulan bokap gue punya temen yang anaknya juga kuliah di MICA,dia senior gue 3 tahun,jadi gue di titipin sama dia. Namanya rob, dia begitu sayang sama gue—‑dia udah nganggep gue layaknya adik sendiri. Yang emang sebenernya dia gak punya adik,” aku hentikan ceritaku sejenak. Ku lirik alex yang tampak antusias dengan ceritaku. Dia masih menungguku melanjutkan kisahku. “singkatnya kita deket,kayak kakak adik,sampai akhirnya gue menyimpan suatu perasaan lebih dari seorang kakak,”
“maksud loe,loe jatuh cinta sama dia?” nada terkejut kentara di nada suaranya.
Ku anggukan pelan kepalaku. “tapi cinta gue gak terbalas,dia bener-bener nganggap gue adiknya. Dia jadian sama cewe lain,”
“oh,syukurlah,” samar-samar sepertinya aku mendengar ucapan itu keluar dari mulutnya.
“apa?”  Tanya ku
“oh, gak—terus,” alihnya kembali pada kisahku
“gue gak sanggup melihat mereka bahagia,jadi gue putuskan untuk mejauhinya. Dengan harapan,ketika gue kembali gue udah menghapusnya dari hati gue,”
“gue yakin loe bisa,” ujaranya dengan senyum yang mampu membantu hatiku meredam kesedihan yang sedang bergejolak.
Entah kenapa kepalaku reflex menyandarkan kepalaku di bahunya. Aku lelah memikul masalahku sendiri. Tanganya mengusap pelan kepalaku. Ku pejamkan mataku. Butiran Kristal menetes dari mataku. Isakku terdengar oleh alex. Di angkatnya kepalaku.
“loe jangan nangis,loe gak sendiri—‑ada gue,laura,jose. Kita keluarga loe sekarang. Gue janji,gak bakal ada orang lain yang ngelukain loe lagi dan loe harus buktiin kalo loe itu kuat,”
Matanya bener meneduhkan hatiku,di tambah senyumnya yang menyala,menerangi sisi gelap batinku. Ku benamkan kepalaku di dadanya. Kembali jemarinya bermain di helai-helai rambutku. Menyusup kedalam lembaran-lembaran rambutku yang legam. Rasanya nyaman berada di pelukannya hingga tanpa sadar pelan-pelan ku pejamkan mataku dan aku tertidur di pelukannya. Aroma tubuhnya menyeruak dalam rongga hidungku yang pelan-pelan menggantikan bau tubuh rob.
Sepertinya aku sedang dalam masa adaptasi. Tapi dalam masa adaptasi ini ada secuil rasa yang bermain di hatiku.tapi aku ragu‑‑‑‑rasa apa ini sebenarnya? Aku tidak mau terfokus pada rasa itu,aku hanya sedang berusaha membiasakan dengan bau tubuh alex yang ku harap bisa menggantikan bau tubuh rob yang masih terpatri jelas dalam indra penciumanku,hati serta pikiranku.