Belahan jiwa
Sinar matahari menyapu wajahku dengan sinar dan kehangatnya. Menyusup dari sela-sela jendela. Pelan-pelan ku buka mata,aku kerjap-kerjapkan dan ku usap pelan mataku untuk memperjelas penglihatanku. Ternyata aku sudah berada di dalam kamarku. Aku bangkit dari tempat tidurku. Ku dengar suara riuh dari ruang tamu. Aku berjalan memasuki ruang tamu. Kehadiranku di sambut tatapan hangat milik alex plus bonus senyuman manisnya.
“sayang,liat tuh tukang tidur udah bangun,” berkata pada jose sambil mengarahkan bibirnya ke arahku.
Ku pelototi dia dengan sebuah tatapan ancaman agar dia menarik kata-katanya. Ku melangkah maju semakin mendekati mereka.
“ehm sayang‑—ada bau gak enak ini,jadi mual,” godanya lagi sambil menutup hidung.
Ku sipitkan mataku. Ku raih bantal yang ada di sofa dan ku lemperkan padanya.
“eits,gak kena,” elaknya.
“loe pagi-pagi nyari berantam ya,”
“sayang,ada kambing betina marah,” kembali ia menggodaku. Jose tertawa mendengar kata-kata om nya.
“loe tuh ya,” tak ku teruskan kata-kataku. Aku berlari kecil ke arah alex dengan bantal yang sudah siap mejadi senjata untuk menghantamnya. Dia yang sadar dalam ancaman ku berlari ke belakang sofa. Aku terus mengejarnya,sambil mencari sudut yang tepat untuk melempar senjataku.
Aku bersiap melepas tembakan,tapi ternyata lemparanku tidak tepat sasaran. Ku kerucutkan bibirku yang bertanda aku keki. Aku berbalik menghampiri jose,tapi apa yang terjadi,bantal yang tadinya ku jadikan senjata untuk menyerang alex kini menjadi boomerang. Alex melempar bantal kembali padaku yang sedang lengah.
“strike.” Ujarnya dengan nada puas.
“loe ya,” ku kembali mengejarnya.
Dia berlari ke dapur,ku kejar dia ke dapur. Dia mengelilingi meja makan. Aku berusaha menghadangnya dari depan. Tapi dia berputar arah. Aku kembali mengejar di belakangnya,tapi sial—‑bukan dia yang ku dapat. Malah kakiku terpentok kaki kursi,alhasil tubuhku yang masih belum terlalu seimbang. Meluncur ke arah bak cuci piring. Tapi belum sempat kepala ku berbentutur dengan pinggiran bak cuci,tangan alex secepat kilat menyambar tanganku.
Dalam waktu beberapa detik aku sudah ada dalam pelukannya. Aku dan dia saling berbagi pandangan satu sama lain. Ada kehangatan di matanya, mata ini seperti mata milik rob saat memandangku—‑persis tak berbeda sama sekali. Hangat,meneduhkan,dan mampu membuat debaran jantung serta aliran darahku memompa lebih cepat.
Perbedaan dari kedua mata ini,hanya pada warna mata sang empunya. Rob memiliki warna mata sebening air laut,sementara alex matanya berwarna coklat jernih. Entah berapa lama kami saling bertukar pandang,hingga tak sadar jose berada di pintu dapur tersenyum-senyum melihat kami berdua mematung.
“om pacaran ya,” ceplos balita 2 tahun itu dengan bahasa yang belum begitu sempurna.
Kami tersadar dan buru-buru melepaskan pelukan kami. Dengan menyembunyikan rasa nervous dengan berdehem kecil,kami berusaha mengalihkan perhatian. Aku membasuh wajah di wastafel dan alex mendekati jose.
“kamu kecil-kecil,tau pacaran dari mana?” tanya alex pada jose sambil menggelitik perut pria kecil itu. Jose hanya tersenyum dan berhambur dalam pelukkan alex “udah gi loe mandi terus sarapan,habis itu kita ke taman,” ujarnya padaku dan meninggalkanku di dapur.
Aku masih mematung di tempatku. Berusaha menyadari apa yang telah terjadi antara aku dan alex. Sepertinya alex membawa udara segar dalam hidupku rasa yang bermain di hatiku untuknya semakin jelas dan nyata. “ah,gak boleh pikir macam-macam,” batinku segera menyadarkanku dari pikiran tentang sebuah rasa untuk alex dan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhku. Selesai mandi ku santap rotiku yang sudah di sediakan alex di meja dapur. Begitu selesai melahap sarapanku,buru-buru ku temui alex di ruang tv.
“udah yuk‑‑‑‑‑udah selesai nih,” ujarku.
“emang mau kemana?” goda alex.
“alex,” ujarku membesarkan suara
Dia membuang senyum kemenangan padaku. “yuk‑‑‑gitu aja ngambek,” dia bangkit dari kursinya mendekatiku dan mencubit pipiku. Dia berjalan menuju pintu keluar. Ku pegang pipi bekas cubitannya dan senyumku mengembang. Sementara aku sedang menikmati cubitan alex,tiba-tiba jose dating menghampiriku.
“tante kenapa?” jose menengadahkan kepalanya dan menatap heran ke arahku.
Ku angkat dia dan kini dia ada dalam dekapanku. “tante gak apa-apa.” Ujarku dengan senyum yang tak lepas dari bibirku. Aku menyusul alex yang sudah berada di mobil. Aku dan jose memilih duduk di belakang agar lebih leluasa bermain. Di nyalakannya mesin mobil begitu semua penumpang terangkut sudah dan dengan segera pergi meninggalkan rumah menuju taman bermain.
Taman bermain tak begitu ramai. Hanya ada beberapa anak dan orang tuanya. Permainan pertama yang di pilih jose adalah seluncuran. Jose tampak begitu antusias. Alex segera mengeluarkan ponsel nokia N95 miliknya. Dia mengarahkan kamera kepada jose yang sedang bermain. Beberapa kali dia membidik jose dengan kameranya.
Puas bermain seluncuran,jose minta di temani bermain jungkat-jangkit. Aku bersama jose duduk di tempat yang sama. Sementara alex duduk di seberang. Sembari main,dia membidikkan kameranya pada ku dan jose. Puas dengan jungkat-jangkit,jose bermain di pasir putih. Ku biarkan jose berlari ke bak pasir. Begitu alex turun dari jungkat-jangkit,dia menarikku untuk foto bersama. Beberapa kali aku berfoto dengannya‑‑‑‑dengan berbagai pose.
Sesaat terlintas sepertinya hubunganku dan alex menunjukan tanda-tanda yang lebih dari seorang teman. Perhatian dia kini lebih ekstra dari pada pertama kali bertemu. Rasanya ada secuil bahagia nyempil di antara kesedihan jauh di sudut hatiku. Kami selalu menghabiskan waktu bersama,sekilas kami tampak seperti sebuah keluarga kecil yang bahagia.
Tapi aku takut,ada rasa cinta yang timbul karena keperduliannya padaku. Seperti yang terjadi antara aku dan rob, cinta muncul berawal dari sebuah rasa perduli. Rasa perduli yang dia berikan pada kita,membuat kita membalas keperduliannya melebihi perduli terhadap diri sendiri. Tak akan ada cinta tanpa keperdulian,jika itu terjadi‑‑‑‑bisa jadi dia bukan orang yang kau cintai atau mungkin ada sebuah kedustaan dalam cinta itu.
Selepas dari taman,kami pergi berbelanja. Mencari kebutuhan rumah yang memeang sudah hampir habis. Selesai berbelanja kemudian kami pergi makan siang di mc Donald. Begitu banyak hal menyenangkan yang kami lewati bertiga. Gambaran keluarga kecil yang harmonis,ada ayah,ibu dan anak tampak pada aku,alex dan jose.
Hari ke hari aku semakin dekat dengan alex. Setiap hari selalu ada yang kami lakukan bertiga,hal itu membuat hubungan kami semakin erat. Hari libur kami habiskan bersama, tapi pada hari kerja kami selalu bersenang-senang setelah alex pulang dari bengkelnya. Kami, aku dan jose menunggu di rumah sampai alex pulang kerja. Makan malam bersama, menina bobokan jose bersama. Ketika alex akan berangkat kerja ke bengkel,aku dan jose mengantarnya sampai depan pintu. Kami semakin dekat,dekat dan semakin dekat. Sampai suatu malam alex mengutarakan semuanya.
Selepas menidurkan jose aku berbincang dengan alex di balkon atas. Dia duduk menghadap jalanan yang sepi. Aku dating membawa dua buah cangkir berisi teh manis hangat. Aku duduk tepat di sampingnya. Ku serahkan secangkir teh hangat yang baru saja ku racik.
“trims,”ujarnya lalu menyeruput pelan tehnya.
“katanya tadi ada yang mau diomongin,”
Di letakan tehnya di meja kecil yang berada di hadapanya lalu kembali menyandar di kursinya. Dia menerawang ke langit malam. Dia masih tak bersuara. Ku teguk the yang ada di tanganku. ku letakkan kembali ke meja setelahnya. Akupun tak bersuara,suasan malam yang hening begitu kental terasa sampai dia mengatakan “gue sayang sama loe dy,”
Mataku terbelalak,ku tatap dia lekat-lekat berusaha meyakinkan bahwa telingaku tak salah menangkap kata-katanya. Kini dia memandangku,tampak ada tatapan malu bercampur rasa lega karena dia telah menuangkan perasaanya. Wajahnya kembali berpendar merah.
“gue serius dy,” kini tangannya menggengam lembut tanganku. tangannya lembut seperti tatapan matanya padaku saat ini.
Jujur aku bingung harus jawab apa. Aku belum tau hatiku padanya. Aku nyaman bersamanya,bahagia,tenang,tapi aku masih belum yakin,sekaligus takut serta ragu—karena memang masih ada ruang kecil di hatiku yang khusus ku sediakan untuk rob. Mungkinkah aku bisa membaginya dengan pria ini. yang tak ku pungkuri,aku juga menyukainya.
“apa kau masih mencintainya,” tanyanya lagi
“bukan begitu lex,gue Cuma takut,”
“loe takut apa?” tanyanya dengan tatapan mata yang tak bergeser dari mataku.
“gue juga gak tau gue takut apa,”
Kami sama-sama tak bersuara sejenak‑. Diam,hening,sunyi—sampai akhirnya dia berujar “paling tidak beri aku kesempatan untuk merebut hati mu,”
Aku masih tertunduk dan berpikir keras,jawaban apa yang harus ku berikan. Sementara mata alex tak lepas dariku,dia masih menanti jawaban yang akan ku lontarkan. Hening kembali menyelimuti suasana sampai akhirnya ada dorongan kecil untuk menganggukan kepala.
“mandy,loe serius?” girangnya.
“entahlah lex,hatiku bilang aku harus beri kesempatan itu,”
Tanpa basa-basi dia segera saja mendekapku dalam pelukan hangatnya.
Aku gak tau ini keputusan yang tepat atau tidak. Hatiku hanya berkata,jangan abaikan cinta yang muncul di dalam hatimu‑‑‑‑kau tidak akan pernah tau anugerah dan hal terindah apa yang dia bawa untukmu. Bila tidak ku coba aku tidak akan tau apa langkahku benar atau salah. Di kecup pelan keningku,semakin ku benamkan kepalaku di dadanya‑‑‑‑‑nyaman sekali berada dalam pelukannya.
Saat aku sedang menikmati pelukannya,tiba-tiba terdengar suara pintu balkon di dorong dari dalam. Belum sempat kami melepas pelukan,laura nongol di balik pintu.
“uups sorry,ganggu ya,” ujarnya tetap berdiri menyaksikan kami berdua.
Aku dan alex melepas pelukan dan tersipu malu menatap ke arah laura dan kemudian membuang pandangan kea rah lain.
“loe kapan pulang?” tanya alex gugup
“baru aja. Gue ganggu kalian ya?” ujarnya dengan nada ledekkan.
“gak!!! apaan sih loe?”alex beranjak dari kursi dan keluar pintu meninggalkan balkon. Di susul laura dengan senyum lebar,karena sempat melihat kemesraanku dan adik laki-lakinya.
Samar-samar terdengar suara laura menggoda alex “cie,jadian nie ye. Kapan nembaknya? Ih cerita dong. Gue kira kemarin loe bercanda waktu loe bilang loe suka mandy,”
“loe mau tau aja sie,”
Suara mereka semakin samar terdengar. Aku geli melihat tingkah kakak adik itu. Aku masih terduduk dan berpikir “semoga keputusan tepat.” Ujarku mantap dalam hati.
Sejak peresmian jadian hubungan kami berdua, aku dan alex makin dekat. Bahkan laura semakin menyayangiku. Tak pelak setiap hari aku menghabiskan waktu dengan alex. Awalnya malu-malu untuk berduaan di depan laura. Tapi lama kelamaan kami cuek bebek,bahkan tak jarang laura yang menyingkir karena cemburu melihat kemesraan kami.
Seperti saat ini laura ngomel melihat kemesraan kami. “malas banget kalo udah nie anak berdua gabung,bawaanya pengen rangkul-rangkulan mulu. Mending gue tidur,” celotehnya meninggalkan kami berdua. Tapi dasar kakak usil,masih sempat dia melempar bantal pada kami bedua sebelum dia masuk ke dalam kamar.
Aku dan alex hanya saling tersenyum melihat laura di selubungi cemburu. “maka-nya loe kawin lagi‑‑‑‑‑tuh ada josh yang masih nunggu loe.” Ledek alex pada laura menembah kekesalannya.
“idih,loe aja sama keluarga loe.” Teriak laura dari dalam kamar.
Dia masih tersenyum dan kembali melingkarkan tanganya di leherku. “dy,gue boleh tanya gak
“mau tanya apa?”
Dengan hati-hati dia merangkai kata-kata yang akan dia utarakan “apa dia masih ada dia di hati loe?”
Aku diam dan tersenyum menatapnya. Ku tempelkan tanganku di pipinyan “sekarang ada,tadinya aku sama sekali tak mengingatnya.” Ujarku.
Kami diam sesaat,dia berusaha membaca isi hatiku dari ekspresi wajahku dengan seksama.
“Ya—‑kadang ada,tapi tak sebanyak dulu. Tak mudah melupakan orang yang sudah bertahun-tahun menyayangi kita dan kita sayangi dalam waktu hanya beberapa bulan. Gue harap loe ngerti.” Lanjutku meraih tanganya dan menciumnya.
Dia mengangguk pelan. “jujur gue gak terima tapi,yang penting dia gak mendominasi hati loe,” senyumnya melebar.
Sebenarnya di hatiku masih ada rob,aku belum mampu melupakannya,tapi sebagian hatiku telah di isi oleh alex. Ku harap aku bisa segera melupakan rob. Karena aku tau—‑akan tak adil untuk alex bila aku masih memikirkan rob.
“oh iya lex,kata laura kemarin loe bisa main piano,” aku mengganti topik pembicaraan.
“ya gitu deh‑‑‑‑asal-asal tekan aja.” Candanya “gue biasa main di rumah bibi renee,bibi gue. Tapi dia baru pindah tepat seminggu setelah loe masuk kerumah ini. Jadi sekarang gue lebih sering main di rumah temen gue. Emang kenapa?”
“gak sih,gue Cuma pengen Tanya aja. Oh ya,di rumah bibi loe ada biola gak?”
“hmmm,di rumah bibi gue gak ada‑—tapi di rumah temen gue ada,”
Aku beranjak dari pelukannya “kita ke sana yuk,”
“loe mau main biola?”
Aku mengangguk dengan antusias tingkat tinggi. “ya—ya—,” rengekku.
“hmm, dia berpikir sejenak. “ya udah—‑kebetulan besok libur kita kerumahnya. Tapi—,” di hentikan ucapannya
“tapi apa?”tanya ku penasaran.
Dia menyodorkan pipinya dan meletakan jari telunjuknya ke pipinya.
Aku menggeleng pelan dan tersenyum. Ku daratkan satu kecupan di pipinya. Dia berpaling ke arah satunya dan menyodorkan pipi di sebelahnya. Ku daratkan sebuah kecupan lagi. kemudian ia menyodorkan bibirnya,ku dorong wajahnya dengan bantal. Di sambut gelak tawa dari kami berdua.
Keesokan harinya selesai mandi dan sarapan kami berangkat ke rumah teman alex yang katanya bernama kean. Rumahnya tak jauh dari bengkel alex. Tapi cukup jauh dari rumah. Alex menunjukkan bengkelnya padaku. Mobil berhenti tepat di depan rumahnya. Kami turun dari mobil dan langsung masuk ke dalam rumah.
“hei,lama banget.” sapanya begitu bertemu aku dan alex. “Ini anaknya?” mengarahkan pandangan kepada ku.
Alex menatapku sekilas dan tersenyum kembali padanya. Aku menyalaminya dan berkenalan. Kami langsung menuju studionya. Begitu menjejakan kaki ke dalam studionya,terasa hawa seni yang begitu kental. Ruang itu kecil dan penuh dengan berbagai macam alat musik,tapi tataannya begitu apik sehingga terlihat rapi dan sedap di pandang mata. Di tambah beberapa buah lukisan yang sepertinya bukan karya seni dari pelukis-pelukis sekelas Pablo Picasso atau peter paul rubens.
“ini lukisan karya siapa?” tanyaku sambil meraba kanvas yang penuh dengan goresan-goresan seni itu.
“itu lukisan ibuku,” ujarnya.
Aku memandang takjub pada lukisan tersebut. Lalu aku bergerak menuju ke lukisan yang satunya.
“kenapa gak di jual,lukisan ini bagus sekali,” ujarku tanpa mengalihkan pandangan sedikitpun dari lukisan karya ibu kean. Tak bisa di pungkiri,lukisan ini begitu nyata dan bernilai seni tinggi.
“dia bilang ini koleksi pribadi,” ujarnya.
Aku terus menapaki studio sampai aku tiba pada sebuah instrument yang sudah kurindukan sejak beberapa bulan yang lalu. Ku raba tiap jengkalnya. Tanganku bergetar ketika kulitku dan badan biola yang berwarna coklat mengkilap bersentuhan. Ku raba senarnya. Mataku berbinar-binar begitu aku bertemu dengan belahan jiwaku. Dengan mantap ku raih leher soulmateku.
Rasanya tempat ini hanya ada aku dan biola,soulamateku. Aku duduk di kursi yang ada di belakangku. Ku pejam kan mataku, ku nikmati pertemuanku dengan belahan jiwaku. Hal apa yang paling menyenakkan selain ada bersama dengan soulmatemu. Dalam hitungan detik lantunan merdu tercipta dari gesekan busur di senar-senarnya di bantu tanganku yang bergerak lincah di senar-senar G-D-A-E.
Gesekan rambut busur pada senar-senar biola mulai menghasilkan suara-suara indah. Hanyut aku bersama tembang-tembang yang ku dendangkan. Senang rasanya melepas rindu dengan benda kecil yang selalu bisa menjadi tempat untuk menumpahkan segala isi hatiku. Aku benar-benar asyik melepas rindu dengan belahan jiwaku yang satu ini,sampai tak lagi ku perdulikan alex dan kean yang memandang ku takjub. Aku terus bermain sampai aku merasa hatiku ringan. Seringan kapas yang mampu di terbangkan oleh hembusan angin utara.
Begitu aku menghentikan permainanku dan ku buka mata,alex tak bergeming memandangku di kursi dengan sandaran yang menghadap kedepan‑‑‑‑serta tangan yang di letakkan di atas sandaran untuk menopang dagunya. Ku letakan kembali belahan jiwaku ketempatnya. Aku melangkah mendekatinya dan ku jentikan jari di depannya.
“wow,” kata itu yang pertama kali keluar dari mulutnya “gue gak tau loe jago main biola.”
“biasa aja kali,” aku merendahkan diri.
Tiba-tiba ponsel kean berdering. Ku pandangi ponselnya mirip dengan milikku. Kebetulan banget pikirku,aku bisa numpang chargging handphone. Selesai bercakap ria,Di kembalikan ponsel sony Ericson experia miliknya ke saku celananya.
“eh alex juga jago loh mainin tuts piano.” ujar kean membuyarkan keheningan yang sempat tercipta.
Aku menelengkan kepala ke arah alex. “tunjukin dong,” pintaku
“tidak mau dong,” tolak alex dengan sedikit bercanda.
“ich pelita harapan banget nie anak,” ujarku.
“hah??? Bahasa apaan tuh?” tanya alex yang saling memberi tatapan bingung dengan kean.
“itu bahasa gaul indonesia,yang artinya pelit banget‑‑‑‑kayak loe,” terangku sambil menari hidung alex.
Kean tersenyum melihat ke mesraan aku dan sahabatnya ini dan kean saling melempar pandangan dengan alex.
“cepet main dong,”rengekku lagi.
“ntar aja deh,”
“gak,sekarang,” mataku membulat besar.
“loe tuh ya,” di cubitnya pipiku pelan. Alex melangkah mendekati piano bermerk dagang yamaha berwarna hitam berkilauan. Dia duduk di balik piano yamaha brand yang tampak begitu mewah. Di buka tutup yang menutup balok-balok tuts,yang tersusun rapi di badan piano tersebut.
Alex mulai memainkan jemarinya di tuts piano dengan lembut. Pelan-pela Irama yang di hasilkan benar-benar mampu menentramkan hatiku. Begitu apik jemarinya menari di atas tuts-tuts piano. Jiwanya yang bersatu dengan tiap-tiap nada-nada yang di hasilkan,menjadikan nada-nada itu serasa membebaskan semua masalahku. Ini pertama kalinya aku melihat langsung kemampuannya. Ekspresi yang di tunjukan alex ketika melihatku bermain biola berbalik padaku. Aku benar-benar tak menyangka akan keahlian kekasih baruku ini. 20 menit jemarinya berkutat dengan tuts piano dan kini irama semakin melambat dan lama-lama menghilang.
Aku menggeleng-gelengkan kepalaku tak percaya. “alex, kamu gila,”
Dia tersenyum melihat ekspresiku. “kamu berlebihan,” ujarnya dari balik piano. Di tutupnya kembali tuts-tuts piano itu. dia melangkah kembali kepadaku dan kean. Dia mengacak-acak rambutku begitu dia tepat berada di depanku. “udah yuk,” ajaknya sambil menggandeng tanganku melangkah keluar studio dan di ikuti oleh kean.
“gue kamar mandi dulu ya.” Pamit alex padaku dan mpergi ke toilet.
Aku berbalik ke arah kean. “ke,kayaknya hape loe sama deh sama hape gue.” Ku keluarkan hape dari saku jeansku. “gue numpang charging dong.” Ku serahkan ponselku padanya.
Dia membolak-balikan hapeku mencari lubang charggingnya. “oh iya ini sama,ntar ya.” dia membawa ponselku ke kamarnya. Sementara aku membuang pandangan ke sekeliling sembari menunggu alex kembali dari toilet. Tak lama alex keluar toilet dan menggiringku ke taman belakang. Telah tersedia 3 buah cangkir hot chocolate milk. Ku tempelkan bokongku di kursi yang terbuat dari kayu mahoni bercat merah hati ini. Alex menyerahkan hot chocolate milk punyakku ku ambil,ku hembus susu coklat yang masih panas ini. kebetulan cuaca Frederick sedang dingin dan susu ini mampu menghangatkanku.
“lex,gue bener-bener gak nyangka loe sehebat itu,” ujarku.selesai meneguk susu coklatku dan mengembalikanya ke meja.
Wajahnya bersemu merah mendengar sanjungan yang ku tujukan untuknya. Setelah beberapa bulan aku bersamanya aku mulai mengenali sedikit sifatnya. Kalau ku perhatikan, pipinya selalu bersemu merah bila dia di puji atau di goda. Tapi dia berusaha secool mungkin.tapi tetap saja,warna mukanya tak bisa menipu orang yang sedang menatapnya‑‑‑‑kalau dia sedang canggung. Berbeda dengan rob yang memiliki percaya diri yang tinggi. Pipinya tidak akan bersemu merah,hanya karena sebuah pujian atau godaan-godaan.
Tak lama kean bergabung bersama kami. Kami bertiga ngobrol ringan di halaman belakang. Aku bertanya tentang realasi apa yang terjalin antara alex dan kean. Ternyata kean yang bernama lengkap Rodrigo keanno sanchez ini adalah sahabat alex sejak mereka masih di high school dan berlanjut sampai sekarang ini. sedang asyik bercengkrama, tiba-tiba ponsel alex berdering.
“halo,”sapanya.
Terdengar suara berisik dari ponselnya.
“oh ya udah deh,” dia mengakhiri pembicaraannya. “ke temenin gue ke bengkel bentar yuk,tadi chase telpon,ban mobilnya pecah di depan bengkel,”
“ya udah yuk,” kean menyetujui tawaran alex.
“loe di sini aja ya,kita bentar aja kok,” dia mengecup kepalaku dan pergi meninggalkan taman belakang bersama kean.
mereka pergi,tinggallah aku di sini. Duduk diam,sendiri. 20 menit setelah kepergian mereka,bosan mulai datang menyerangku. Aku mulai tak nyaman. Detik jam rasanya lambat bergerak. sampai 30 menit sudah mereka pergi,dan selamat—‑perutku mulai keroncongan.
Aku mulai kesal pada alex. Di tinggalkannya aku sendiri tanpa makanan,paling tidak berikan aku biskuit untuk mengganjal perutku sementara dia pergi atau telpon ke rumah kean untuk sekedar mengingatkan makan siang atau bilang ambil makanan di kulkas kean kek,itupun tidak di lakukannya. Berbeda dengan rob,dia tidak pernah lupa untuk mengingatkan ku makan siang. Aku yang sedang asyik menggerutu dalam hati tak menyadari kean masuk dengan sekotak makan siang.
“mandy,” sapanya
“loe ngaggetin deh,” protesku yang tertangkap basah melamun dan melonjak pelan ketika dia menyapaku.
Dia tersenyum kecil. “ternyata bener yang alex bilang,” ujarnya
“emang dia bilang apa?,” tanyaku padanya.
“kalo gue pulang,gue pasti dapetin loe lagi ngelamun,”
“dasar tuh anak,” umpatku pelan.
“nie makan siang,kerjaan dia belum siap jadi belum bisa balik. Gue Cuma disuruh antar makan siang buat loe,” dia menyerahkan kotak makan siangku.
“kalian udah makan?” tanyaku lagi.
“kita ntar aja,di dekat bengkel ada restauran sushi,ntar gue sama lex makan di situ. Itu juga lex tadi beli di toko sushi itu,” terang kean.
Aku mengangguk pelan dan membuka kotak makan siangku yang tersaji makanan jepang yang cukup menggugah selera makanku. Ku cium baunya yang makin membuat cacing di perutku tak sabar untuk melahap makan siangku.
“ya udah gue balik ke bengkel dulu,kasian lex sendiri.” pamit kean.
Tak lama setelah kean pergi,aku kembali larut dalam pikiranku. Satu lagi yang aku tahu tentang alex. Dia mengungkapkan sayang tak hanya sebatas kata-kata,melebihi pada tindak nyata. Aku selalu tak adil membanding-bandingkan dia dengan rob. Aku tak bermaksud untuk selalu membandingkannya. Tapi pikiran itu terlintas begitu saja di benakku. Maafkan aku lex.
Ku lahap sepotong sushi yang tersaji di kotak. Ku tarik nafas panjang,ku kunyah sushi perlahan. “ Aku harus melupakan rob. Tak bisa aku terus menjadikan rob sebagai berbandingan untuk alex.” tekadku dalam hati. Ku selesaikan makan siangku dan begitu selesai makan siang aku kembali ke studio. Aku membaur lagi dengan instrument kesayanganku. Aku kembali menggesek senar biola dengan busurnya dan menciptakan irama-irama merdu.
Berbeda dengan sebelumnya, waktu berjalan begitu cepat,setiap kali aku bersama dengan my little soulmate. Sampai tak sadar bahwa alex telah duduk rapi di hadapanku. Ku hentikan permainan biolaku,aku berlari kecil ke arahnya dan menghambur di pelukannya. lagi-lagi ku temukan ke tenanganku dalam dekapannya. Dia mengangkat wajahku dan mencium keningku.
“kita pulang yuk,” ajaknya,hari udah hampi gelap. “kasihan laura di rumah gak ada yang masakkin makan malam buat dia entar.” Satu hal lagi yang ku dapat dari pemuda satu ini. dia begitu menyayangi keluarganya. Ini yang tak ku temukan dari rob. Rob selaku anak tunggal sangat jarang mengunjungi orang tuanya yang tinggal berdua di rumahnya di Baltimore.
Sejak mememutuskan pindah ke apartemen,rob jarang mengunjungi orang tuanya. Setahun hanya beberapa kali dia mengunjungi orang tuanya. Tapi untungnya keluarga rob memiliki pengertian terhadap sikap anaknya yang terlalu mandiri dan benar-benar tak menggantungkan apapun pada orang tuanya. Hingga,walau jarang bertemu hubungan ayah,ibu dan anak itu tetap baik-baik saja.
Aku mengangguk kecil mengiyakan ajakkannya. Dia lagi-lagi menggandeng tanganku keluar studio. Kami berpamitan pada kean,kean memberikan ponselku tak lupa dia mengucapkan salam untuk laura. Kami melangkahkan kaki keluar rumah kean dan masuk ke dalam mobil. Kami lambaikan tangan padanya dan di balasnya dengan lambaian tangan juga,kemudian alex melajukan mobil kembali menuju ke rumah.