0,000001%
Ku pandagi dia yang masih bermain di alam bawah sadarnya. Pikiranku melayang kemana-mana. Dia terlihat begitu letih selepas pertandingan tadi malam. Aku belum membuang pandanganku dari wajahnya. Masih kunikmati wajahnya. Ingin rasanya aku berteriak sekeras-kerasnya dan bilang aku mencintainya,bukan sebagai seorang kakak. Bahkan melebih dari seorang kakak. Tapi aku takut dia tidak siap mendengarnya dan pergi menjauhiku. Ku tarik napasku dalam-dalam dan kemudian ku hembuskan.
Aku beranjak dari sofa menuju dapur. Menyiapkan roti bakar,telur mata sapi,dan 2 cangkir susu untuk sarapan. Ku tata roti di meja sekaligus dengan selai dan 2 telur mata sapi. Sambil melahap roti di tanganku,aku terus di rundung gelisah. Apa aku akan kehilangan rob?? benarkah tak ada pilihan?
Bila aku memilih diam,tak mengatakan padanya kemungkinan dia akan meninggalkan ku bersama janet. Bila aku mengatakannya dan dia marah lalu menjauhiku,dia akan tetap jadian dengan janet. Toh bilang atau pun tidak resikonya bisa saja sama. Apa sebaiknya ku ungkapkan saja? tapi aku belum siap di jauhi olehnya bila dia tak terima dengan pengakuanku..
Dia yang sedang ku pikirkan muncul dari balik pintu. Tersenyum seperti biasanya dengan hiasan lesung di pipinya. Mata biru lautnya begitu lembut memandangku. Rambut blonde yang masih berantakkan,di rapikan dengan jari-jarinya.
“pagi!!” sapanya dan mendaratkan ciuman di rambutku.
“pagi.” sahutku singkat.
Dia membasuh wajahnya dan berkumur-kumur di wastafel “tebak!!! gue masuk final.” ujarnya antusias dengan senyuman lebar berbalik kearahku.
“selamat deh.” balasku tanpa menunjukan antusiasku.
“loe kenapa sie?”
“kenapa? Biasa aja!” balasku.
“kalo ada masalah atau gue punya salah,loe ngomong dong.”
“gak ada.” ujarku masih tetap dingin.
Aku menyudahi sarapan dan pergi meninggalkan dia. Belum sempat aku menjauhinya,tangannya dengan sigap meraih pergelangan tanganku. Ditariknya dan di genggamnya kedua bahuku. Kini mataku bertatap langsung dengan mata biru laut miliknya.
Jantungku menderu dan spontan ku rangkul dia erat-erat. Dia membalas pelukanku dengan begitu hangat. Di belai lembut rambutku.“loe kenapa?” Tanya rob lagi.
“gue belum siap kehilangan loe,kehilangan perhatian loe rob.” ujar ku di pelukannya.
“hei,siapa yang mau ninggalin loe?” terlontar Tanya dari mulutnya dengan nada bingung.
“maksud gue bukan ninggalin pergi,tapi…tapi berbagi perhatian loe dengan yang lain.” jelasku.
“tunggu—tunggu,maksud loe?”
“iya,gue belum siap kalo ntar loe pacaran sama janet,loe bakal nelantarin gue.” Sambungku.
Seketika tawanya membahana, Di lepas pelukannya dan mengacak-acak rambutku “ya ampun mandy,pikiran loe tuh yang gak-gak aja.” dia menggelengkan kepalanya. “Denger ya seandainya gue punya pacar nanti,siapapun dia——gue gak bakal kurangi 0,000001 % pun perhatian gue ke loe. Jadi stop berpikiran bodoh kayak gitu.” dia kembali ke meja makan dan melanjutkan sarapan dengan sisa senyum yang masih melekat di wajahnya. Sementara aku yang belum sepenuhnya tenang hanya tersenyum dan keluar meninggalkan ruang makan.
Sorenya,di halaman perpustakaan kampus aku,sky,tim dan Harold sedang mendiskusikan tugas yang di berikan mrs.smith. kebetulan aku,tim,sky dan Harold menimba ilmu di kampus yang sama,tepatnya kami kuliah di maryland institute college of art. Di tengah pendiskusian tugas,kami selingi dengan obrolan-obrolan ringan.
“dy,sayang banget beasiswa loe gak di ambil?” Ujar tim.
“tau nie anak,bego sampe tembus ke tulang rusuk. Kesempatan emas,beasiswa sekolah musik di france sampai tamat di hanyutkan gitu aja.” tambah sky.
“rob gak izinin gue pergi,katanya dia khawatir gue di sana gak ada yang jagain.”
“eleh,you have to ignored him. Seharusnya kalo loe ambil beasiswanya——mungkin loe udah jadi violin player terkenal,gak Cuma ngelukis hewan-hewan gak jelas.” oceh sky lagi dengan gemasnya.
“ya masih mungkinkan sky.” aku berusaha membela diri.
“ya bisa aja kan mandy.” sky tak mau kalah, “melukis bukan bakat loe, Ya walaupun lukisan loe bisa di bilang lumayan——untuk ukuran anak sd.” Ledek sky dan di sambut tawa kecil dari tim dan Harold.
Akupun turut tersenyum “nah loe sendiri——waktu dapat tawaran gabung sama Miami heat dancer,kenapa loe tolak mentah-mentah?” serbuku dengan mengingatkan kebodohan yang ia lakukan dengan menolak tawaran dari manager Miami heat dancer untuk bergabung dengan mereka.
“kalo itu,karena gue cinta sama team gue dan gue gak mau sukses sendiri. Kita bangun team ini sama-sama. Senang,susah,ribut,selisih paham udah kita rasain bareng-bareng dan itu yang menguatkan ikatan gue dengan semua personel team ini.” ujar sky mantap.
“oh sky.” peluk tim dan Harold berbarengan,ketika mendengar pernyataan sky.
“jadi terharu.” ujar tim kemudian mencium sky.
“berlebihan loe berdua.” sky menolak ke dua sikunya kearah perut mereka yang membuat tim dan Harold melepas pelukan dari sky.
Lucu melihat ketiga sahabatku bertingkah seperti ini. Tim dan Harold mengacak-acak rambut sky sesaat. Begitu tim dan Harold berhenti menggodannya,sky kembali mengomentari ku.
“nah kalo loe,loe tunggal. Loe gak perlu mikirin gue atau yang lain. Karena emang visi kita berbeda. Atau——jangan-jangan loe cinta sama rob? Sampe-sampe loe gak mau ninggalin dia.” ceplos sky.
Sesaat aku beradu pandang dengan Harold. “ya jelas gue cinta sama dia,diakan udah kayak kakak gue.” aku berusaha menutupi perasaanku yang sebenarnya.
Sky hanya mengangguk-angguk mantap sambil mengerucutkan bibir dan mengangkat alisnya tanpa curiga sedikitpun mendengar jawabanku.
Detik berikutnya dia kembali larut dalam buku yang ada di pangkuannya. Sementara aku berusaha mencerna kata-kata sky.
“sky benar,aku mencintai rob,sampai aku siakan ke sempatan emas untuk sekolah biola di france. Aku tak mampu menarik diri jauh darinya. Setiap aku berusaha menarik diri menjauh,dia selalu berhasil menyeretku kembali dalam naungan cintanya. Ingin ku lepas bayang-bayang cintanya,tapi aku tak mampu melakukannya. Hingga aku biarkan aku terseret jauh dalam arus cinta ini.”
Aku dan rob sedang berada di rumah simon untuk latihan mempersiapkan koreo untuk penampilan di final. Rob,tim,sky dan yang lainnya masing-masing menyumbangkan ide-ide dalam koreografi. Sementara aku duduk di taman bermain bersama semilir hembusan angin yang mempermainkan pelan helai-helai rambutku. terdengar musik yang sedari tadi mendendang tiba-tiba terhenti, pertanda break latihan.
Bergegas aku masuk ke tempat latihan untuk bergabung dengan mereka semua,tapi betapa terkejutnya aku ketika ku lihat di sana janet dan rob telah berpelukan mesra. Ada pedih mampir ke sela hatiku. Air mata ku sudah hampir menetes tapi ku kerjap-kerjapkan mataku berkali-kali berusaha menahan air mata yang sudah menggenang di kelopak mata. Ku seka Kristal cair itu sebelum benar-benar membanjiri mataku. Dengan sikap setenang mungkin aku melangkah memasuki ruangan.
Tanpa kecurigaan apapun sky menarikku dengan antusias untuk memamerkan koreografi hasil ciptaannya yang di sepakati di pakai sebagai salah satu koreo untuk final. Sky mulai meliuk-liukan,menggerakan badannya yang memang lentur,menunjukan gerakan zig-zag dan cross the floor yang berhasil ia ciptakannya. Sementara aku yang sama sekali sulit untuk berkonsentrasi pada koreografi yang di sugguhkan oleh sky menatapnya dengan tatapan hampa.. Ekor mataku menarik sudut pandanganku ke arah rob dan janet.
Aku yang tak menyadari sky yang telah selesai perform khusus padaku,terus menatap sky kosong,sementara pikiran ku terbang kepada rob.
“mandy——mandy.” bentaknya padaku.
Aku terkejut dan memberi tatapan bingung padanya. “hah.”
“loe liat gak sih?” protesnya.
“iya tadi,yang akhir agak gak konsen.”jawabku.
“emang loe kenapa sie?? Gue perhatiin dari battle kemarin loe kayak orang bimbang,bingung and gelisah gitu” Tanya sky yang ternyata menyadari perubahanku.
“gak,gue Cuma…..” sempat berfikir mencari alasan. “lagi mikirin tugas mrs.smith. satu goresanpun belum ada gue kerjakan. Sementara tuh lukisan dah harus di kumpul minggu depan” aku berdalih.
Padahal tugasku sudah selesai 5 hari setelah mrs.smith memberikan tugas itu. Hanya saja tak mungkin ku utarakan pada mereka alasan yang sebenarnya——yang membuatku lebih banyak gundah akhir-akhir ini. Aku gundah karena mencintai rob,sahabat mereka——sahabat yang sudah seperti kakak laki-lakiku. Tapi tetap tak bisa di pungkuri dia bukan kakakku,yang masih berhak untukku cintai.
“ya amprut dy,gue kira loe gelisah karena lagi naksir cowo ato loe lagi ada masalah pelik lain. Gak taunya Cuma masalah tugas nenek tua smith.”
Aku hanya tersenyum memandang wajah sky yang ringan tanpa beban. Sebelumnya aku persis seperti dia. Ceria,bebas,tanpa beban. Tapi sejak aku memendam cinta pada rob, hidupku seolah berubah menjadi sangat berat. Setiap ia dekat dengan seorang wanita,itu menjadi beban untukku.
Aku ingin membuang rasa ini. Tapi setiap aku berusaha membuang perasaan ini,rasa ini semakin besar menjejal di relung hatiku. Tapi ketika aku pasrah menerima cinta ini,batinku tersiksa. Aku tak mampu memiliknya,seperti yang ku inginkan. Mau tak mau aku harus membiarkannya bahagia deengan wanitanya dan itu menyiksa sanubariku.
“mandy,loe udah makan siang?”rob menyapaku dan membuyarkan semua lamunanku. Janet dengan mesra berdiri di sisi rob. Ini salah satu yang menyesakkanku. Seperti tak ada suplai oksigen yang mengisi paru-paruku.
“yuk makan,tuh ada ravioli,loekan suka ravioli.”
Tiba-tiba harold menarikku menjauhi rob dan janet. Aku terkejut, Tapi paling tidak—— tindakkan harold menyelamatkan hatiku dari pemandangan yang semakin lama semakin memporak-poradakan hatiku.
“thanks ya har,” aku berterima kasih padanya.
“gue ngerti loe tertekan dengan pemandangan itu. Gue juga gak tau harus gimana? Loe berdua sahabat gue.” Dia diam sejenak, “Satu sisi gue gak mau liat loe sedih, tapi satu sisi gue gak ada alasan kuat untuk halangi hubungan rob dan janet.” harold menunjukan keprihatinanya.
“gue ngerti,gue yang tolol. Kenapa harus jatuh cinta sama rob.” aku mulai tak mampu menahan air mataku.
“gak ada yang salah dalam cinta,dy. Tak perlu menghakimi dirimu tolol karena cinta, cinta memiliki kekuatannya sendiri yang bisa mengalahkan daya pikirmu.
Pelupuk mataku mulai di genangi air mata yang membanjir. Tapi aku kembali mengerjap-kerjapkan mataku agar air mata ini tidak meluap keluar dari pelupuk mataku.
Harold menarik,memelukku. Tapi lagi-lagi pelukan harold tidak bisa menenangkan hatiku. Sesaat kemudian dia melepaskan pelukan ku.
“udah dong,senduh sedannya di tahan dulu. Selesai makan lanjutin lagi. Ntar gue pinjamin tetes mata deh,biar lebih dramatis.” candanya sambil menunjukan deretan giginya yang putih dan rapi.
Akhirnya aku bisa menarik sedikit sudut bibirku ke belakang membentuk sesimpul senyum.
“gitu kan manis—— semanis madu”, tambahnya dan mencubit pipiku.
“jayus loe,” aku balik mencubit pipinya.
Sepulang dari rumah simon,aku dan rob mengantar janet. Sesampai di kediamannya yang nan megah,lagi-lagi dengan gaya dan bahasa tubuh yang di buat se-hot mungkin. Dia berterima kasih pada rob.
“babe thanks ya,sampai jumpa besok ya.” pamitnya dan mengecupkan bibirnya dari jauh.
“ok,” balas rob dan mengedipkan matanya.
Kembali ku pandangi dua buah pepaya bangkoknya. Itu membuatku semakin membeci dia. Dia punya segala yang aku tak punya. Dia punya dua buah payudara yang bergizi,sementara aku tidak. Dia memeiliki kesempatan untuk mendampingi rob dan mendapatkan cinta special dari rob——sementara aku tidak. Selesai berbasa-basi rob mengemudikan mobilya melaju membelah jalanan baltimore.
“dy,rasanya gue gak sabar nunggu final besok.” ocehnya dengan penuh semangat.
Aku malas menemaninya ngobrol. Aku sebal dengan rob,Tapi sebenarnya gak ada alasan bagiku untuk sebel ataupun kesel. Toh dia memang bukan siapa-siapaku. Dia hanya anak dari sahabat orang tuaku yang menganggapku sebagai adiknya,karena kenyataannya dia memang tidak memiliki saudara perempuan. Kami sama-sama kuliah di tempat yang sama yaitu MICA. Hanya saja,dia seniorku 3 tahun. Jadi dia sudah mendapat gelar sarjana seni.
“loe udah ngantuk ya?” tanyanya sambil sesekali melihat kepadaku dan kembali menatap jalanan baltimore yang remang-remang. Diacak-acak rambutku dan diusap lembut pipiku. Ku sandarkan punggungku di jok mobil yang empuk. Ku palingkan wajahku ke arah jendela dengan tatapan nanar memandang jalanan.
Tak sadar berapa lama aku nanar memandang keluar jendela. Tiba-tiba saja mobil berhenti dan mesin mobil mati. Ternyata kami sudah berada di baseman apartemen.
“dy,kita dah sampai nie,” dia menggoncang pelan tubuhku.
Aku tak menjawab,aku pura-pura memejamkan mataku. Di tarik pelan bahuku,kini posisi menyamping telah berubah menghadap ke depan. Suasana hening,tidak ada suara ataupun sentuhan untuk membangunkan ku.
Tiba-tiba terasa sentuhan lembut di pipiku. Sentuhan ini sama sekali tak berubah—— selalu ada kehangatan di tiap jari-jari yang bersentuhan dengan pipiku. Bisa ku rasakan tempratur wajahku meningkat,terutama di daerah pipiku. Mudah-mudahan pipiku bisa bekerja sama dan tak memendarkan rona merah muda di pipiku.
Aku yang belum mampu mengatur suhu wajahku kembali normal, di kejutkan dengan sesuatu lembut yang menempel di keningku. Terasa hembusan nafasnya menyapu pelan rambutku. Menit berikutnya diangkat bibirnya dari keningku.
Aku masih terus menutup mataku. Terdengar suara pintu mobil di banting. Awalnya kupikir dia akan membawa ku ke kamar dengan cara menggendongku,tapi setelah menunggu dalam waktu yang cukup lama——tak ada tanda-tanda dia akan mengangkat dan membopongku sampai di kamar.
Pelan-pelan ku buka mataku. Sunyi,tak ada seorangpun di mobil. Ku angkat pelan-pelan kepalaku. Brengsek,rob ninggalin aku sendiri di mobil. “Ide brilliant dy—— dengan pura-pura tidur.” gerutuku dalam hati.
Perasaan cemburu dan melankolis yang sebelumnya bergelayutan di hatiku berubah menjadi perasaan kesal luar biasa. Aku langsung naik pitam,aku menggerutu sendiri dalam mobil.
”katanya perhatian gak bakal berubah kalo udah punya pacar,belum jadian aja gue dah di tinggal sendirian di mobil——konon kalau udah jadian,”
Aku terus menggerutu dengan posisi bibir yang sedikit ku condongkan beberapa senti ke depan. Di tengah ocehan-ocehan yang gak jelas. Terlihat sesosok bayangan yang berjalan di bawah gelap. begitu sinar lampu menerangi wajahnya,baru tampak bahwa itu adalah rob. Buru-buru aku kembali pada posisi semula. Posisi tidur,ehm—— tepatnya pura-pura tidur.
Dia menarik gagang pintu, terdengar deritan pintu mobil yang terbuka. Sesaat aku tak tau apa yang terjadi,tiba-tiba saja dia mengangkat kepala ku dan mengganjelnya dengan sesuatu yang empuk. Dia menarik panel kursi dan mendorongnya ke belakang. ditutupi sebagian tubuhku dengan kain tebal nan hangat dan kembali membanting pelan pintu mobil.
“nie orang sialan ya,tega banget dia ninggalin gue tidur di mobil sendirian——,” umpatku dalam hati dengan mata yang masih ku pejamkan.
Belum ku selesaikan umpatanku,terdengar lagi deritan pintu yang terbuka. Tapi kini pintu di seberangku. Ternyata rob kembali ke dalam mobil. Terdengar lagi pintu mobil yang di banting pelan dan suara deritan kursi yang di dorong ke belakang,menyentuh pelan jok belakang. Suasana kembali hening. Aku belum berani membuka mataku. Masih ku biarakn dia terpejam sampai aku rasa keadaan sudah tepat untuk membukanya
Pikiranku kembali berubah,Aku benar-benar salah,dia membuktikan kata-katanya. Tak akan mengurangi 0,000001% pun perhatiaanya padaku dan aku merasakannya saat ini. Situasi ini cukup menghibur hatiku,dan dengan cepat moodku naik,berubah menjadi lebih baik.
Aku gak akan pernah melupakan malam ini. Dia dan aku menghabiskan malam di mobil,walau aku biasa tidur dengannya dan harus mendengar dengkurannya yang lumayan keras,itu sudah cukup membantu memulihkan suasana hatiku yang sempat tak bagus karena si sexy janet mccarty.
Ini mungkin bakal masuk jajaran teratas 10 peristiwa penting dalam hidupku. Ku benahi posisi diriku dan ku biarkan diriku masuk ke dalam mimpi,bermain bersama mimpi-mimpiku dengannya.
JJJJJJJJJJ