Pelampiasan
Keesokan paginya begitu ku buka mata,ku dapati aku ada di sebuah kamar yang sepertinya ini bukan kamar milikku. Kamar yang menggambarkan indentitas sang pemilik. Kamar yang di tata dengan wallpaper bergambar baby doll dengan background berwarna pink dan meja rias yang penuh dengan alat-alat rias. Ku lirik jam yang berbentuk matahari dengan sebuah senyuman.
“hah? Jam 11 lewat,” aku shock dan bergegas turun dari tempat tidur. Ku usap pelan wajahku dan berusaha mengenali tempat ini. Sesaat memutar otak dan ternyata…..
“ya ampun,ini kan rumah simon,” aku berlari dari kamar yang ku tebak milik adik perempuan simon yang baru beranjak remaja ke tempat latihan,benar mereka semua berkutat dengan koreo-koreo dance dan tebak—— siapa perempuan dengan tank top ketat berwarna putih dan di lapisi dengan cardigan hitam di padukan dengan jeans hitam pendek dan super ketat.
“bitch janet,” batinku.
Rob yang melihat ku berdiri di sudut pintu menghentikan tariannya dan berlari kecil ke arahku.
“loe dah bangun!! Sorry tadi pagi gue gak tega bangunin loe. Keliatannya loe ngantuk banget. sampe-sampe ada pulau di bantal loe.” ledeknya dengan tawa yang melengkapi paket ledekannya.
Ku pukul pelan perutnya dan membalas dengan tawa masam.
“ya udah mandi sana—— tuh baju ada di jok belakang mobil,” sarannya dan tiba-tiba si janet menghampiri dan mengaitkan tangannya di pinggang rob.
“sayang,kamu kayaknya sayang banget sama mandy.”
“iya dong sayang,dia kan adikku. Ya walau bukan adik kandung,” jawab rob.
“terus kalo sayang kamu ke aku ke aku gimana?”
“kalo ke kamu beda dong.” terang rob sambil mengedipkan matanya.
Ku sipitkan mataku dan ku tatap tajam janet. Janet membalas dengan tatapan penuh kemenangan dan di tambah senyum sinis yang special di tujukan padaku.
“nih pelacur,kayaknya cari perang sama gue.” Batinku dengan tatapan sinis yang masih belum bergeser satu centipun dari wajah janet.
“ya udah,gue balik latihan ya,” pamit rob padaku dan berlari kembali bergabung dengan tim dan yang lainnya.
Ku pikir setelah rob pergi,nenek sihir itu bakal mengekor di belakang rob——ternyata dia stay untuk melontarkan kalimat yang cukup member tamparan keras buatku.
“gue udah bilang,lebih baik loe buang mimpi loe untuk dapatkan dia. See——dia milih gue,dan loe,” senyum sinisnya kembali tersuguh “tuhan Cuma takdirkan loe untuk jadi adiknya. Jadi stop bermimpi dengan priaku,dasar dreamer.”
Dadaku sesak mendengar kata-katanya. Ku tarik nafas dalam-dalam untuk menyuplai oksigen segar ke dalam paru-paruku yang serasa terhimpit beban berat. Ku balikan tubuhku menuju ke lataran rumah simon. Untuk mengambil pakaian di jok belakan mobil dan bergegas membersihkan tubuh setelahnya.
Selesai mandi——ibu simon menyapaku. “mandy sayang,sini.” panggilnya.
Aku melangkah ke arah tempat dia berada. Di tarik pelan tubuhku dan di cium kedua pipiku.
“sini——ni sarapannya,” dia menyodorkan sepiring kentang tumbuk,daging asap dan saus krim. “Kata rob,tadi kamu masih tidur,jadi dia sisakan makanan untuk sarapan kamu. Nie,” dia menyodorkan piring dengan hidangan yang tampak begitu lezat,yang tersaji di atasnya.
Ku ambil,paket sarapanku. Ku letakan di meja makan dan ku tempelkan bokongku ke kursi,diikuti oleh mama simon.
“gimana,enak?” tanyanya antusias.
“hmm-hmmm.” anggukku dengan mulut yang tersumpal penuh. Ku sapu krim yang menempel di samping bibirku dengan ibu jariku.
“rob sayang banget ya sama kamu,” ujarnya sambil tersenyum,memandang ke arahku.
Aku hanya balas dengan senyuman,karena mulutku masih penuh dengan kentang dan daging asap. Sesaat hatiku berbunga-bunga ketika dia mengatakan bahwa rob begitu menyayangiku.
“dia pernah bilang,dia bahagia bisa mempunyai saudara perempuan,walaupun bukan saudara kandung. Kamu beruntung punya kakak yang selalu memperhatikan kamu.” Ucapan ibu simon seketika meracuni kuntum bunga yang baru saja bersemi di taman hatiku dan seketika mati begitu saja. “Gak seperti simon dan adiknya,setiap hari tante harus dengar perang mulut mereka. Setiap hari caci maki terdengar dari mulut simon dan briana,” curhatnya sambil tersenyum sendiri dan menggeleng-gelengkan kepala.
“tante,aku lebih memilih rob dan aku bertengkar mulut setiap harinya,ketimbang aku harus menerima semua perhatian ekstranya—— yang toh membuatku menyimpan cinta dan membuatku tertekan, Karena aku mengharapkan cinta yang lebih dari seorang kakak.” batinku.
“mom,” tiba-tiba jerit briana adik perempuan simon dari lantai dua membahana.
“iya,sebentar,” balas mama simon pada briana.
“sayang,tante ke atas dulu ya.”
Aku hanya menganggukan pelan kepalaku dan tersenyum. Selesai berpamitan,dia bergegas menemui putrinya. Ku selesaikan sarapanku dan bergegas kembali ke ruang latihan. Lagi-lagi pemandangan romantis janet dan rob yang harus ku lihat. Mereka bercengkrama mesra.
Kali ini bibir sexy janet mendarat di pipi rob. Pemandangan ini benar-benar menyiksa ku. aku tak bergeming,mematung memandang lurus ke arah rob dan janet. Rob menggenggam mesra tangan kiri janet,lalu meletakannya di pinggang rob, kemudian tangan kiri rob menggenggam tangan kanan janet. Kini mereka ada di posisi untuk slow dance. Tatapan mata rob tak beralih dari mata janet. Kini tawa kecil menyelingi slow dance mereka.
Merasa tak mampu menyaksikan semuanya,aku berlari menuju taman. Aku berusaha untuk tetap tidak membuang air mataku. Ku tarik nafas dalam-dalam dan ku keluarkan dengan berat. Aku masuk ke dalam mobil,terpintas ide untuk ngerjain janet. Kulampiaskan kemarahanku dan akhirnya ide untuk menjahili-nya-pun muncul.
Untuk menjalankan aksi pelampiasan amarah serta rasa cemburu yang sudah memenuhi dadakku, aku keliling taman untuk mencari binatang-binatang yang menjijikan. Beberapa menit mengacak-acak taman milik keluarga simon—— akhirnya aku menemukan seekor katak besar dengan bagian bawah yang menggembung.
Aku sebenarnya jijik, tapi demi menjalankan aksiku——ku cari cara untuk mengambilnya. Ku angkat katak itu dengan menggunakan sehelai daun. Ku bawa menuju mobil dan ku selipkan masuk ke dalam tas janet. Usahaku menjahilinya tak hanya sampai di situ. aku kembali mengobrak-abrik kebun milik simon. Kini aku congkel tanah-tanah gembur untuk mencari beberapa cacing. “Great mandy”, pekikku dalam hati girang.
Tumpukan cacing seperti menjadi jackpot untukku. Lagi-lagi ku raih mereka dengan sedikit rasa geli menggunakansehelai daun. Kali ini ku masukan ke dalam topi janet. Tapi tak cukup sampai di situ. ku bongkar bagasi mobil rob,karena seingat ku rob menyimpan lem di dalam bagasi mobilnya.
Ku ambil lem dan ku oleskan di jok belakang. Karena janet selalu ku suruh duduk di jok belakang. Tapi tiba-tiba aku menemukan balsem yang dulu pernah ku bawa dari Indonesia, karena ku pikir akan susah mencari minyak kayu putih atau balsam di Negara adidaya ini——makanya ku bopong balsam ini dari indonesia. Tadinya kukira balsem ini hilang.
Aku langsung mendapat ide cemerlang,ku oleskan balsem super duper panas di lipgloss milik janet. Kebetulan lipgloss janet juga berbau mint dan dia gak akan curiga ketika menggunakannya.wanita itu cantik dan menawan,tapi otaknya kosong. Jadi dia gak mungkin curiga.
“hehehehe,mampus loe! dower-dower dah tuh bibir. Gue aja yang sering balseman gak tahan sama nie balsam,heh——apalagi loe. tawa iblisku melebar.
Selesai mengatur semua jebakan,tanganku mulai terasa panas. “aduh panas,” ku kipas-kipas tanganku yang terkena balsem. Aku berlari menuju dapur untuk membersihkan barang bukti. Ku cuci tangan ku berkali-kali. Bau balsam yang cukup menyengat sudah tidak membekas,tapi panasnya masih sedikit terasa. Ku keringkan tanganku. Tepat selesai mengeringkan tangan,rob datang.
“yuk,berangkat!!! kita mau daftar ulang—— ntar gak keburu,”
Ku berjalan tepat di belakangnya. Astaga—janet sudah stand by di jok depan. Ku tarik tangan rob,“ngapain dia duduk di depan?” protesku
Dia menoleh sekilas ke arah janet dan kembali melihatku.
“udah deh gak apa-apa,sekali-sekali——masalah tempat duduk aja di ributin. Udah yuk ntar telat untuk register ulangnya.”
“aduh mampus——kalo gini namanya bukan cuma senjata makan tuan,tapi senjata makan nyonya juga. Aduh……”, kini cemas mulai menggelayutiku.
Dengan ragu ku buka pintu belakang. Ku pandangi kilatan-kilatan yang jelas masih begitu basah. Ku telan ludahku dengan susah payah,menggambarkan semua kecemasanku.
“mandy cepet dong,yang lain dah pada pergi tuh.” ujar rob dari kemudi depan.
Mau gak mau akhirnya ku tempelkan bokongku ke jok yang sebelumnya telah ku lumuri lem.
Nyessss——rasa dingin menembus sampai kulitku. Kepalaku mulai di liputi kecemasan. Sepanjang jalan aku tak bisa konsentrasi dengan keadaan sekelilingku. Aku berharap ada sesuatu yang bisa membawa kami kembali ke apartemen. “Aduh please balik ke apartemen.” Aku berkomat-kamit dalam hati.
Aku berdoa nomor peserta atau ada benda yang di tinggalkan rob di apartemen,sehingga memaksa kami kembali ke apartemen. Agar aku bisa mengganti legingku yang sudah ku pastikan akan robek ketika aku mengankat bokongku dari kursi yang sudah penuh dengan lem yang daya rekaynya cukup kuat.
Tapi sepertinya hari ini dewi fortuna sedang pergi shopping bersama dewi-dewi yang lain,sehingga tak bisa menemaniku dan mengabulkan permintaanku untuk bisa kembali ke apartemen untuk mengganti legingku yang tak terselamatkan ini. Sehingga khayalan nomor peserta yang tertinggal hanya tinggal harapan.
Mobil telah terparkir rapi di baseman. Kini rob dan janet bersiap-siap meninggalkan mobil. Aku mulai cemas, Dengan spontan aku memilih kembali pura-pura tidur. Senjata murahan yang cukup ampuh.
“man,kita dah sampai——yuk kita,” rob menghetikan kata-katanya ketika melihatku terpejam di jok belakang. “ya ampun,dia pasti capek banget. ya udah kita biarin aja dia tidur,ntar kita sms aja”,ujarnya pada janet
Mereka pergi meninggalkan aku sendiri di mobil——Begitu posisi mereka sudah agak jauh. Aku membuka mataku dan sebisa mungkin berusaha menyelamatkan legingku. Ku tararik celana leginku yang tertempel kuat oleh lem-lem sialan ini. Ku tarik agak keras dan kreeeeekkk-----
“oo-oo.” batinku semakin tercekam. Ku tutup kedua mataku dan dahi yang membentuk lipatan-lipatan kecil di sertai keringat sebesar biji jagung merembet keluar melalui lubang pori-poriku.
Ku tarik lagi dan kembali terdengar bunyi kreekk. Tapi bunyinya semakin keras dan panjang.
“aduh,” ujarku perlahan.
Pelan-pelan ku balikan pandanganku ke jok belakang. Amazing—— bulatan kain hitam benar-benar tertempel rapi di jok belakang.
Ku raba-raba bokongku dan amazing lagi,celana dalamku tak terbungkus lagi.
“aduh,gimana mau keluar nie,” panik ku.
Aku celingukan ke sekitar halaman parkir. “sunyi,ini artinya gue bisa lari ke toilet baseman. Selanjutnya pikirin ntar ja,”
Bergegas turun,celingukan kanan kiri seperti maling ayam sambil memegangin lubang yang membentuk oval di celanaku. Aku terus berlari menuju toilet. “Great”, seruku dalam hati. toilet tinggal beberapa meter lagi. tapi apa yang ku dapat begitu sampai di depan toilet.
“what,toilet rusak,”
Aku menoleh ke belakang——bermaksud ingin kembali ke mobil. Tapi tanggung sudah setengah perjalanan pikirku. Perjalanan mencari toilet lanjut ke dalam gedung. Lagi-lagi aksi celingak-celinguk seperti maling ayam ku lakukan.
“sunyi——berarti aman,” batinku.
Aku terus berlari tanpa menghentikan aksi celingak-celinguk. Tapi betapa terkejutnya ketika ada beberapa pemuda yang melintas di belakangku menuju parkir,bersiul kepadaku sambil cekikikan dan berujar,
“wow,nice buttock shawty,” ujar salah satu pemuda.
Ku balikan tubuhku dan ku pelototi mereka. Bukannya pergi malah semakin mentertawai aku. Aku alihkan mataku ke sekitar untuk mencari sesuatu yang bisa di lemparkan pada pemuda-pemuda brengsek ini.
Ekor mataku mengarah ke sepatuku. Spontan ku ambil dan ku lemparkan ke arah mereka——Baru mereka pergi.
“hei take easy bitch.” aku sempat mendengar umpatan mereka. Tapi sama sekali tak aku perdulikan.
Aku berlari kecil mengambil sepatu yang ku jadikan senjata untuk melempar pemuda-pemuda genit tadi. Ku kenakan lagi dan wuss——berlari secepat mungkin mencari toilet.
“Bagus,toiletnya gak rusak.” Aku langsung menghambur ke dalam toilet. Ada 5 bilik di dalam toilet.
“bagus,Cuma satu yang terpakai.” Ku banting pintu bilik dan langsung nongkrong di toilet. Aku masih panik. Ku gigit bibir bawahku——tiba-tiba handphone ku bergetar.
Sms dari rob,pemberitahuan bahwa dia dapat giliran battle ke 3 dan memintaku langsung ke sana begitu membaca smsnya.
“mau ke sana gimana——pantat masih bolong gini.” Gerutuku.
Sesaat aku masih bingung hendak bagaimana. Tapi aku dapat ide. Ku raih lagi ponselku. Ku ketik pesan pada harold,ku ceritakan singkat apa yang terjadi padaku dan memintanya membelikan jeans di toko sebelah. Ku cantumkan ukuran celanaku serta tak lupa warning,agar dia tak mengatakannya pada rob. Ku kembalikan ponselku ke saku celana begitu pesan terkirim pada Harold.
Terdengar suara bilasan di bilik sebelah. Lalu pintu yang terbuka. Terdengar jelas sang empunya suara bernyanyi riang. Itu seperti suara janet,pikirku. Dia menghentikan nyanyiannya.
“rob,kamu gak akan bisa menolak pesonaku——pesona bintang seorang janet mccarty,”ujarnya penuh percaya diri di depan cermin sambil mengibas-kibaskan pelan rambutnya.
Aku penasaran dengan apa yang di buatnya. Aku mengintip dari bawah pintu kamar mandi yang memang tak tertutup semua. Ku lihat topi isi cacing masih di tentengnya. Di letaknnya topi di wastafel. Dia menyisir lembut rambut gelombangnya yang berwarna coklat kemerahan. Di raihnya topi isi cacing dan di kenakannya. Hatiku melonjak girang——ketika air wajahnya berubah bingung bercampur cemas,ketika dia meraskan ada yang lain di dalam topinya. Di tarik topinya perlahan——
“5,4,3,2,1” aku mengitung mundur dan
“arrrrrrggggghhhhhhhh.” teriakannya menggema di setiap sudut kamar mandi. Di lempar topinya ke pojok. Dia merogo-rogo tasnya——entah apa yang di carinya. Tapi lagi-lagi raut wajahnya berubah. Ketika menyentuh benda dingin dan empuk. Pelan-pelan ditarik tangannya dari dalam tas dan
“5,4,3,2,1” aku mengitung mundur lagi
“arrrrrrrrggggggghhhh…..” histerianya kembali menggema saat mendapati ada kodok di tangannya.
“yes.” pekikku pelan dengan tawa geli melihat tingkah penyihir jalang yang ketakutan,sampai dia naik ke atas wastafel.
Batinku puas melihatnya tercekam. Paling tidak terlampiaskan sudah kekesalanku padanya dan jebakanku ada yang berhasil,ya walaupun satu jebakan menjadi bumerang untukku.
Tapi pemandangan indah itu harus terhenti dengan masuknya beberapa orang yang sempat mendengar teriakan janet.
“ada apa nona?”, tanya seorang wanita berkulit hitam setengah baya diikuti beberapa orang di belakangnya.
Janet yang masih berteriak geli di atas wastafel——hanya mengarahkan telunjuknya ke arah topi dan katak yang melompat-lompat di sekitar ruangan.
Wanita setengah baya itu——dengan sikap hati-hati meraih topi milik janet. Begitu dia membuka topi itu,dia sedikit terkejut.
“sudah tenang young lady,aku akan membuangnya.” ujar sang wanita setengah baya.
“iya cepetan bawa pergi,topinya untuk anda saja——oh iya,kataknya juga.” ujar janet.
“dasar wanita tak tahu terima kasih.” Umpatku ketika tak ia tunjukan rasa terima kasihnya pada wanita yang menolongnya membuang katak dan cacing itu.
Sang wanita setengah baya,pergi membawa topi dan katak janet pergi. Barulah janet turun dari wastafel.
“cacing sialan,jadi kotor deh rambutku.” dia membilas-bilas rambutnya.
“tapi tenang janet, kamu masih sempurna.” dia kembali memuji dirinya sendiri di depan cermin.
Kini tangannya mengobok-obok lagi isi tasnya.
“jackpot,” pekikku pelan.
Dia meraih lipgloss mintnya dan mulai menyapukan lipglossnya ke bibirnya yang seksi. Tapi dia sempat curiga dengan bau lipglossnya
“kok——kayaknya bau lipglossku lebih tajam ya dari biasanya——ah enggak,itu Cuma persaanku aja.” Dia menyapukan lipglossnya merata ke seluruh bibirnya “eh tapi,” janet mengipas-kipaskan tangannya ke arah bibir “kok jadi panas banget ya,aduh——panas banget——aduh,” pekiknya.
Dia membasu bibirnya dengan air dari kran wastafel. Dia terus membasu bibirnya sampai rasa panasnya benar-benar hilang.
Surprise——kejutan menanti ketika dia mengangkat wajahnya. Bibirnya merah merona dan sedikit bengkak.
“aduh gimana nie?” cemasnya.
Tiba-tiba pintu di ketuk.
“janet sayang,kamu gak apa-apakan?” suara dari luar pintu yang sangat familiar di telingaku.
janet membuka pintu kamar mandi dan mulai bermanja-manja dengan sang pemilik suara yang tak lain adalah rob. “sayang,liat nih.” Dia menunjukkan nasib bibirnya.
“loh,bibir kamu kenapa?” tanya rob dengan ekspresi heran.
“gak tau tuh lipglossku kayaknya kadaluarsa deh.”
“cewe bego”, umpatku pelan dari dalam wc “mana ada lipgloss kadaluarsa——kalau pun ada waktunya lama banget bego.”
“ya udah gak apa-apa——kamu tetap seksi kok,” rob menenangkan janet, “Yuk ntar lagi acara di mulai,” ajaknya pada janet.
Aku keluar dari persembunyianku ketika mereka sudah meninggalkan kamar mandi, “aduh harold lama banget sih.” aku berusaha menelpon harold tapi ternyata yang di telpon sudah mengetuk pintu kamar mandi.
“nie celana loe, udah ya acara dah di mulai tuh, dia tampak buru-buru.
“thanks har,”teriakku
aku bergegas mengganti celanaku yang bolong. Kini penampilan ku lebih baik. Paling tidak tak ada lagi lubang di bagian belakang an aku keluar dari tempat persembunyian sementaraku.
0 komentar:
Posting Komentar