BLOGGER TEMPLATES - TWITTER BACKGROUNDS

Rabu, 02 Februari 2011

love is the art part 5

Awal cerita baru
Aku bergegas menuju tempat acara. Benar saja rob,team dan juga peserta lainnya sedang perform bersama. Ku lihat janet menggoyang-goyangkan tubuhnya menikmati musik yang di suguhkan sang DJ. Aku malas bergabung dengannya. Aku memutuskan duduk di bar. Ku nikmati perform dari para peserta.
Ternyata saingan rob tak bisa di remehkan. Badan mereka tak kalah lentur dan cukup terlatih untuk menjadi competitor rob dan teman-teman. Tapi aku yakin,dragon fly tak mudah untuk di gugurkan. Aku tau benar kemampuan sky dan yang lainnya. Selesai perform,rob dan team kembali bergabung bersama janet. Begitu melihat mereka berkumpul baru aku berniat bergabung bersama mereka.
Aku berjalan mendekati rob,tapi begitu jarakku tinggal beberapa meter——aku di sambut dengan pemandangan yang benar-benar memporak-porandakan hatiku. Janet mencium bibir rob. Janet beraksi di bibir rob dengan paggutannya yang begitu terlatih. Di sambut oleh rob yang tak kalah hotnya. Pemandangan itu terlihat jelas dari posisiku.
Begitu rob dan janet menghentikan aksi ciumannya, sky beserta teman-teman yang lain menyambutnya dengan sorak-sorai bahagia,kecuali harold. Dia sudah memandang iba ke arahku. Tatapan mata Harold ke arah ku menyadarkan rob atas keberadaanku. Begitu Rob sadar akan keberadaanku dia segera menghampiri dan memelukku.
“tebak——loe bakal punya kakak ipar. Gue ma janet baru jadian. Gue belum tau bener-bener mencintainya atau gak,tapi gue akan coba untuk mencintainya.” ujarnya tepat disamping telingaku.
Aku mematung tak bergeming dan beberapa saat kemudian ku lepaskan pelukannya kemudian berlari keluar ruangan. Rob yang bingung mengejarku. Kini tak ku halangi air mataku yang meluap-luap dari balik pelupuk mataku. Ku biarkan air mataku tergenang membasahi pipiku. Rob berhasil menarik tanganku.
“loe kenapa nangis?” suaranya tampak begitu khawatir.
Dia membenamkan kepalaku di dadanya.
“gue udah bilang,gue gak akan tinggalin loe walau gue udah jadian dengan janet.”
Begitu mendengar dia menyebut nama janet——ku tolak tubuhnya menjauh dan aku kembali berlari. Lagi-lagi dia berhasil meraih tanganku.
“loe,kenapa sih? —— Jangan mentang-mentang gue sayang banget sama loe,loe seenaknya ngatur urusan cinta gue.”
Aku tertegun mendengar ucapannya. Ku pandang matanya. “loe mau tau kenapa gue jadi kayak orang gila gini?”
Kami sama-sama tak bergeming. Tak ku alihkan pandangan ku dari matanya.
“gue cinta sama loe rob dan ini hal terbodoh yang gue lakuin. Tapi gue gak bisa apa-apa. Sikap loe,kasih sayang loe yang udah nyeret gue ke pusaran cinta loe. Gue gak kuasa menolaknnya rob.”
Rob terperangah mendengar pengakuanku. Matanya mengekspresikan ketidak percayaan atas pengakuanku.
“heh,sekarang loe udah tau yang sebenarnya dan loe pikir——gue kuat liat loe sama cewe lain? Sumpah,gue gak sanggup liat loe sama wanita lain rob—gue gak sanggup.” Aku masih mematung di tempatku. Sempat aku melihat ekspresi sky,tim dan yang lain—yang saat itu berada di belakang rob.
Setelah mengakhiri kata-kataku,ku tinggalkan dia dengan 1000 macam kebingungan serta keterkejutan. Sempat aku menoleh ke arahnya yang masih mematung. Aku terus berjalan meninggalkannya. Tak tau kemana langkah kakiku pergi membawaku. Air mataku terus keluar dari pelupuk mataku. Ku seka air mata dengan punggung tanganku.
Sempat berpikir untuk pulang ke Indonesia. Tapi alas an apa yang akan ku berikan pada papa dan mamaku. Bila aku pulang tanpa gelar sarjana seniku. Bagaimana aku harus mempertanggung jawabkan ini pada mereka. Apa yang harus ku jawab bila mereka mempertanyakan kepulanganku ke Indonesia. Tak mungkin ku katakana yang sebenarnya.
Akhirnya ku putuskan untuk mengikuti kemana arah kakiku membawaku. Yang jelas aku gak akan balik ke apartemen rob. Aku akan mencari tempat persingahan sementara sampai keadaan kembali normal. Tapi di mana aku bisa menemukan tempat untuk singgah? Tak mungkin ke rumah sky,Harold,atau tim. Aku akan tetap bertemu rob.
Tapi tiba-tiba langkahku di hadang beberapa pemuda mabuk.
“hei shawty,let’s make some fun.” salah satu pemuda menghadang tepat di depanku. Sedangkan yang lain memelukku dari belakang. Aku meronta——menolak perlakuan mereka.
Ku dorong pria di depanku dan aku berlari sekencang-kencangnya. Beberapa kali mereka sempat meraihku——tapi aku berhasil kabur. Karena kalut, aku nekat menghadang mobil yang  lewat.
Decitan mobil yang menginjak rem mendadak terdengar memekakkan telinga. Aku segera berhambur masuk kedalam mobil “tolong bawa gue pergi dari sini——tolong,” aku mengiba pada sang empunya mobil. Dengan segera dia menginjak gas dan mobil melesat dengan cepat,meninggalkan tempat itu.
Baru aku bisa menarik nafas lega——bebas dari bajingan-bajingan yang nekat ingin bersenang-senang di siang bolong begini. Aku bersandar di jok mobil yang lumayan empuk,tapi tak seempuk mobil rob.
Kembali aku teringat padanya——aku sudah mulai merindukkanya. Ingin kembali ke apartemen,tapi tak mungkin. Aku tidak siap menghadapi kemurkaannya.
“ehem…..,” sang pemilik mobil berdehem sekali untuk menyadarkanku akan keberadaannya. Baru aku tersadar aku sedang menumpang di mobil orang.
“terima kasih atas pertolongannya.”
Dia hanya menganggukan sekali kepalanya pelan,bahkan aku hampir tak melihat anggukannya.
“sekarang mau kemana?” tanyannya yang sepertinya siap menjadi sopir sehariku.
“gue juga gak tau.” jawabku.
“maksudnya——loe gak punya tujuan?” tanyannya bingung.
Aku menganggukkan sekali kepalaku. Kami sama-sama diam sejenak. Tak lama dia membuka suara.
“loe ikut aja ke rumah gue.” Tawarnya.
“gak usah—gue gak enak sama keluarga loe.”
“gak——gak bakal ada masalah dengan keluarga gue.”
Sempat beberapa kali menolak,tapi kalo di pikir-pikir lagi——apa salahnya? toh gue juga gak ada tempat untuk bernaung. Keputusan final,aku menerima niat baiknnya.
Ternyata pemuda yang belakangan aku tahu bernama alex collin ini tinggal di luar kota,tepatnya di frederick. Butuh waktu kurang lebih 2 jam,menempuh perjalanan memasuki kotannya. Aku sempat memperkenalkan singkat tentang diriku. Ke perkenalkan nama serta asalku.
Di tengah perjalanan——aku yang merasa kelelahan,di serang rasa kantuk yang luar biasa. Mau tidak mau ku istirahatkan pikiran dan hatiku yang lumayan caruk-maruk. Sama sekali aku tak tau apa yang terjadi selama dalam perjalanan. Aku benar-benar terpulas tak berdaya.
Aku sudah terlalu lelah dengan semua yang terjadi selama ini. Bahkan aku tak tahu bagaimana sampai aku sudah berada di sebuah kamar yang hangat. Cat dinding biru muda yang sudah sedikit usang. Gorden jendela berwarna putih yang berkibar tertiup angin,serta ranjang dan selimut yang hangat.
Ku usap mataku pelan untuk memperjelas penglihatanku. Aku segera bangkit dari tidur dan duduk di atas tempat tidur. pikiran kotor seketika menyerangku ketika ku dapati aku sudah berganti kostum.
“aduh,bajuku——kok udah ganti?” aku meraba-raba baju yang baru kusadari bukan milikku.
“jangan-jangan dia tak jauh beda dengan pemuda-pemuda brengsek itu atau dia pemimpin kelompok itu atau jangan-jangan mereka satu komplotan”, terlalu banyak kekhawatiran bermain di kepalaku
“apa aku sudah di….” aku tak mampu melanjutkan kata-kataku. Aku terus menggeleng-gelengkan kepalaku.
“bagaimana aku begitu muda percaya dengan lelaki yang baru ku kenal.”
Aku yang masih berkutat dengan pikiran-pikiran bodohku tentang pemuda yang bernama alex itu. tiba-tiba ada seorang wanita yang melongok dari balik pintu. Wanita itu berperawakkan tinggi,agak gemuk,berkulit kuning langsat,manis——wajahnya tak jauh berbeda dan bisa di bilang hampir mirip dengan alex. Dia tersenyum dan semakin mendekat.
“kamu sudah bangun.”
Aku melongok tak menjawabnya. Dia menyambut dengan tawa kecil,begitu melihat ekspresiku.
“aku laura——kakak perempuan alex,” dia memperkenalkan dirinya. Kakak alex terlihat begitu ramah.
“kamu mandy kan?” tebaknya.
Aku mengangguk pelan sebanyak dua kali.
“alex sudah cerita semuannya,dan kamu boleh tinggal di sini.”
“terima kasih,tapi aku tidak ingin tinggal percuma di sini.”
Dia menyipitkan matanya dan kedua alisnya saling bertaut mendengar penuturanku. “maksud kamu?”
“paling tidak beri aku suatu tugas,agar aku tak merasa begitu sungkan.”
Dia mengerucutkan bibirnya dan mengangguk pelan.
“baiklah,berhubung aku kerja——jadi kamu bertugas mebereskan rumah ketika aku kerja dan satu lagi,tolong jaga anakku.” senyum manisnnya kembali melebar. “setuju?”
Aku mengangguk setuju dan membalas senyumnya.
“baiklah,aku harus membereskan dapur dulu” dia berpamitan dan melangkah menjauhiku.
“tunggu nona.” Panggilku.
Dia tertawa geli dan berbalik ke arahku.“cukup panggil aku laura——panggilan itu bisa membunuhku karena terlalu lama tertawa mendengar panggilan itu.”tawa renyahnya terdengar apik di telingaku.
“ok—ay.” jawabku malu dengan pipi bersemu merah, yang tampak dari meja rias di seberangku.
“laura,boleh tau dimana bajuku.”
“oh iya maaf,baju itu basah dengan keringat. Sepanjang perjalanan kalian berkendara tanpa AC mobil,AC mobil kami sudah beberapa hari ini tak berfungsi dengan baik. Alex sedang pergi mereparasinya. Tadi ketika tiba di rumah,kamu terlihat begitu lelah——sementara baju kamu basah dengan keringat. Jadi aku ganti baju kamu tanpa membangunkanmu. Bajumu ada di mesin cuci. Itu bajuku ketika masih kuliah. aku harap kamu suka.”  senyumnya kembali tersuguh di wajahnya yang manis. Kemudian dia keluar kamar.
Malam harinya,setelah aku di beri beberapa pasang baju-baju dan celana-celana laura yang sudah tak di pakainya serta beberapa keperluan sehari-hari,karena aku memang tak membawa apa-apa. Kami makan malam bertiga bersama anaknnya yang bernama jose——sementara alex belum terlihat sama sekali.
“kenapa alex belum pulang?” tanyaku.
“mungkin ia pergi ke rumah sepupunya untuk latihan piano. Alex sangat berniat menjadi pianis. Tapi aku tidak begitu memiliki cukup uang untuk membelikannya piano atau menyekolahkan dia di sekolah musik yang——ya harganya tidak murah.” terang laura.
Aku hanya mengisyaratkan dengan anggukan,peetanda aku mengerti. Terdengar suara pintu yang bunyinya terdengar sudah cukup tua—‑‑terbuka dan kemudian terbanting. Di bawah cahaya lampu tampak seonggok bayangan yang berjalan menuju kea rah kami dan kemudian pelan-pelan sinar lampu yang tak terlalu terang menyinari sosok alex yang ternyata‑‑‑‑sangat tampan. Aku tak menyadarinya ketika berada semobil dengannya.
Dia mendekati laura dan memberi ciuman ke pipi laura dan berganti ke arah jose dan mengankatnya tinggi-tinggi. Terdengar suara tawa khas anak kecil yang begitu menggemaskan.
“loe udah makan.” Tanya laura.
“udah di rumah bibi renee oh iya mereka salam buat loe. Katanya kenapa loe gak pernah main ke sana.
“terus loe bilang apa?”
”ya gue bilang loe lagi sibuk nyiapin pernikahan.”
“loe ngomong asal ya‑‑‑‑ntar kalo mereka nganggapnya bener gimana?” protes laura.
“ya gaklah,gue juga bilang loe mau nikah sama si josh‑‑‑‑mana mungkin mereka percaya. Mereka aja ketawa gue bilang loe mau kawin sama si josh.”
“sialan loe‑‑‑‑emang loe punya abang ipar yang udah bangkotan gitu.”
“yah kalo gue sih terserah loe aja‑‑‑‑mana ada hubungannya dia sama gue,yang di kawinin kan loe.” Canda alex yang bergabung di meja makan bersama kami. Bermain bersama jose.
Dia menoleh ke arahku sesaat dan melempar sebuah senyuman yang—‑WOW. Selesai makan,aku membantu laura membereskan meja makan dan dapur. Selepas beres-beres aku kembali ke kamar. Aku duduk di tempat tidur yang tepat bersebelahan dengan jendela.
Pikiran ku terbang ke tempat rob. Sedang apa dia bersama janet tanpa aku sekarang ini? Tidakkah dia mengkhawatirkan aku? Kenapa ponselku dari tadi tak berdering. Tak adakah satupun yang menghubungiku? Apa dia benar-benar tidak menginginkan aku pulang.
Ku raih ponselku yang sedari tadi tak tersentuh di atas meja rias “DAMN,” makiku pelan ketika mendapati Ponselku habis baterai. Ku banting ponselku ke atas tempat tidur.
Pintu kamar terbuka. Terdengar langkah kecil dari sosok yang menggemaskan‑‑‑‑jose.
Dia naik dan duduk di sampingku,dia tersenyum kepadaku. Aku mengangkatnya kepangkuanku. Gak lama sang ibu datang.
“jose sini,jangan ganggu tante.” panggilnya pada anak lelaki satu-satunya
Sementara jose tak bergeming dari pangkuanku.
“tak apa laura,biar aku bermain bersamanya—‑paling tidak aku harus mendekatkan diri dengan jose. Aku-kan nanny-nya sekarang.” ujarku dan kemudian mendaratkan ciumanku di pipi jose
“ya udah,jose jangan nakal ya.” ujarnya mengankat telunjuknya pada jose.
Jose mengangguk dengan senyum yang melebar di wajahnya. Setelah mamanya keluar kamar,ku angkat dia. Kini wajahnya tepat di depan wajahku.
“kita mau main apa?” tanyaku antusias.
Dia masih tertawa dan menjulurkan lidahnya ke hidungku.
“hei,kau mengejekku ya.”
Dia kembali menjulurkan lidahnya dengan senyum licik khas anak-anak.
“kalau kau melakukannya sekali lagi,kau akan tau rasa.” ku tusuk pelan perut bagian kirinya dengan jari telunjukku.
Badannya meliuk ke kiri dan tawa kecilnya terdengar. Tapi dia menjulurkan lidahnya lagi. kini ku tusuk perut bagian kanannya. Tawanya makin renyah terdengar dengan badan yang kembali meliuk kekanan dan menjulurkan lidahnya kembali.
“kau ingin bermain-main ternyata ya.” jari ku kini bermain di pinggang dan perutnya. Jose tertawa begitu lepas sambil badannya yang terus meliuk seperti ular.
Puas bermain,ku lihat dia mulai kelelahan. Ku rebahkan dia di samping tubuhku. Ku bacakan dongeng peterpan yang aku sudah memahami isi ceritanya tanpa perlu melihat bukunya.  Aku terus bercerita sampai kami berdua tertidur kelelahan.
Malam pertama meninggalkan Baltimore dan rob. Sebuah awalan baru,memulai hidup tanpa bayang-bayang dan perhatian rob. Membuka lembaran dan memulai sebuah cerita dari awal tanpa rob. Mampukah aku hidup jauh darinya? Mampukah aku melupakannya? Entahlah?
Yang aku tahu pasti,aku ingin menyimpan semua kenangan,cerita lama diriku dengan rob dan menutup serta menguncinya rapat-rapat di sebuah ruang yang tak mampu ku jangkau untuk di buka kembali. Ini jelas menyiksa,tapi setidaknya tawa jose malam ini mampu menghibur dan meredam sedikit rasa sakitnya.

love is the art part 4

Pelampiasan
Keesokan paginya begitu ku buka mata,ku dapati aku ada di sebuah kamar yang sepertinya ini bukan kamar milikku. Kamar yang menggambarkan indentitas sang pemilik. Kamar yang di tata dengan wallpaper bergambar baby doll dengan background berwarna pink dan meja rias yang penuh dengan alat-alat rias. Ku lirik jam yang berbentuk matahari dengan sebuah senyuman.
“hah? Jam 11 lewat,” aku shock dan bergegas turun dari tempat tidur. Ku usap pelan wajahku dan berusaha mengenali tempat ini. Sesaat memutar otak dan ternyata…..
“ya ampun,ini kan rumah simon,” aku berlari dari kamar yang ku tebak milik adik perempuan simon yang baru beranjak remaja ke tempat latihan,benar mereka semua berkutat dengan koreo-koreo dance dan tebak——  siapa perempuan dengan tank top ketat berwarna putih dan di lapisi dengan cardigan hitam di padukan dengan jeans hitam pendek dan super ketat.
“bitch janet,” batinku.
Rob yang melihat ku berdiri di sudut pintu menghentikan tariannya dan berlari kecil ke arahku.
“loe dah bangun!! Sorry tadi pagi gue gak tega bangunin loe. Keliatannya loe ngantuk banget. sampe-sampe ada pulau di bantal loe.” ledeknya dengan tawa yang melengkapi paket ledekannya.
Ku pukul pelan perutnya dan membalas dengan tawa masam.
“ya udah mandi sana—— tuh baju ada di jok belakang mobil,” sarannya dan tiba-tiba si janet menghampiri dan mengaitkan tangannya di pinggang rob.
“sayang,kamu kayaknya sayang banget sama mandy.”
“iya dong sayang,dia kan adikku. Ya walau bukan adik kandung,” jawab rob.
“terus kalo sayang kamu ke aku ke aku gimana?”
“kalo ke kamu beda dong.” terang rob sambil mengedipkan matanya.
Ku sipitkan mataku dan ku tatap tajam janet. Janet membalas dengan tatapan penuh kemenangan dan di tambah senyum sinis yang special di tujukan padaku.
“nih pelacur,kayaknya cari perang sama gue.” Batinku dengan tatapan sinis yang masih belum bergeser satu centipun dari wajah janet.
“ya udah,gue balik latihan ya,” pamit rob padaku dan berlari kembali bergabung dengan tim dan yang lainnya.
Ku pikir setelah rob pergi,nenek sihir itu bakal mengekor di belakang rob——ternyata dia stay untuk melontarkan kalimat yang cukup member tamparan keras buatku.
“gue udah bilang,lebih baik loe buang mimpi loe untuk dapatkan dia. See——dia milih gue,dan loe,” senyum sinisnya kembali tersuguh “tuhan Cuma takdirkan loe untuk jadi adiknya. Jadi stop bermimpi dengan priaku,dasar dreamer.”
Dadaku sesak mendengar kata-katanya. Ku tarik nafas dalam-dalam untuk menyuplai oksigen segar ke dalam paru-paruku yang serasa terhimpit beban berat. Ku balikan tubuhku menuju ke lataran rumah simon. Untuk mengambil pakaian di jok belakan mobil dan bergegas membersihkan tubuh setelahnya.
Selesai mandi——ibu simon menyapaku. “mandy sayang,sini.” panggilnya.
Aku melangkah ke arah tempat dia berada. Di tarik pelan tubuhku dan di cium kedua pipiku.
“sini——ni sarapannya,” dia menyodorkan sepiring kentang tumbuk,daging asap dan saus krim. “Kata rob,tadi kamu masih tidur,jadi dia sisakan makanan untuk sarapan kamu. Nie,” dia menyodorkan piring dengan hidangan yang tampak begitu lezat,yang tersaji di atasnya.
Ku ambil,paket sarapanku. Ku letakan di meja makan dan ku tempelkan bokongku ke kursi,diikuti oleh mama simon.
“gimana,enak?” tanyanya antusias.
“hmm-hmmm.” anggukku dengan mulut yang tersumpal penuh. Ku sapu krim yang menempel di samping bibirku dengan ibu jariku.
“rob sayang banget ya sama kamu,” ujarnya sambil tersenyum,memandang ke arahku.
Aku hanya balas dengan senyuman,karena mulutku masih penuh dengan kentang dan daging asap. Sesaat hatiku berbunga-bunga ketika dia mengatakan bahwa rob begitu menyayangiku.
“dia pernah bilang,dia bahagia bisa mempunyai saudara perempuan,walaupun bukan saudara kandung. Kamu beruntung punya kakak yang selalu memperhatikan kamu.” Ucapan ibu simon seketika meracuni kuntum bunga yang baru saja bersemi di taman hatiku dan seketika mati begitu saja. “Gak seperti simon dan adiknya,setiap hari tante harus dengar perang mulut mereka. Setiap hari caci maki terdengar dari mulut simon dan briana,” curhatnya sambil tersenyum sendiri dan menggeleng-gelengkan kepala.
“tante,aku lebih memilih rob dan aku bertengkar mulut setiap harinya,ketimbang aku harus menerima semua perhatian ekstranya—— yang toh membuatku menyimpan cinta dan membuatku tertekan, Karena aku mengharapkan cinta yang lebih dari seorang kakak.” batinku.
“mom,” tiba-tiba jerit briana adik perempuan simon dari lantai dua membahana.
“iya,sebentar,” balas mama simon pada briana.
“sayang,tante ke atas dulu ya.”
Aku hanya menganggukan pelan kepalaku dan tersenyum. Selesai berpamitan,dia bergegas menemui putrinya. Ku selesaikan sarapanku dan bergegas kembali ke ruang latihan. Lagi-lagi pemandangan romantis janet dan rob yang harus ku lihat. Mereka bercengkrama mesra.
Kali ini bibir sexy janet mendarat di pipi rob. Pemandangan ini benar-benar menyiksa ku. aku tak bergeming,mematung memandang lurus ke arah rob dan janet. Rob menggenggam mesra tangan kiri janet,lalu meletakannya di pinggang rob, kemudian tangan kiri rob menggenggam tangan kanan janet. Kini mereka ada di posisi untuk slow dance. Tatapan mata rob tak beralih dari mata janet. Kini tawa kecil menyelingi slow dance mereka.
Merasa tak mampu menyaksikan semuanya,aku berlari menuju taman. Aku berusaha untuk tetap tidak membuang air mataku. Ku tarik nafas dalam-dalam dan ku keluarkan dengan berat. Aku masuk ke dalam mobil,terpintas ide untuk ngerjain janet. Kulampiaskan kemarahanku dan akhirnya ide untuk menjahili-nya-pun muncul.
Untuk menjalankan aksi pelampiasan amarah serta rasa cemburu yang sudah memenuhi dadakku, aku keliling taman untuk mencari binatang-binatang yang menjijikan. Beberapa menit mengacak-acak taman milik keluarga simon—— akhirnya aku menemukan seekor katak besar dengan bagian bawah yang menggembung.
Aku sebenarnya jijik, tapi demi menjalankan aksiku——ku cari cara untuk mengambilnya. Ku angkat katak itu dengan menggunakan sehelai daun. Ku bawa menuju mobil dan ku selipkan masuk ke dalam tas janet. Usahaku menjahilinya tak hanya sampai di situ. aku  kembali mengobrak-abrik kebun milik simon. Kini aku congkel tanah-tanah gembur untuk mencari beberapa cacing. “Great mandy”, pekikku dalam hati girang.
Tumpukan cacing seperti menjadi jackpot untukku. Lagi-lagi ku raih mereka dengan sedikit rasa geli menggunakansehelai daun. Kali ini ku masukan ke dalam topi janet. Tapi tak cukup sampai di situ. ku bongkar bagasi mobil rob,karena seingat ku rob menyimpan lem di dalam bagasi mobilnya.
Ku ambil lem dan ku oleskan di jok belakang. Karena janet selalu ku suruh duduk di jok belakang. Tapi tiba-tiba aku menemukan balsem yang dulu pernah ku bawa dari Indonesia, karena ku pikir akan susah mencari minyak kayu putih atau balsam di Negara adidaya ini——makanya ku bopong balsam ini dari indonesia. Tadinya kukira balsem ini hilang.
Aku langsung mendapat ide cemerlang,ku oleskan balsem super duper panas di lipgloss milik janet. Kebetulan lipgloss janet juga berbau mint dan dia gak akan curiga ketika menggunakannya.wanita itu cantik dan menawan,tapi otaknya kosong. Jadi dia gak mungkin curiga.
“hehehehe,mampus loe! dower-dower dah tuh bibir. Gue aja yang sering balseman gak tahan sama nie balsam,heh——apalagi loe. tawa iblisku melebar.
Selesai mengatur semua jebakan,tanganku mulai terasa panas. “aduh panas,” ku kipas-kipas tanganku yang terkena balsem. Aku berlari menuju dapur untuk membersihkan barang bukti. Ku cuci tangan ku berkali-kali. Bau balsam yang cukup menyengat sudah tidak membekas,tapi panasnya masih sedikit terasa. Ku keringkan tanganku. Tepat selesai mengeringkan tangan,rob datang.
“yuk,berangkat!!! kita mau daftar ulang—— ntar gak keburu,”
Ku berjalan tepat di belakangnya. Astaga—janet sudah stand by di jok depan. Ku tarik tangan rob,“ngapain dia duduk di depan?” protesku
Dia menoleh sekilas ke arah janet dan kembali melihatku.
“udah deh gak apa-apa,sekali-sekali——masalah tempat duduk aja di ributin. Udah yuk ntar telat untuk register ulangnya.”
“aduh mampus——kalo gini namanya bukan cuma senjata makan tuan,tapi senjata makan nyonya juga. Aduh……”, kini cemas mulai menggelayutiku.
Dengan ragu ku buka pintu belakang. Ku pandangi kilatan-kilatan yang jelas masih begitu basah. Ku telan ludahku dengan susah payah,menggambarkan semua kecemasanku.
“mandy cepet dong,yang lain dah pada pergi tuh.” ujar rob dari kemudi depan.
Mau gak mau akhirnya ku tempelkan bokongku ke jok yang sebelumnya telah ku lumuri lem.
Nyessss——rasa dingin menembus sampai kulitku. Kepalaku mulai di liputi kecemasan. Sepanjang jalan aku tak bisa konsentrasi dengan keadaan sekelilingku. Aku berharap ada sesuatu yang bisa membawa kami kembali ke apartemen. “Aduh please balik ke apartemen.” Aku berkomat-kamit dalam hati.
Aku berdoa nomor peserta atau ada benda yang di tinggalkan rob di apartemen,sehingga memaksa kami kembali ke apartemen. Agar aku bisa mengganti legingku yang sudah ku pastikan akan robek ketika aku mengankat bokongku dari kursi yang sudah penuh dengan lem yang daya rekaynya cukup kuat.
Tapi sepertinya hari ini dewi fortuna sedang pergi shopping bersama dewi-dewi yang lain,sehingga tak bisa menemaniku dan mengabulkan permintaanku untuk bisa kembali ke apartemen untuk mengganti legingku yang tak terselamatkan ini. Sehingga khayalan nomor peserta yang tertinggal hanya tinggal harapan.
Mobil telah terparkir rapi di baseman. Kini rob dan janet bersiap-siap meninggalkan mobil. Aku mulai cemas, Dengan spontan aku memilih kembali pura-pura tidur. Senjata murahan yang cukup ampuh.
“man,kita dah sampai——yuk kita,” rob menghetikan kata-katanya ketika melihatku terpejam di jok belakang. “ya ampun,dia pasti capek banget. ya udah kita biarin aja dia tidur,ntar kita sms aja”,ujarnya pada janet
Mereka pergi meninggalkan aku sendiri di mobil——Begitu posisi mereka sudah agak jauh. Aku membuka mataku dan sebisa mungkin berusaha menyelamatkan legingku. Ku tararik celana leginku yang tertempel kuat oleh lem-lem sialan ini. Ku tarik agak keras dan kreeeeekkk-----
“oo-oo.” batinku semakin tercekam. Ku tutup kedua mataku dan dahi yang membentuk lipatan-lipatan kecil di sertai keringat sebesar biji jagung merembet keluar melalui lubang pori-poriku.
Ku tarik lagi dan kembali terdengar bunyi kreekk. Tapi bunyinya semakin keras dan panjang.
“aduh,” ujarku perlahan.
Pelan-pelan ku balikan pandanganku ke jok belakang. Amazing—— bulatan kain hitam benar-benar tertempel rapi di jok belakang.
Ku raba-raba bokongku dan amazing lagi,celana dalamku tak terbungkus lagi.
“aduh,gimana mau keluar nie,” panik ku.
Aku celingukan ke sekitar halaman parkir. “sunyi,ini artinya gue bisa lari ke toilet baseman. Selanjutnya pikirin ntar ja,”
Bergegas turun,celingukan kanan kiri seperti maling ayam sambil memegangin lubang yang membentuk oval di celanaku. Aku terus berlari menuju toilet. “Great”, seruku dalam hati. toilet tinggal beberapa meter lagi. tapi apa yang ku dapat begitu sampai di depan toilet.
“what,toilet rusak,”
Aku menoleh ke belakang——bermaksud ingin kembali ke mobil. Tapi tanggung sudah setengah perjalanan pikirku. Perjalanan mencari toilet lanjut ke dalam gedung. Lagi-lagi aksi celingak-celinguk seperti maling ayam ku lakukan.
“sunyi——berarti aman,” batinku.
Aku terus berlari tanpa menghentikan aksi celingak-celinguk. Tapi betapa terkejutnya ketika ada beberapa pemuda yang melintas di belakangku menuju parkir,bersiul kepadaku sambil cekikikan dan berujar,
“wow,nice buttock shawty,” ujar salah satu pemuda.
Ku balikan tubuhku dan ku pelototi mereka. Bukannya pergi malah semakin mentertawai aku. Aku alihkan mataku ke sekitar untuk mencari sesuatu yang bisa di lemparkan pada pemuda-pemuda brengsek ini.
Ekor mataku mengarah ke sepatuku. Spontan ku ambil dan ku lemparkan ke arah mereka——Baru mereka pergi.
“hei take easy bitch.” aku sempat mendengar umpatan mereka. Tapi sama sekali tak aku perdulikan.
Aku berlari kecil mengambil sepatu yang ku jadikan senjata untuk melempar pemuda-pemuda genit tadi. Ku kenakan lagi dan wuss——berlari secepat mungkin mencari toilet.
“Bagus,toiletnya gak rusak.” Aku langsung menghambur ke dalam toilet. Ada 5 bilik di dalam toilet.
“bagus,Cuma satu yang terpakai.” Ku banting pintu bilik dan langsung nongkrong di toilet. Aku masih panik. Ku gigit bibir bawahku——tiba-tiba handphone ku bergetar.
Sms dari rob,pemberitahuan bahwa dia dapat giliran battle ke 3 dan memintaku langsung ke sana begitu membaca smsnya.
“mau ke sana gimana——pantat masih bolong gini.” Gerutuku.
Sesaat aku masih bingung hendak bagaimana. Tapi aku dapat ide. Ku raih lagi ponselku. Ku ketik pesan pada harold,ku ceritakan singkat apa yang terjadi padaku dan memintanya membelikan jeans di toko sebelah. Ku cantumkan ukuran celanaku serta tak lupa warning,agar dia tak mengatakannya pada rob. Ku kembalikan ponselku ke saku celana begitu pesan terkirim pada Harold.
Terdengar suara bilasan di bilik sebelah. Lalu pintu yang terbuka. Terdengar jelas sang empunya suara bernyanyi riang. Itu seperti suara janet,pikirku. Dia menghentikan nyanyiannya.
“rob,kamu gak akan bisa menolak pesonaku——pesona bintang seorang janet mccarty,”ujarnya penuh percaya diri di depan cermin sambil mengibas-kibaskan pelan rambutnya.
Aku penasaran dengan apa yang di buatnya. Aku mengintip dari bawah pintu kamar mandi yang memang tak tertutup semua. Ku lihat topi isi cacing masih di tentengnya. Di letaknnya topi di wastafel. Dia menyisir lembut rambut gelombangnya yang berwarna coklat kemerahan. Di raihnya topi isi cacing dan di kenakannya. Hatiku melonjak girang——ketika air wajahnya berubah bingung bercampur cemas,ketika dia meraskan ada yang lain di dalam topinya. Di tarik topinya perlahan——
“5,4,3,2,1” aku mengitung mundur dan
“arrrrrrggggghhhhhhhh.” teriakannya menggema di setiap sudut kamar mandi. Di lempar topinya ke pojok. Dia merogo-rogo tasnya——entah apa yang di carinya. Tapi lagi-lagi raut wajahnya berubah. Ketika menyentuh benda dingin dan empuk. Pelan-pelan ditarik tangannya dari dalam tas dan
“5,4,3,2,1” aku mengitung mundur lagi
“arrrrrrrrggggggghhhh…..” histerianya kembali menggema saat mendapati ada kodok di tangannya.
“yes.” pekikku pelan dengan tawa geli melihat tingkah penyihir jalang yang ketakutan,sampai dia naik ke atas wastafel.
Batinku puas melihatnya tercekam. Paling tidak terlampiaskan sudah kekesalanku padanya dan jebakanku ada yang berhasil,ya walaupun satu jebakan menjadi bumerang untukku.
Tapi pemandangan indah itu harus terhenti dengan masuknya beberapa orang yang sempat mendengar teriakan janet.
“ada apa nona?”, tanya seorang wanita berkulit hitam setengah baya diikuti beberapa orang di belakangnya.
Janet yang masih berteriak geli di atas wastafel——hanya mengarahkan telunjuknya ke arah topi dan katak yang melompat-lompat di sekitar ruangan.
Wanita setengah baya itu——dengan sikap hati-hati meraih topi milik janet. Begitu dia membuka topi itu,dia sedikit terkejut.
“sudah tenang young lady,aku akan membuangnya.” ujar sang wanita setengah baya.
“iya cepetan bawa pergi,topinya untuk anda saja——oh iya,kataknya juga.” ujar janet.
“dasar wanita tak tahu terima kasih.” Umpatku ketika tak ia tunjukan rasa terima kasihnya pada wanita yang menolongnya membuang katak dan cacing itu.
Sang wanita setengah baya,pergi membawa topi dan katak janet pergi. Barulah janet turun dari wastafel.
“cacing sialan,jadi kotor deh rambutku.” dia membilas-bilas rambutnya.
“tapi tenang janet, kamu masih sempurna.” dia kembali memuji dirinya sendiri di depan cermin.
Kini tangannya mengobok-obok lagi isi tasnya.
“jackpot,” pekikku pelan.
Dia meraih lipgloss mintnya dan mulai menyapukan lipglossnya ke bibirnya yang seksi. Tapi dia sempat curiga dengan bau lipglossnya
“kok——kayaknya bau lipglossku lebih tajam ya dari biasanya——ah enggak,itu Cuma persaanku aja.” Dia menyapukan lipglossnya merata ke seluruh bibirnya “eh tapi,” janet mengipas-kipaskan tangannya ke arah bibir “kok jadi panas banget ya,aduh——panas banget——aduh,” pekiknya.
Dia membasu bibirnya dengan air dari kran wastafel. Dia terus membasu bibirnya sampai rasa panasnya benar-benar hilang.
Surprise——kejutan menanti ketika dia mengangkat wajahnya. Bibirnya merah merona dan sedikit bengkak.
“aduh gimana nie?” cemasnya.
Tiba-tiba pintu di ketuk.
“janet sayang,kamu gak apa-apakan?” suara dari luar pintu yang sangat familiar di telingaku.
janet membuka pintu kamar mandi dan mulai bermanja-manja dengan sang pemilik suara yang tak lain adalah rob. “sayang,liat nih.” Dia menunjukkan nasib bibirnya.
“loh,bibir kamu kenapa?” tanya rob dengan ekspresi heran.
“gak tau tuh lipglossku kayaknya kadaluarsa deh.”
“cewe bego”, umpatku pelan dari dalam wc “mana ada lipgloss kadaluarsa——kalau pun ada waktunya lama banget bego.”
“ya udah gak apa-apa——kamu tetap seksi kok,” rob menenangkan janet, “Yuk ntar lagi acara di mulai,” ajaknya pada janet.
Aku keluar dari persembunyianku ketika mereka sudah meninggalkan kamar mandi, “aduh harold lama banget sih.” aku berusaha menelpon harold tapi ternyata yang di telpon sudah mengetuk pintu kamar mandi.
“nie celana loe, udah ya acara dah di mulai tuh, dia tampak buru-buru.
“thanks har,”teriakku
aku bergegas mengganti celanaku yang bolong. Kini penampilan ku lebih baik. Paling tidak tak ada lagi lubang di bagian belakang an aku keluar dari tempat persembunyian sementaraku.

love is the art part 3

0,000001%
Ku pandagi dia yang masih bermain di alam bawah sadarnya. Pikiranku melayang kemana-mana. Dia terlihat begitu letih selepas pertandingan tadi malam. Aku belum membuang pandanganku dari wajahnya. Masih kunikmati wajahnya. Ingin rasanya aku berteriak sekeras-kerasnya dan bilang aku mencintainya,bukan sebagai seorang kakak. Bahkan melebih dari seorang kakak. Tapi aku takut dia tidak siap mendengarnya dan pergi menjauhiku. Ku tarik napasku dalam-dalam dan kemudian ku hembuskan.
Aku beranjak dari sofa menuju dapur. Menyiapkan roti bakar,telur mata sapi,dan 2 cangkir susu untuk sarapan. Ku tata roti di meja sekaligus dengan selai dan 2 telur mata sapi. Sambil melahap roti di tanganku,aku terus di rundung gelisah. Apa aku akan kehilangan rob?? benarkah tak ada pilihan?
Bila aku memilih diam,tak mengatakan padanya kemungkinan dia akan meninggalkan ku bersama janet. Bila aku mengatakannya dan dia marah lalu menjauhiku,dia akan tetap jadian dengan janet. Toh bilang atau pun tidak resikonya bisa saja sama. Apa sebaiknya ku ungkapkan saja? tapi aku belum siap di jauhi olehnya bila dia tak terima dengan pengakuanku..
Dia yang sedang ku pikirkan muncul dari balik pintu. Tersenyum seperti biasanya dengan hiasan lesung di pipinya. Mata biru lautnya begitu lembut memandangku. Rambut blonde yang masih berantakkan,di rapikan dengan jari-jarinya.
“pagi!!” sapanya dan mendaratkan ciuman di rambutku.
“pagi.” sahutku singkat.
Dia membasuh wajahnya dan berkumur-kumur di wastafel “tebak!!! gue masuk final.” ujarnya antusias dengan senyuman lebar berbalik kearahku.
“selamat deh.” balasku tanpa menunjukan antusiasku.
“loe kenapa sie?”
“kenapa? Biasa aja!” balasku.
“kalo ada masalah atau gue punya salah,loe ngomong dong.”
“gak ada.” ujarku masih tetap dingin.
Aku menyudahi sarapan dan pergi meninggalkan dia. Belum sempat aku menjauhinya,tangannya dengan sigap meraih pergelangan tanganku. Ditariknya dan di genggamnya kedua bahuku. Kini mataku bertatap langsung dengan mata biru laut miliknya.
Jantungku menderu dan spontan ku rangkul dia erat-erat. Dia membalas pelukanku dengan begitu hangat. Di belai lembut rambutku.“loe kenapa?” Tanya rob lagi.
“gue belum siap kehilangan loe,kehilangan perhatian loe rob.” ujar ku di pelukannya.
“hei,siapa yang mau ninggalin loe?” terlontar Tanya dari mulutnya dengan nada bingung.
“maksud gue bukan ninggalin pergi,tapi…tapi berbagi perhatian loe dengan yang lain.” jelasku.
“tunggu—tunggu,maksud loe?”
“iya,gue belum siap kalo ntar loe pacaran sama janet,loe bakal nelantarin gue.” Sambungku.
Seketika tawanya membahana, Di lepas pelukannya dan mengacak-acak rambutku “ya ampun mandy,pikiran loe tuh yang gak-gak aja.” dia menggelengkan kepalanya. “Denger ya seandainya gue punya pacar nanti,siapapun dia——gue gak bakal kurangi 0,000001 % pun perhatian gue ke loe. Jadi stop berpikiran bodoh kayak gitu.” dia kembali ke meja makan dan melanjutkan sarapan dengan sisa senyum yang masih melekat di wajahnya. Sementara aku yang belum sepenuhnya tenang hanya tersenyum dan keluar meninggalkan ruang makan.
Sorenya,di halaman perpustakaan kampus aku,sky,tim dan Harold sedang mendiskusikan tugas yang di berikan mrs.smith. kebetulan aku,tim,sky dan Harold menimba ilmu di kampus yang sama,tepatnya kami kuliah di maryland institute college of art. Di tengah pendiskusian tugas,kami selingi dengan obrolan-obrolan ringan.
“dy,sayang banget beasiswa loe gak di ambil?” Ujar tim.
“tau nie anak,bego sampe tembus ke tulang rusuk. Kesempatan emas,beasiswa sekolah musik di france sampai tamat di hanyutkan gitu aja.” tambah sky.
“rob gak izinin gue pergi,katanya dia khawatir gue di sana gak ada yang jagain.”
“eleh,you have to ignored him. Seharusnya kalo loe ambil beasiswanya——mungkin loe udah jadi violin player terkenal,gak Cuma ngelukis hewan-hewan gak jelas.” oceh sky lagi dengan gemasnya.
“ya masih mungkinkan sky.” aku berusaha membela diri.
“ya bisa aja kan mandy.” sky tak mau kalah, “melukis bukan bakat loe, Ya walaupun lukisan loe bisa di bilang lumayan——untuk ukuran anak sd.” Ledek sky dan di sambut tawa kecil dari tim dan Harold.
Akupun turut tersenyum “nah loe sendiri——waktu dapat tawaran gabung sama Miami heat dancer,kenapa loe tolak mentah-mentah?” serbuku dengan mengingatkan kebodohan yang ia lakukan dengan menolak tawaran dari manager Miami heat dancer untuk bergabung dengan mereka.
“kalo itu,karena gue cinta sama team gue dan gue gak mau sukses sendiri. Kita bangun team ini sama-sama. Senang,susah,ribut,selisih paham udah kita rasain bareng-bareng dan itu yang menguatkan ikatan gue dengan semua personel team ini.” ujar sky mantap.
“oh sky.” peluk tim dan Harold berbarengan,ketika mendengar pernyataan sky.
“jadi terharu.” ujar tim kemudian mencium sky.
“berlebihan loe berdua.” sky menolak ke dua sikunya kearah perut mereka yang membuat tim dan Harold melepas pelukan dari sky.
Lucu melihat ketiga sahabatku bertingkah seperti ini. Tim dan Harold mengacak-acak rambut sky sesaat. Begitu tim dan Harold berhenti menggodannya,sky kembali mengomentari ku.
“nah kalo loe,loe tunggal. Loe gak perlu mikirin gue atau yang lain. Karena emang visi kita berbeda. Atau——jangan-jangan loe cinta sama rob? Sampe-sampe loe gak mau ninggalin dia.” ceplos sky.
Sesaat aku beradu pandang dengan Harold. “ya jelas gue cinta sama dia,diakan udah kayak kakak gue.” aku berusaha menutupi perasaanku yang sebenarnya.
Sky hanya mengangguk-angguk mantap sambil mengerucutkan bibir dan mengangkat alisnya tanpa curiga sedikitpun mendengar jawabanku.
Detik berikutnya dia kembali larut dalam buku yang ada di pangkuannya. Sementara aku berusaha mencerna kata-kata sky.
“sky benar,aku mencintai rob,sampai aku siakan ke sempatan emas untuk sekolah biola di france. Aku tak mampu menarik diri jauh darinya. Setiap aku berusaha menarik diri menjauh,dia selalu berhasil menyeretku kembali dalam naungan cintanya. Ingin ku lepas bayang-bayang cintanya,tapi aku tak mampu melakukannya. Hingga aku biarkan aku terseret jauh dalam arus cinta ini.”
Aku dan rob sedang berada di rumah simon untuk latihan mempersiapkan koreo untuk penampilan di final. Rob,tim,sky dan yang lainnya masing-masing menyumbangkan ide-ide dalam koreografi. Sementara aku duduk di taman bermain bersama semilir hembusan angin yang mempermainkan pelan helai-helai rambutku. terdengar musik yang sedari tadi mendendang tiba-tiba terhenti, pertanda break latihan.
Bergegas aku masuk ke tempat latihan untuk bergabung dengan mereka semua,tapi betapa terkejutnya aku ketika ku lihat di sana janet dan rob telah berpelukan mesra. Ada pedih mampir ke sela hatiku. Air mata ku sudah hampir menetes tapi ku kerjap-kerjapkan mataku berkali-kali berusaha menahan air mata yang sudah menggenang di kelopak mata. Ku seka Kristal cair itu sebelum benar-benar membanjiri mataku. Dengan sikap setenang mungkin aku melangkah memasuki ruangan.
Tanpa kecurigaan apapun sky menarikku dengan antusias untuk memamerkan koreografi hasil ciptaannya yang di sepakati di pakai sebagai salah satu koreo untuk final. Sky mulai meliuk-liukan,menggerakan badannya yang memang lentur,menunjukan gerakan zig-zag dan cross the floor yang berhasil ia ciptakannya. Sementara aku yang sama sekali sulit untuk berkonsentrasi pada koreografi yang di sugguhkan oleh sky menatapnya dengan tatapan hampa.. Ekor mataku menarik sudut pandanganku ke arah rob dan janet.
Aku yang tak menyadari sky yang telah selesai perform khusus padaku,terus menatap sky kosong,sementara pikiran ku terbang kepada rob.
“mandy——mandy.” bentaknya padaku.
Aku terkejut dan memberi tatapan bingung padanya. “hah.”
“loe liat gak sih?” protesnya.
“iya tadi,yang akhir agak gak konsen.”jawabku.
“emang loe kenapa sie?? Gue perhatiin dari battle kemarin loe kayak orang bimbang,bingung and gelisah gitu” Tanya sky yang ternyata menyadari perubahanku.
“gak,gue Cuma…..” sempat berfikir mencari alasan. “lagi mikirin tugas mrs.smith. satu goresanpun belum ada gue kerjakan. Sementara tuh lukisan dah harus di kumpul minggu depan” aku berdalih.
Padahal tugasku sudah selesai 5 hari setelah mrs.smith memberikan tugas itu. Hanya saja tak mungkin ku utarakan pada  mereka alasan yang sebenarnya——yang membuatku lebih banyak gundah akhir-akhir ini. Aku gundah karena mencintai rob,sahabat mereka——sahabat yang sudah seperti kakak laki-lakiku. Tapi tetap tak bisa di pungkuri dia bukan kakakku,yang masih berhak untukku cintai.
“ya amprut dy,gue kira loe gelisah karena lagi naksir cowo ato loe lagi ada masalah pelik lain. Gak taunya Cuma masalah tugas nenek tua smith.”
Aku hanya tersenyum memandang wajah sky yang ringan tanpa beban. Sebelumnya aku persis seperti dia. Ceria,bebas,tanpa beban. Tapi sejak aku memendam cinta pada rob, hidupku seolah berubah menjadi sangat berat. Setiap ia dekat dengan seorang wanita,itu menjadi beban untukku.
Aku ingin membuang rasa ini. Tapi setiap aku berusaha membuang perasaan ini,rasa ini semakin besar menjejal di relung hatiku. Tapi ketika aku pasrah menerima cinta ini,batinku tersiksa. Aku tak mampu memiliknya,seperti yang ku inginkan. Mau tak mau aku harus membiarkannya bahagia deengan wanitanya dan itu menyiksa sanubariku.
“mandy,loe udah makan siang?”rob menyapaku dan membuyarkan semua lamunanku. Janet dengan mesra berdiri di sisi rob. Ini salah satu yang menyesakkanku. Seperti tak ada suplai oksigen yang mengisi paru-paruku.
“yuk makan,tuh ada ravioli,loekan suka ravioli.”
Tiba-tiba harold menarikku menjauhi rob dan janet. Aku terkejut, Tapi paling tidak—— tindakkan harold menyelamatkan hatiku dari pemandangan yang semakin lama semakin memporak-poradakan hatiku.
“thanks ya har,” aku berterima kasih padanya.
“gue ngerti loe tertekan dengan pemandangan itu. Gue juga gak tau harus gimana? Loe berdua sahabat gue.” Dia diam sejenak, “Satu sisi gue gak mau liat loe sedih, tapi satu sisi gue gak ada alasan kuat untuk halangi hubungan rob dan janet.” harold menunjukan keprihatinanya.
“gue ngerti,gue yang tolol. Kenapa harus jatuh cinta sama rob.” aku mulai tak mampu menahan air mataku.
“gak ada yang salah dalam cinta,dy. Tak perlu menghakimi dirimu tolol karena cinta, cinta memiliki kekuatannya sendiri yang bisa mengalahkan daya pikirmu.
Pelupuk mataku mulai di genangi air mata yang membanjir. Tapi aku kembali mengerjap-kerjapkan mataku agar air mata ini tidak meluap keluar dari pelupuk mataku.
Harold menarik,memelukku. Tapi lagi-lagi pelukan harold tidak bisa menenangkan hatiku. Sesaat kemudian dia melepaskan pelukan ku.
“udah dong,senduh sedannya di tahan dulu. Selesai makan lanjutin lagi. Ntar gue pinjamin tetes mata deh,biar lebih dramatis.” candanya sambil menunjukan deretan giginya yang putih dan rapi.
Akhirnya aku bisa menarik sedikit sudut bibirku ke belakang membentuk sesimpul senyum.
“gitu kan manis—— semanis madu”, tambahnya dan mencubit pipiku.
“jayus loe,” aku balik mencubit pipinya.
Sepulang dari rumah simon,aku dan rob mengantar janet. Sesampai di kediamannya yang nan megah,lagi-lagi dengan gaya dan bahasa tubuh yang di buat se-hot mungkin. Dia berterima kasih pada rob.
“babe thanks ya,sampai jumpa besok ya.” pamitnya dan mengecupkan bibirnya dari jauh.
“ok,” balas rob dan mengedipkan matanya.
Kembali ku pandangi dua buah pepaya bangkoknya. Itu membuatku semakin membeci dia. Dia punya segala yang aku tak punya. Dia punya dua buah payudara yang bergizi,sementara aku tidak. Dia memeiliki kesempatan untuk mendampingi rob dan mendapatkan cinta special dari rob——sementara aku tidak. Selesai berbasa-basi rob mengemudikan mobilya melaju membelah jalanan baltimore.
“dy,rasanya gue gak sabar nunggu final besok.” ocehnya dengan penuh semangat.
Aku malas menemaninya ngobrol. Aku sebal dengan rob,Tapi sebenarnya gak ada alasan bagiku untuk sebel ataupun kesel. Toh dia memang bukan siapa-siapaku. Dia hanya anak dari sahabat orang tuaku yang menganggapku sebagai adiknya,karena kenyataannya dia memang tidak memiliki saudara perempuan. Kami sama-sama kuliah di tempat yang sama yaitu MICA. Hanya saja,dia seniorku 3 tahun. Jadi dia sudah mendapat gelar sarjana seni.
“loe udah ngantuk ya?” tanyanya sambil sesekali melihat kepadaku dan kembali menatap jalanan baltimore yang remang-remang. Diacak-acak rambutku dan diusap lembut pipiku. Ku sandarkan punggungku di jok mobil yang empuk. Ku palingkan wajahku ke arah jendela dengan tatapan nanar memandang jalanan.
Tak sadar berapa lama aku nanar memandang keluar jendela. Tiba-tiba saja mobil berhenti dan mesin mobil mati. Ternyata kami sudah berada di baseman apartemen.
“dy,kita dah sampai nie,” dia menggoncang pelan tubuhku.
Aku tak menjawab,aku pura-pura memejamkan mataku. Di tarik pelan bahuku,kini posisi menyamping telah berubah menghadap ke depan. Suasana hening,tidak ada suara ataupun sentuhan untuk membangunkan ku.
Tiba-tiba terasa sentuhan lembut di pipiku. Sentuhan ini sama sekali tak berubah—— selalu ada kehangatan di tiap jari-jari yang bersentuhan dengan pipiku. Bisa ku rasakan tempratur wajahku meningkat,terutama di daerah pipiku. Mudah-mudahan pipiku bisa bekerja sama dan tak memendarkan rona merah muda di pipiku.
Aku yang belum mampu mengatur suhu wajahku kembali normal, di kejutkan dengan sesuatu lembut yang menempel di keningku. Terasa hembusan nafasnya menyapu pelan rambutku. Menit berikutnya diangkat bibirnya dari keningku.
Aku masih terus menutup mataku. Terdengar suara pintu mobil di banting. Awalnya kupikir dia akan membawa ku ke kamar dengan cara menggendongku,tapi setelah menunggu dalam waktu yang cukup lama——tak ada tanda-tanda dia akan mengangkat dan membopongku sampai di kamar.
Pelan-pelan ku buka mataku. Sunyi,tak ada seorangpun di mobil. Ku angkat pelan-pelan kepalaku. Brengsek,rob ninggalin aku sendiri di mobil. “Ide brilliant dy—— dengan pura-pura tidur.” gerutuku dalam hati.
Perasaan cemburu dan melankolis yang sebelumnya bergelayutan di hatiku berubah menjadi perasaan kesal luar biasa. Aku langsung naik pitam,aku menggerutu sendiri dalam mobil.
”katanya perhatian gak bakal berubah kalo udah punya pacar,belum jadian aja gue dah di tinggal sendirian di mobil——konon kalau udah jadian,”
Aku terus menggerutu dengan posisi bibir yang sedikit ku condongkan beberapa senti ke depan. Di tengah ocehan-ocehan yang gak jelas. Terlihat sesosok bayangan yang berjalan di bawah gelap. begitu sinar lampu menerangi wajahnya,baru tampak bahwa itu adalah rob. Buru-buru aku kembali pada posisi semula. Posisi tidur,ehm—— tepatnya pura-pura tidur.
Dia menarik gagang pintu, terdengar deritan pintu mobil yang terbuka. Sesaat aku tak tau apa yang terjadi,tiba-tiba saja dia mengangkat kepala ku dan mengganjelnya dengan sesuatu yang empuk. Dia menarik panel kursi dan mendorongnya ke belakang. ditutupi sebagian tubuhku dengan kain tebal nan hangat dan kembali membanting pelan pintu mobil.
“nie orang sialan ya,tega banget dia ninggalin gue tidur di mobil sendirian——,” umpatku dalam hati dengan mata yang masih ku pejamkan.
Belum ku selesaikan umpatanku,terdengar lagi deritan pintu yang terbuka. Tapi kini pintu di seberangku. Ternyata rob kembali ke dalam mobil. Terdengar lagi pintu mobil yang di banting pelan dan suara deritan kursi yang di dorong ke belakang,menyentuh pelan jok belakang. Suasana kembali hening. Aku belum berani membuka mataku. Masih ku biarakn dia terpejam sampai aku rasa keadaan sudah tepat untuk membukanya
Pikiranku kembali berubah,Aku benar-benar salah,dia membuktikan kata-katanya. Tak akan mengurangi 0,000001% pun perhatiaanya padaku dan aku merasakannya saat ini. Situasi ini cukup menghibur hatiku,dan dengan cepat moodku naik,berubah menjadi lebih baik.
Aku gak akan pernah melupakan malam ini. Dia dan aku menghabiskan malam di mobil,walau aku biasa tidur dengannya dan harus mendengar dengkurannya yang lumayan keras,itu sudah cukup membantu memulihkan suasana hatiku yang sempat tak bagus karena si sexy janet mccarty.
Ini mungkin bakal masuk jajaran teratas 10 peristiwa penting dalam hidupku. Ku benahi posisi diriku dan ku biarkan diriku masuk ke dalam mimpi,bermain bersama mimpi-mimpiku dengannya.