Awal cerita baru
Aku bergegas menuju tempat acara. Benar saja rob,team dan juga peserta lainnya sedang perform bersama. Ku lihat janet menggoyang-goyangkan tubuhnya menikmati musik yang di suguhkan sang DJ. Aku malas bergabung dengannya. Aku memutuskan duduk di bar. Ku nikmati perform dari para peserta.
Ternyata saingan rob tak bisa di remehkan. Badan mereka tak kalah lentur dan cukup terlatih untuk menjadi competitor rob dan teman-teman. Tapi aku yakin,dragon fly tak mudah untuk di gugurkan. Aku tau benar kemampuan sky dan yang lainnya. Selesai perform,rob dan team kembali bergabung bersama janet. Begitu melihat mereka berkumpul baru aku berniat bergabung bersama mereka.
Aku berjalan mendekati rob,tapi begitu jarakku tinggal beberapa meter——aku di sambut dengan pemandangan yang benar-benar memporak-porandakan hatiku. Janet mencium bibir rob. Janet beraksi di bibir rob dengan paggutannya yang begitu terlatih. Di sambut oleh rob yang tak kalah hotnya. Pemandangan itu terlihat jelas dari posisiku.
Begitu rob dan janet menghentikan aksi ciumannya, sky beserta teman-teman yang lain menyambutnya dengan sorak-sorai bahagia,kecuali harold. Dia sudah memandang iba ke arahku. Tatapan mata Harold ke arah ku menyadarkan rob atas keberadaanku. Begitu Rob sadar akan keberadaanku dia segera menghampiri dan memelukku.
“tebak——loe bakal punya kakak ipar. Gue ma janet baru jadian. Gue belum tau bener-bener mencintainya atau gak,tapi gue akan coba untuk mencintainya.” ujarnya tepat disamping telingaku.
Aku mematung tak bergeming dan beberapa saat kemudian ku lepaskan pelukannya kemudian berlari keluar ruangan. Rob yang bingung mengejarku. Kini tak ku halangi air mataku yang meluap-luap dari balik pelupuk mataku. Ku biarkan air mataku tergenang membasahi pipiku. Rob berhasil menarik tanganku.
“loe kenapa nangis?” suaranya tampak begitu khawatir.
Dia membenamkan kepalaku di dadanya.
“gue udah bilang,gue gak akan tinggalin loe walau gue udah jadian dengan janet.”
Begitu mendengar dia menyebut nama janet——ku tolak tubuhnya menjauh dan aku kembali berlari. Lagi-lagi dia berhasil meraih tanganku.
“loe,kenapa sih? —— Jangan mentang-mentang gue sayang banget sama loe,loe seenaknya ngatur urusan cinta gue.”
Aku tertegun mendengar ucapannya. Ku pandang matanya. “loe mau tau kenapa gue jadi kayak orang gila gini?”
Kami sama-sama tak bergeming. Tak ku alihkan pandangan ku dari matanya.
“gue cinta sama loe rob dan ini hal terbodoh yang gue lakuin. Tapi gue gak bisa apa-apa. Sikap loe,kasih sayang loe yang udah nyeret gue ke pusaran cinta loe. Gue gak kuasa menolaknnya rob.”
Rob terperangah mendengar pengakuanku. Matanya mengekspresikan ketidak percayaan atas pengakuanku.
“heh,sekarang loe udah tau yang sebenarnya dan loe pikir——gue kuat liat loe sama cewe lain? Sumpah,gue gak sanggup liat loe sama wanita lain rob—gue gak sanggup.” Aku masih mematung di tempatku. Sempat aku melihat ekspresi sky,tim dan yang lain—yang saat itu berada di belakang rob.
Setelah mengakhiri kata-kataku,ku tinggalkan dia dengan 1000 macam kebingungan serta keterkejutan. Sempat aku menoleh ke arahnya yang masih mematung. Aku terus berjalan meninggalkannya. Tak tau kemana langkah kakiku pergi membawaku. Air mataku terus keluar dari pelupuk mataku. Ku seka air mata dengan punggung tanganku.
Sempat berpikir untuk pulang ke Indonesia. Tapi alas an apa yang akan ku berikan pada papa dan mamaku. Bila aku pulang tanpa gelar sarjana seniku. Bagaimana aku harus mempertanggung jawabkan ini pada mereka. Apa yang harus ku jawab bila mereka mempertanyakan kepulanganku ke Indonesia. Tak mungkin ku katakana yang sebenarnya.
Akhirnya ku putuskan untuk mengikuti kemana arah kakiku membawaku. Yang jelas aku gak akan balik ke apartemen rob. Aku akan mencari tempat persingahan sementara sampai keadaan kembali normal. Tapi di mana aku bisa menemukan tempat untuk singgah? Tak mungkin ke rumah sky,Harold,atau tim. Aku akan tetap bertemu rob.
Tapi tiba-tiba langkahku di hadang beberapa pemuda mabuk.
“hei shawty,let’s make some fun.” salah satu pemuda menghadang tepat di depanku. Sedangkan yang lain memelukku dari belakang. Aku meronta——menolak perlakuan mereka.
Ku dorong pria di depanku dan aku berlari sekencang-kencangnya. Beberapa kali mereka sempat meraihku——tapi aku berhasil kabur. Karena kalut, aku nekat menghadang mobil yang lewat.
Decitan mobil yang menginjak rem mendadak terdengar memekakkan telinga. Aku segera berhambur masuk kedalam mobil “tolong bawa gue pergi dari sini——tolong,” aku mengiba pada sang empunya mobil. Dengan segera dia menginjak gas dan mobil melesat dengan cepat,meninggalkan tempat itu.
Baru aku bisa menarik nafas lega——bebas dari bajingan-bajingan yang nekat ingin bersenang-senang di siang bolong begini. Aku bersandar di jok mobil yang lumayan empuk,tapi tak seempuk mobil rob.
Kembali aku teringat padanya——aku sudah mulai merindukkanya. Ingin kembali ke apartemen,tapi tak mungkin. Aku tidak siap menghadapi kemurkaannya.
“ehem…..,” sang pemilik mobil berdehem sekali untuk menyadarkanku akan keberadaannya. Baru aku tersadar aku sedang menumpang di mobil orang.
“terima kasih atas pertolongannya.”
Dia hanya menganggukan sekali kepalanya pelan,bahkan aku hampir tak melihat anggukannya.
“sekarang mau kemana?” tanyannya yang sepertinya siap menjadi sopir sehariku.
“gue juga gak tau.” jawabku.
“maksudnya——loe gak punya tujuan?” tanyannya bingung.
Aku menganggukkan sekali kepalaku. Kami sama-sama diam sejenak. Tak lama dia membuka suara.
“loe ikut aja ke rumah gue.” Tawarnya.
“gak usah—gue gak enak sama keluarga loe.”
“gak——gak bakal ada masalah dengan keluarga gue.”
Sempat beberapa kali menolak,tapi kalo di pikir-pikir lagi——apa salahnya? toh gue juga gak ada tempat untuk bernaung. Keputusan final,aku menerima niat baiknnya.
Ternyata pemuda yang belakangan aku tahu bernama alex collin ini tinggal di luar kota,tepatnya di frederick. Butuh waktu kurang lebih 2 jam,menempuh perjalanan memasuki kotannya. Aku sempat memperkenalkan singkat tentang diriku. Ke perkenalkan nama serta asalku.
Di tengah perjalanan——aku yang merasa kelelahan,di serang rasa kantuk yang luar biasa. Mau tidak mau ku istirahatkan pikiran dan hatiku yang lumayan caruk-maruk. Sama sekali aku tak tau apa yang terjadi selama dalam perjalanan. Aku benar-benar terpulas tak berdaya.
Aku sudah terlalu lelah dengan semua yang terjadi selama ini. Bahkan aku tak tahu bagaimana sampai aku sudah berada di sebuah kamar yang hangat. Cat dinding biru muda yang sudah sedikit usang. Gorden jendela berwarna putih yang berkibar tertiup angin,serta ranjang dan selimut yang hangat.
Ku usap mataku pelan untuk memperjelas penglihatanku. Aku segera bangkit dari tidur dan duduk di atas tempat tidur. pikiran kotor seketika menyerangku ketika ku dapati aku sudah berganti kostum.
“aduh,bajuku——kok udah ganti?” aku meraba-raba baju yang baru kusadari bukan milikku.
“jangan-jangan dia tak jauh beda dengan pemuda-pemuda brengsek itu atau dia pemimpin kelompok itu atau jangan-jangan mereka satu komplotan”, terlalu banyak kekhawatiran bermain di kepalaku
“apa aku sudah di….” aku tak mampu melanjutkan kata-kataku. Aku terus menggeleng-gelengkan kepalaku.
“bagaimana aku begitu muda percaya dengan lelaki yang baru ku kenal.”
Aku yang masih berkutat dengan pikiran-pikiran bodohku tentang pemuda yang bernama alex itu. tiba-tiba ada seorang wanita yang melongok dari balik pintu. Wanita itu berperawakkan tinggi,agak gemuk,berkulit kuning langsat,manis——wajahnya tak jauh berbeda dan bisa di bilang hampir mirip dengan alex. Dia tersenyum dan semakin mendekat.
“kamu sudah bangun.”
Aku melongok tak menjawabnya. Dia menyambut dengan tawa kecil,begitu melihat ekspresiku.
“aku laura——kakak perempuan alex,” dia memperkenalkan dirinya. Kakak alex terlihat begitu ramah.
“kamu mandy kan?” tebaknya.
Aku mengangguk pelan sebanyak dua kali.
“alex sudah cerita semuannya,dan kamu boleh tinggal di sini.”
“terima kasih,tapi aku tidak ingin tinggal percuma di sini.”
Dia menyipitkan matanya dan kedua alisnya saling bertaut mendengar penuturanku. “maksud kamu?”
“paling tidak beri aku suatu tugas,agar aku tak merasa begitu sungkan.”
Dia mengerucutkan bibirnya dan mengangguk pelan.
“baiklah,berhubung aku kerja——jadi kamu bertugas mebereskan rumah ketika aku kerja dan satu lagi,tolong jaga anakku.” senyum manisnnya kembali melebar. “setuju?”
Aku mengangguk setuju dan membalas senyumnya.
“baiklah,aku harus membereskan dapur dulu” dia berpamitan dan melangkah menjauhiku.
“tunggu nona.” Panggilku.
Dia tertawa geli dan berbalik ke arahku.“cukup panggil aku laura——panggilan itu bisa membunuhku karena terlalu lama tertawa mendengar panggilan itu.”tawa renyahnya terdengar apik di telingaku.
“ok—ay.” jawabku malu dengan pipi bersemu merah, yang tampak dari meja rias di seberangku.
“laura,boleh tau dimana bajuku.”
“oh iya maaf,baju itu basah dengan keringat. Sepanjang perjalanan kalian berkendara tanpa AC mobil,AC mobil kami sudah beberapa hari ini tak berfungsi dengan baik. Alex sedang pergi mereparasinya. Tadi ketika tiba di rumah,kamu terlihat begitu lelah——sementara baju kamu basah dengan keringat. Jadi aku ganti baju kamu tanpa membangunkanmu. Bajumu ada di mesin cuci. Itu bajuku ketika masih kuliah. aku harap kamu suka.” senyumnya kembali tersuguh di wajahnya yang manis. Kemudian dia keluar kamar.
Malam harinya,setelah aku di beri beberapa pasang baju-baju dan celana-celana laura yang sudah tak di pakainya serta beberapa keperluan sehari-hari,karena aku memang tak membawa apa-apa. Kami makan malam bertiga bersama anaknnya yang bernama jose——sementara alex belum terlihat sama sekali.
“kenapa alex belum pulang?” tanyaku.
“mungkin ia pergi ke rumah sepupunya untuk latihan piano. Alex sangat berniat menjadi pianis. Tapi aku tidak begitu memiliki cukup uang untuk membelikannya piano atau menyekolahkan dia di sekolah musik yang——ya harganya tidak murah.” terang laura.
Aku hanya mengisyaratkan dengan anggukan,peetanda aku mengerti. Terdengar suara pintu yang bunyinya terdengar sudah cukup tua—‑‑terbuka dan kemudian terbanting. Di bawah cahaya lampu tampak seonggok bayangan yang berjalan menuju kea rah kami dan kemudian pelan-pelan sinar lampu yang tak terlalu terang menyinari sosok alex yang ternyata‑‑‑‑sangat tampan. Aku tak menyadarinya ketika berada semobil dengannya.
Dia mendekati laura dan memberi ciuman ke pipi laura dan berganti ke arah jose dan mengankatnya tinggi-tinggi. Terdengar suara tawa khas anak kecil yang begitu menggemaskan.
“loe udah makan.” Tanya laura.
“udah di rumah bibi renee oh iya mereka salam buat loe. Katanya kenapa loe gak pernah main ke sana.
“terus loe bilang apa?”
”ya gue bilang loe lagi sibuk nyiapin pernikahan.”
“loe ngomong asal ya‑‑‑‑ntar kalo mereka nganggapnya bener gimana?” protes laura.
“ya gaklah,gue juga bilang loe mau nikah sama si josh‑‑‑‑mana mungkin mereka percaya. Mereka aja ketawa gue bilang loe mau kawin sama si josh.”
“sialan loe‑‑‑‑emang loe punya abang ipar yang udah bangkotan gitu.”
“yah kalo gue sih terserah loe aja‑‑‑‑mana ada hubungannya dia sama gue,yang di kawinin kan loe.” Canda alex yang bergabung di meja makan bersama kami. Bermain bersama jose.
Dia menoleh ke arahku sesaat dan melempar sebuah senyuman yang—‑WOW. Selesai makan,aku membantu laura membereskan meja makan dan dapur. Selepas beres-beres aku kembali ke kamar. Aku duduk di tempat tidur yang tepat bersebelahan dengan jendela.
Pikiran ku terbang ke tempat rob. Sedang apa dia bersama janet tanpa aku sekarang ini? Tidakkah dia mengkhawatirkan aku? Kenapa ponselku dari tadi tak berdering. Tak adakah satupun yang menghubungiku? Apa dia benar-benar tidak menginginkan aku pulang.
Ku raih ponselku yang sedari tadi tak tersentuh di atas meja rias “DAMN,” makiku pelan ketika mendapati Ponselku habis baterai. Ku banting ponselku ke atas tempat tidur.
Pintu kamar terbuka. Terdengar langkah kecil dari sosok yang menggemaskan‑‑‑‑jose.
Dia naik dan duduk di sampingku,dia tersenyum kepadaku. Aku mengangkatnya kepangkuanku. Gak lama sang ibu datang.
“jose sini,jangan ganggu tante.” panggilnya pada anak lelaki satu-satunya
Sementara jose tak bergeming dari pangkuanku.
“tak apa laura,biar aku bermain bersamanya—‑paling tidak aku harus mendekatkan diri dengan jose. Aku-kan nanny-nya sekarang.” ujarku dan kemudian mendaratkan ciumanku di pipi jose
“ya udah,jose jangan nakal ya.” ujarnya mengankat telunjuknya pada jose.
Jose mengangguk dengan senyum yang melebar di wajahnya. Setelah mamanya keluar kamar,ku angkat dia. Kini wajahnya tepat di depan wajahku.
“kita mau main apa?” tanyaku antusias.
Dia masih tertawa dan menjulurkan lidahnya ke hidungku.
“hei,kau mengejekku ya.”
Dia kembali menjulurkan lidahnya dengan senyum licik khas anak-anak.
“kalau kau melakukannya sekali lagi,kau akan tau rasa.” ku tusuk pelan perut bagian kirinya dengan jari telunjukku.
Badannya meliuk ke kiri dan tawa kecilnya terdengar. Tapi dia menjulurkan lidahnya lagi. kini ku tusuk perut bagian kanannya. Tawanya makin renyah terdengar dengan badan yang kembali meliuk kekanan dan menjulurkan lidahnya kembali.
“kau ingin bermain-main ternyata ya.” jari ku kini bermain di pinggang dan perutnya. Jose tertawa begitu lepas sambil badannya yang terus meliuk seperti ular.
Puas bermain,ku lihat dia mulai kelelahan. Ku rebahkan dia di samping tubuhku. Ku bacakan dongeng peterpan yang aku sudah memahami isi ceritanya tanpa perlu melihat bukunya. Aku terus bercerita sampai kami berdua tertidur kelelahan.
Malam pertama meninggalkan Baltimore dan rob. Sebuah awalan baru,memulai hidup tanpa bayang-bayang dan perhatian rob. Membuka lembaran dan memulai sebuah cerita dari awal tanpa rob. Mampukah aku hidup jauh darinya? Mampukah aku melupakannya? Entahlah?
Yang aku tahu pasti,aku ingin menyimpan semua kenangan,cerita lama diriku dengan rob dan menutup serta menguncinya rapat-rapat di sebuah ruang yang tak mampu ku jangkau untuk di buka kembali. Ini jelas menyiksa,tapi setidaknya tawa jose malam ini mampu menghibur dan meredam sedikit rasa sakitnya.